Sumatera 

Apkasindo: Sudah Saatnya Petani Punya Pabrik Sendiri

Apkasindo: Sudah Saatnya Petani Punya Pabrik Sendiri
Ilustrasi sawit/Reuters

Sumatera Barat, Elaeis.co - Jika melihat luasan kebun kelapa sawit yang dikelola oleh petani saat ini, sudah selayaknya petani memiliki pabrik kelapa sawit (PKS) sendiri.

Dari total luas kebun kelapa sawit di Indonesia, 42 persennya dikelola oleh petani. Sisanya, dikelola oleh pihak swasta dan negara (BUMN).

Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung menilai, di era saat ini sawit merupakan hal yang sangat seksi bagi semua orang. Keseksian itu salah satunya terlihat dari presentase kebun kelapa sawit yang dikelola oleh petani. 

"Andai kata tadi kebun sawit di Indonesia dominan dikelola oleh korporasi, sudah lain ceritanya. Sudah kurang seksi," kata Gulat saat Wabinar dan Kickoff: Kegiatan Kemitraan Inkubasi Bisnis Berbahan Dasar Sawit untuk Peningkatan Pendapatan UMKM Sawit Pasaman Barat, Rabu (13/10).

Karena dominan punya petani, Gulat mendorong agar petani memiliki pabrik kelapa sawit sendiri. Menurutnya, itu merupakan hal yang wajar. 

"Punya PKS mini, bukan kayak membangun pesawat. Jadi punya pabrik sendiri itu sudah biasa lah. Bukan wah kali itu," kata dia.

Sebagai contoh kata dia, di Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatra Barat, petani Apkasindo yang sudah melakukan replanting, membentuk holding koperasi yang akan mendirikan PKS berkapasitas 30 ton per jam.

"Jadi, mereka mengumpulkan petani-petani PSR untuk ikut dalam sarpras BPDPKS ini. Sumatera Barat lah yang mengajukan pertama sarpras BPDPKS (PKS) tersebut," kata dia.

"Papua Barat juga sudah mengajukan ke Dirjen dan BPBDPKS. Riau juga begitu, sudah mengajukannya," tambahnya.

Gulat mengatakan, tujuan dibikinnya pabrik ini bukan untuk bersaing dengan GAPKI dalam mengeskpor CPO. Namun hanya ingin bertujuan menjadi rantai pasok kilang biodiesel.

"Kami tidak mau bersaing dengan abang-abang kami di GAPKI untuk sok-sokan mengekspor CPO. Tujuan kami hanya ingin menjadi rantai pasok kilang biodiesel yang ada di Sumsel, Riau dan Pulau Jawa," kata dia.

"Kilang biodesel membutuhkan CPO yang tidak sedikit. Selama ini, bahan bakunya dari korporasi. Jadi, hanya mengkayakan korporasi saja itu. Pada intinya, kami juga ingi masuk ke lini itu," pungkasnya.

Editor: sahril ramadana