Siku Kata 

Bumi, Duh Inang...

Bumi, Duh Inang...
ilustrasi bumi. foto: besthdwallpaper

Tuhan bercanda bulan kala siang; jadi gerhana. Matahari tersipu. Pun sebaliknya, gerhana bulan kala malam. Sebuah teater kosmis serba maha. Tak lama, dalam hitungan menit suguhan itu pun berlalu. 

Candaan, gurauan itu sejatinya dalam pandangan tasawuf adalah bagian dari tajalli (emanasi) Tuhan sekaligus cermin Tuhan tentang diri Nya. 

Kita menyaksi teater kosmis (gerhana) itu dari mana? Ya, dari bumi. Dan, dari bumi pula kita menyibak serangkaian “penjelmaan (tajalli) Tuhan dalam bentuk nan ragam; sebenarnya bayang-bayang. 

Bayang-bayang menjelma, ketika dia jatuh di atas bidang ruang. Tanpa ruang, bayang-bayang tiada. Bayang-bayang setia dengan wujudnya yang legam, tak berwarna. Pohon rimbun berdaun hijau, ketika dia menjadi bayang-bayang, warna hijau sirna. Legam menjelma. 

Manusia yang mengena busana warna-warni, tetap memiliki bayang-bayang yang legam, nir-warna. Bayang-bayang itu jatuh di atas ruang bernama bumi.

Baca juga: Kebun, Imaji Suci

Tuhan menggurau bulan, matahari pun gerhana. Semua persaksian langka itu, tak bisa diteroka dari langit, namun amat jelas dan romantik ditatap dari bumi.

Mulla Shadra menanggam umpama, bumi adalah ibu, bunda, inang, pertiwi yang menghibah kasih sayang yang luar biasa kepada manusia, melebihi kasih ibu dari jenis manusia. Dari bumilah lahir bapak-bapak dan ibu-ibu manusia. 

Malaikat bukan penghuni bumi, mereka penghuni (di) langit. Sesekali turun ke bumi membawa misi langit yang tenang, langit yang damai, langit yang monoton, kaku dan serba patuh. 

Langit adalah medan patuh, domain supra-human, negeri cahaya, ranah dzikir, ranah doa dan munajat yang menderu tanpa jeda.

Ibn Arabi bersuling: “bumi adalah makhluk yang diciptakan dari ‘kemurkaan yang murni’. Bumi adalah alam bawah. 

Secara menyeluruh alam bawah adalah entitas yang diwujudkan dari “kemurkaan murni”. Di sini bumi merupakan ‘penampakan’ (tajalli) sifat al-jalal (gagah, brave; tampan). '

Bandingannya adalah alam atas, termasuk langit, merupakan entitas yang muncul dari rahmat atau belas kasih murni dan tulus. Di sini “alam atas” merupakan penampakan sifat al-jamal (juwita, menawan). 

Lalu, muncul perdebatan mengenai keutaman langit dan bumi. Ada yang menyebut bahwa yang utama itu adalah langit. Bumi itu tak lebih dari pusat gaduh, gudang kecoh, auditorium mabuk. 

Sebaliknya langit adalah “negeri tata”; lokus peribadatan para malaikat secara khaffah (total), tanpa secuil kemaksiatan. 

Tuhan selalu mendahului firman-firman-Nya dengan menyunting kalimat ‘langit’ yang diikuti kalimat ‘bumi’; Demi bintang, yang kemudian diikuti demi gunung-gunung. 

Jika dibungkus dalam model variat, maka langit adalah "variabel” mempengaruhi, sementara bumi adalah “variabel” dipengaruhi (variabel bebas dan variabel terikat). 

Pun, kemuliaan menyeruak pada entitas mempengaruhi, berbanding entitas dipengaruhi. Bumi sebagai variabel, memiliki indikator utama bernama tanah; di atas tanah pelbagai kotoran, ludah, ingus, dahak, najis manusia dan hewan, kencing, nanah, sampah-sarap, limbah, kapar dan segala bengkalai hingga pertumpahan darah sebuah perang, peristiwa sadistis antara manusia dan atau pun hewan, berserak. 

Di atas tanah pula terjadi perselingkuhan birahi, penyemburan sperma, kemaksiatan, ketamakan, haloba, kerakusan dan mabuk kuasa. Sila deretkan lagi senarai ini. Seakan tiada yang mulia dari bumi.

Mulla Shadra menukil indah tentang kenyataan bumi bagi manusia. Dia laksana ibu yang menyusui dan memberi makan seluruh manusia.

Mengatasi fungsi ibu: “dia malah melebihi kasih sayang ibu kepada kita. Ibu menyayangi hanya dengan menyusui, sementara bumi menyuapimu dengan segala jenis makanan dan minuman”. 

Perbandingan kalender manusia dalam kandungan ibu hanya sembilan bulan. Namun kita berada di atas bumi bisa mencapai usia 90 tahun, jauh lebih lama. 

Dalam kandungan, manusia tak kenal haus dan dahaga, namun masa inapnya amat sejenak. Manusia keluar dari kandungan ibu didahului dengan keluarnya kepala ke muka bumi. Hal ini menyiratkan dimensi kepasrahan kepada Tuhan.

Mulla Shadra menganalogi bahwa bumi sebagai “al-umm al-kubra” (induk agung), sedangkan ibu-perempuan sebagai “al-umm al-sughra” (induk comel). 

Di atas bumi pula, Tuhan mengguyur berkah lewat para nabi, memberi suluh bijak bestari, tempat segala bahtera berlabuh di teluk nan teduh, tempat rumah Allah pertama kali dibangun (Ka’bah), tempat Tuhan menumbuhkan segala jenis tumbuhan dan segala keberkahan bagi manusia. 

Bumi adalah kado utama bagi manusia. Kosmos semesta ini laksana bingkai ragawi, namun nyawa dan ruh atau jantung dari rangka ragawi kosmos itu adalah manusia. Tanpa manusia, ragawi kosmos itu tak lebih dari bangkai (necro)

Ibn Arabi mengisytiharkan ihwal bumi bagi manusia: “Sesiapa yang menguasai bumi, niscaya dia akan menguasai langit, api, air dan udara. 

Barang siapa yang menguasai langit, tidak serta-merta menguasai bumi. Para malaikat memuatkan diri di atas bumi. Sementara langit tidak memuat setan dan dunia-dunia fisik”. 

Kita dititip oleh Tuhan untuk menjadi penghuni bumi, demi memposisikan fungsi jantung, ruh bagi alam 
semesta.

Segala hewan dan tanaman, berhubungan dengan manusia tidak dalam hubungan kependetaan (searah); tapi menempuh jalur dialogis. 

Di sini manusia berfungsi selaku penjaga dan perawat “tugas penciptaan” ke atas hewan dan tumbuhan. Manusia diberi hak “merekayasa” secara genetik dan biologis terhadap segala tanaman dan hewan demi memuaikan warna dan rona muka bumi, memperkaya rima dan ritma bumi. 

Dengan begitu, bumi riuh rendah oleh bebunyian, nada yang bersahut-sahutan, bukan saja bersumber dari suara atau bebunyi manusia, tetapi berasal dari segala makhluk yang berdialog secara interaktif dengan manusia dalam fungsi “ruh” atau “jantung”-nya 
kosmos semesta itu. 

Tuhan bergurau dengan makhluknya, termasuk bulan, dengan tujuan agar kita memuliakan bumi yang tak datar. 

Sebuah medan yang bergolak dan bergelombang. Sehingga suguhan teater kosmis dalam maujud gerhana bulan beberapa hari lalu, menjadi satu retas pemahaman kita tentang “penampakan” alam bawah (bumi) dan alam atas (langit). Dua alam dalam nukilan kemuliaan mutlak.


 

Editor: Abdul Aziz