Lingkungan 

Cerita Ekspedisi Seroja di Waingapu

Cerita Ekspedisi Seroja di Waingapu
Para bocah nampak ceria bermain dengan relawan dan tim Ekspedisi Seroja. Foto: dok Univ Pertamina

Waingapu, elaeis.co - Bocah 8 tahun itu mulai kelihatan ceria setelah beberapa hari belakangan dia bersama sekitar 120 anak-anak berumur 5-8 tahun lain, asyik bermain bola, bernyanyi dengan alat musik, permainan kelompok, individu, hingga lucu-lucuan dengan para relawan Ekspedisi Seroja. 

Ekspedisi kemanusiaan yang dijejali oleh tim dari Universitas Pertamina, Pertamina Foundation, Hope Indonesia dan Yayasan Dian Sastrowardoyo. 

Tim ini sengaja memilih Kampung Ranu, Kelurahan Mauliru, Waingapu, Sumba Timur lantaran kampung ini berada di hilir sungai dan paling terdampak banjir bandang dan badai yang terjadi pekan lalu. 

Tak hanya menikmati permainan, Maikal dan kawan-kawannya juga kebagian paket makanan kecil dari tim ekspedisi itu. Menengok keceriaan mereka, para orang tua pun akhirnya ikut nimbrung. 

"Selain menyalurkan bantuan pangan dan obat-obatan untuk warga, kami juga melakukan kegiatan trauma healing kepada anak-anak yang jadi korban bencana itu," cerita Roby Hervindo, Sekretaris Universitas Pertamina saat berada di Waingapu, dalam siaran pers yang diterima elaeis.co dua hari lalu. 

Relawan bencana dari Sanggar Katalaha Hamolingu dan Gereja Kristen Sumba (GKS) Sumamapu, Rambu Esti Praing, pun ikut sumringah menengok perubahaan anak-anak itu.  

"Pasca bencana banjir dan badai, anak-anak ketakutan dan selalu cemas. Kebanyakan memilih di rumah saja, berdekatan dengan orang tua. Padahal sebelum paskah, anak-anak sering bermain bersama," katanya. 

Ekspedisi Seroja ini nampaknya tidak langsung berakhir, sebab mereka berencana akan melanjutkan trauma healing kepada anak-anak korban bencana lainnya. 

Mereka bakal dibantu oleh sekitar 30 pemuda-pemudi di posko relawan, yang aktif membantu penggalangan dan penyaluran bantuan kepada masyarakat.

Menurut Roby, apa yang mereka lakukan bertujuan untuk mempercepat pemulihan dan menurunkan resiko anak mengalami permasalahan yang lebih berat di masa yang akan datang. 

Tujuan lain dari dukungan psikososial itu kata dia juga meningkatkan resiliensi masing-masing anak untuk dapat menghadapi situasi bencana saat ini dan masa depan.

Curah hujan tinggi dan badai siklon Seroja pada 6 April lalu memporakporandakan Sumba Timur. Akibatnya, sepekan kemudian layanan listrik dan telekomunikasi di beberapa wilayah di sana masih lumpuh. 

Sebagian warga pun masih tinggal di pengungsian lantaran rumah mereka hancur diterjang banjir. Menengok keadaan itu, Bupati Sumba Timur Khristofel A. Praing menetapkan wilayahnya dalam status darurat bencana alam hingga besok. 



 

Editor: Abdul Aziz