Iptek 

Begini Kelebihan Bahan Bakar Pesawat Berbahan Minyak Sawit

Begini Kelebihan Bahan Bakar Pesawat Berbahan Minyak Sawit
Pesawat CN235 FTB milik PT Dirgantara Indonesia saat diisi dengan bioavtur J2.4 untuk uji coba darat atau ground test (Dok. PTDI)

Jakarta, Elaeis.co - Uji bioavtur buatan Indonesia di penerbangan menggunakan pesawat CN235-220 FTB, pesawat uji milik PT Dirgantara Indonesia (DI), diklaim berjalan mulus. Mesin pesawat bisa menerima avtur yang dicampur 2,4 persen minyak sawit.

“Kelebihan bahan bakar cair dari nabati, kita tidak perlu infrastruktur baru dan mengubah mesin,” kata dosen dan periset dari Laboratorium Motor Bakar dan Sistem Propulsi di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Institut Teknologi Bandung (ITB), Iman Kartolaksono Reksowardojo, dikutip Tempo.co.

Iman menjelaskan, konversi atau perubahan sumber energi pada moda transportasi biasanya menimbulkan rekayasa baru atau penambahan infrastruktur. Dia mencontohkan pada konversi energi baru seperti gas dan listrik pada mobil yang selama ini mengandalkan bahan bakar minyak dari fosil.

Konsepnya, kata Iman, setiap mesin moda transportasi dirancang untuk bahan bakar tertentu. Jika ada ketidaksesuaian, mesin harus diubah atau dibuat baru, atau energi barunya disesuaikan dengan rancangan mesin atau bahan bakar sebelumnya.

“Mesti dilihat karakternya, kimia atau fisik energi barunya sama atau tidak, kemudian diuji,” jelasnya.

Pada energi baru dari tanaman seperti bioavtur untuk pesawat terbang, Iman menerangkan, rekayasa dilakukan pada minyak hasil olahan sawit atau Refined, Bleached, and Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO). Karena pesawat terbang berisiko tinggi, RBDPKO itu harus diolah agar sama persis sifat, unsur kimia, dan bentuk fisiknya seperti avtur yang dari fosil atau Jet-A1.

Unsur karbon minyak dari sawit dengan avtur, menurut dia, cocok dengan mesin pesawat terbang. Prosesnya menjadi bioenergi seperti membuang kandungan oksigen di minyak sawit.

Kepala Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis ITB, Subagjo, menambahkan, bioavtur J2.4 diproduksi unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT) di kilang Pertamina RU IV Cilacap. Produksinya dilakukan dengan co-processing, yaitu dengan mengolah bersama RBDPKO dengan fraksi kerosin.

Campuran itu diumpankan ke dalam reaktor TDHT yang didalamnya terisi katalis hasil pengembangan bersama tim riset teknologi dan inovasi Pertamina dengan Pusat Rekayasa Katalisis ITB.

“Di dalam reaktor TDHT ini katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi penyingkiran oksigen dari minyak nabati hingga menghasilkan biokerosin,” ungkapnya.

Dengan hasil pengolahan itu, kata Iman lagi, mesin pengguna bioavtur tidak perlu perawatan khusus melainkan diperiksa berkala seperti biasanya.

Sementara ini, bioavtur buatan Indonesia baru diuji terbang oleh pesawat CN235-220 milik PTDI yang tergolong wahana militer. Jika untuk konsumsi maskapai penerbangan sipil, maka perlu diuji lagi.

“Nanti otoritasnya beda lagi, prosedurnya ketat juga,” katanya.

Tujuan pengujian bioavtur pada pesawat adalah untuk meyakinkan konsumen. Walaupun sebenarnya, kata Iman, bioavtur bukan isu lagi karena pesawat maskapai luar negeri telah memakainya.


 

Editor: Rizal