Sumatera 

Akibat Gaya Nge-Boss, Rendemen Buah Sawit Amblas

Akibat Gaya Nge-Boss, Rendemen Buah Sawit Amblas
Ir Netap Ginting (kanan) dan sejumlah petani swadaya anggota APKASINDO Subulussalam menyaksikan pengambilan sampel TBS petani di PKS (Dok.)

Subulussalam, Elaeis.co - DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kota Subulussalam, Provinsi Aceh, berencana merancang ulang program kerja organisasi. Perombakan dilakukan menyikapi perkembangan terkini yang terjadi di tengah anggota.

Ketua APKASINDO Subulussalam Ir Netap Ginting mengatakan, problem petani sawit saat ini bukan hanya berasal dari faktor eksternal, namun juga internal.

"Yang saya maksud faktor internal itu soal mental. Sok jadi bos walau luas kebun sawitnya cuma dua atau tiga hektar," katanya kepada Elaeis.co.

Sikap nge-boss itu membuat petani sawit boros secara finansial. 

"Maksud saya nge-boss itu, lahan sawit cuma dua hektar, tapi semua dikerjakan oleh orang upahan. Contoh, memupuk saja pun dikerjakan orang upahan, belum lagi perawatan lainnya," bebernya. 

Akibatnya, katanya, petani sawit susah mengendalikan keuangannya. Ujung-ujungnya, panen buah dipercepat agar petani bisa dapat uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Kami di APKASINDO Subulussalam tahu akan hal ini karena berawal dari informasi bagian sortasi dari sejumlah pabrik kelapa sawit atau PKS. Mereka kecewa karena banyak rendemen buah sawit petani hanya sekitar 18%," ungkapnya.

Angka itu jelas jauh dari kualitas rendemen yang ditetapkan pemerintah untuk buah sawit usia tanam 10-20 tahun, yakni 22%.

Setelah ditelisik, terungkap kalau buah yang dijual ke PKS adalah buah yang belum matang penuh tapi dipaksa panen oleh petani.

"Kenapa dipaksa panen? Ya karena itu tadi, petani butuh duit cepat untuk kebutuhannya," tandasnya.

"Ini jadi PR bagi APKASINDO untuk membuat program pendampingan petani agar bisa mengontrol keuangannya, termasuk agar mengerjakan sendiri kebunnya demi mendapatkan kualitas buah yang baik," tutupnya.

Editor: Rizal