Zaky juga memastikan bahwa saat ini hasil kebun yang didapat oleh koperasi lebih baik dibanding saat kerja sama dengan PT KTU selama 10 tahun. 

"Sekarang ini berapa hasil kebun, segitu lah masuk uangnya ke koperasi. Kalau dulu kan tidak, bulat saja Rp150 juta per bulan. Berapa ton yang didapat dari 298 ha itu, tetap saja masuk ke koperasi Rp150 juta per bulan," terangnya. 

Zaky juga memastikan tidak ada muatan politik atas penunjukan Ariadi. Namun saat disinggung informasi terkait kerja sama ini terkesan tertutup, Zaky mengakuinya. 

"Tidak ada kaitan dengan kedekatan dalam penunjukan ini. Pak Ariadi yang mengajukan kerja sama. Bukan kita. Terkait politik-politik, saya tak ikut campur," kata Zaky. 

"Karena dia yang menawarkan, dan tak ada orang lain juga, tentu dia yang digaji. Memang tak ada kita umumkan soal ini. Namun perlu diketahui bahwa penunjukannya secara tertulis. Dia datang ke kami lewat ketua Nizam. Pokoknya tak ada relasi kekuasaan dalam penunjukan ini," pungkasnya.