Internasional 

Boikot Minyak Sawit Dinilai Bukan Solusi Melawan Deforestasi

Boikot Minyak Sawit Dinilai Bukan Solusi Melawan Deforestasi
Inggris Raya menjadi tuan rumah COP26 pada November mendatang (Dok. COP26)

Jakarta, Elaeis.co - Inggris Raya akan menjadi tuan rumah acara iklim international COP26 pada 1 November mendatang. Berbagai topik akan dibahas, seperti deforestasi hingga minyak nabati yang ramah lingkungan atau berkelanjutan.

Beberapa bulan sebelum COP26 digelar di Kota Glasgow, Kedutaan Besar Inggris di Indonesia sudah lebih dulu menyorot isu deforestasi di Indonesia. Isu tersebut dikaitkan dengan penanaman kelapa sawit yang dianggap sebagai pendorong utama deforestasi di hutan-hutan dunia.

Hanya saja, boikot dinilai bukan solusi yang baik untuk membendung deforestasi. Sebab sawit dinilai sebagai tanaman yang efisien dan berguna bagi banyak produk. Hanya saja, ekspansi ilegal untuk perluasan lahan sawit tetap dianggap memberikan ancaman besar bagi hutan.

“Seringkali yang menjadi permasalahan adalah ketika lahan yang dipakai untuk kegiatan produksi komoditas, seperti kelapa sawit, pohon-pohonnya ditebangi secara ilegal,” tulis Kedubes Inggris dalam keterangan resmi usai acara Dialog Forest, Agriculture and Commodity Trade (FACT), dikutip Liputan6.com.

Karena tidak menyarankan boikot minyak sawit, maka solusi yang baik adalah agar konsumen memastikan segala jenis minyak nabati diproduksi dengan cara yang ramah lingkungan.

“Memboikot minyak sawit bukanlah jawaban, tetapi jawabannya adalah bertindak agar memastikan semua minyak nabati diproduksi secara berkelanjutan.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Alue Dohong, menyebut, Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah deforestasi sembari memastikan sektor komoditas terus operasional.

“Berbagai kebijakan telah dilakukan dan telah diwujudkan pencapaiannya. Termasuk moratorium perizinan baru dan membangun sistem memverifikasi legalitas dan produksi kayu secara berkelanjutan,” jelasnya.

Ia pun berharap acara dialog FACT dan COP26 bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kerja sama global terkait iklim.

“Sangat penting membangun kemitraan sejati dengan para pemangku kepentingan global, seperti melalui FACT Global communications. Semakin kita mendekati penyelenggaraan COP26, penting bagi kita untuk terus membangun momentum dan bertindak secara bersama-sama,” ujarnya.

Sementara itu Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins, mengapresiasi tindakan Indonesia sejauh ini, dan mendukung agar Indonesia terus mengambil tindakan untuk revitalisasi lingkungan.

“Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah berhasil menurunkan tingkat deforestasi, menghutankan lahan kembali seluas 835.000 hektar, dan berencana untuk menghijaukan kembali area mangrove seluas 630.000 hektar yang mana pada tahun ini telah dilakukan pada areal seluas  80.000 hektar,” bebernya. 

“Sebagai salah satu negara produsen komoditas terbesar dunia, upaya ini mendukung baik perdagangan yang penting dan aspirasi pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya.

Inggris Raya akan menjadi tuan rumah acara iklim international COP26 pada 1 November mendatang. Berbagai topik akan dibahas, seperti deforestasi hingga minyak nabati yang ramah lingkungan atau berkelanjutan.

Beberapa bulan sebelum COP26 digelar di Kota Glasgow, Kedutaan Besar Inggris di Indonesia sudah lebih dulu menyorot isu deforestasi di Indonesia. Isu tersebut dikaitkan dengan penanaman kelapa sawit yang dianggap sebagai pendorong utama deforestasi di hutan-hutan dunia.

Hanya saja, boikot dinilai bukan solusi yang baik untuk membendung deforestasi. Sebab sawit dinilai sebagai tanaman yang efisien dan berguna bagi banyak produk. Hanya saja, ekspansi ilegal untuk perluasan lahan sawit tetap dianggap memberikan ancaman besar bagi hutan.

“Seringkali yang menjadi permasalahan adalah ketika lahan yang dipakai untuk kegiatan produksi komoditas, seperti kelapa sawit, pohon-pohonnya ditebangi secara ilegal,” tulis Kedubes Inggris dalam keterangan resmi usai acara Dialog Forest, Agriculture and Commodity Trade (FACT), dikutip Liputan6.com.

Karena tidak menyarankan boikot minyak sawit, maka solusi yang baik adalah agar konsumen memastikan segala jenis minyak nabati diproduksi dengan cara yang ramah lingkungan.

“Memboikot minyak sawit bukanlah jawaban, tetapi jawabannya adalah bertindak agar memastikan semua minyak nabati diproduksi secara berkelanjutan.”

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Alue Dohong, menyebut, Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah deforestasi sembari memastikan sektor komoditas terus operasional.

“Berbagai kebijakan telah dilakukan dan telah diwujudkan pencapaiannya. Termasuk moratorium perizinan baru dan membangun sistem memverifikasi legalitas dan produksi kayu secara berkelanjutan,” jelasnya.

Ia pun berharap acara dialog FACT dan COP26 bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kerja sama global terkait iklim.

“Sangat penting membangun kemitraan sejati dengan para pemangku kepentingan global, seperti melalui FACT Global communications. Semakin kita mendekati penyelenggaraan COP26, penting bagi kita untuk terus membangun momentum dan bertindak secara bersama-sama,” ujarnya.

Sementara itu Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins, mengapresiasi tindakan Indonesia sejauh ini, dan mendukung agar Indonesia terus mengambil tindakan untuk revitalisasi lingkungan.

“Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah berhasil menurunkan tingkat deforestasi, menghutankan lahan kembali seluas 835.000 hektar, dan berencana untuk menghijaukan kembali area mangrove seluas 630.000 hektar yang mana pada tahun ini telah dilakukan pada areal seluas  80.000 hektar,” bebernya. 

“Sebagai salah satu negara produsen komoditas terbesar dunia, upaya ini mendukung baik perdagangan yang penting dan aspirasi pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya.

Editor: Rizal