Nusantara 

BUMN Pupuk Untung Triliunan, Petaninya Balek Gak Balek

BUMN Pupuk Untung Triliunan, Petaninya Balek Gak Balek
Ketua Umum DPP Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) (Dok. pribadi)

Pekanbaru, Elaeis.co - Beberapa bulan terakhir telefon genggam Tolen Ketaren lebih berisik dari biasanya. Dari pagi sampai malam masuk ribuan pesan singkat.

Tolen adalah Ketua Umum DPP Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE). Jadi, bisa dimaklumi kalau dia menjadi tujuan curhat ribuan petani sawit dari seluruh Indonesia.

“Isi pesannya seragam. Mengeluhkan naiknya harga pupuk yang gila-gilaan, tak terkendali,” katanya kepada Elaeis.co, Rabu (13/10/2021).

“Saya sendiri sebenarnya juga susah gara-gara harga pupuk nonsubsidi. Sudahlah pupuk mahal, eh malah susah pula didapat. Banyak teman-teman anggota SAMADE di berbagai daerah di Indonesia pun merasakan hal yang sama,” tambahnya.

Menurutnya, pupuk yang saat ini langka adalah NPK Pelangi dan Urea Pupuk Daun. “Saya bingung juga ditanya kenapa bisa langka,” tukasnya.

Anehnya, di saat petani kelimpungan dibikin pupuk, salah satu perusahaan milik holding BUMN Pupuk Indonesia mengumumkan sudah membukukan laba lebih dari Rp 4 triliun sepanjang tahun ini.

“Mendidih darah saya membaca klaim keberhasilan itu di sebuah media ekonomi nasional. Tahun lalu pun mereka klaim untung juga. Mereka yang untung, kami para petani sawit yang buntung. Harga TBS naik, harga pupuk nonsubsidi pun mereka genjot naik,” ucapnya berapi-api.

Berdasarkan informasi yang ia himpun dari berbagai cabang SAMADE, harga pupuk yang sangat dibutuhkan para petani untuk merawat kebun sawit sudah di atas Rp 400.000-an per sak.

“Orang di luar bisnis sawit pasti mengira para petani sawit sudah kaya-raya karena harga TBS naik terus. Padahal mereka enggak tahu, setiap harga TBS naik, harga pupuk pun naik gila-gilaan. Bahkan stoknya nyaris hilang, susah mencarinya,” imbuhnya.

Tolen sebenarnya juga mengkritik perusahaan pupuk swasta. “Tapi perusahaan swasta tak punya kewajiban sosial apa pun terhadap para petani. Beda dengan BUMN pupuk yang seharusnya mau mendengarkan keluhan para petani sawit,” kritiknya.

Dia juga mengkritik pemerintah yang selalu menganjurkan petani sawit menyisihkan keuntungan penjualan TBS untuk merawat kebun masing-masing, namun seolah tak peduli saat petani terkecik oleh harga pupuk.

“Di satu sisi perhatiannya luar biasa. Ada institusi yang memperhatikan petani, dibantu replanting melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), dibimbing praktik pertanian yang baik atau good agriculture practice (GAP). Tapi yang mengawasi pupuk entah ke mana. Kami dibiarkan sendirian menghadapi pihak-pihak tertentu yang membuat pupuk makin mahal dan langka. Saya tak habis pikir melihat institusi pemerintah nyaris tanpa koordinasi dalam persoalan pupuk ini,” tandasnya.

“Kalau orang Medan bilang, yang kami alami ini ‘balek gak balek’. Dikira orang kami petani sawit untung banyak dari naiknya harga TBS. Padahal nyatanya hasilnya hanya semu dan sementara, habis tuh pindah ke juragan dan produsen pupuk. Maunya BUMN pupuk ini punya hatilah sikit sama kami. Bolehkanlah kami menikmati kemenangan kecil ini,” pungkasnya.


 

Editor: Rizal