Palembang, elaeis.co - Di tengah menguatnya harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global dan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menembus Rp18.000, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani justru mengalami penurunan di sejumlah daerah. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan sekaligus keresahan di kalangan petani sawit.

Dari pengamatan Rudi Arpian salah satu Pengurus Apkasindo Sumsel, secara teori, kenaikan harga CPO dan penguatan dolar seharusnya memberikan dampak positif terhadap harga TBS yang diterima petani. Namun fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. 

Fenomena ini mendorong pemerintah untuk melakukan langkah pengawasan lebih intensif terhadap tata niaga sawit nasional. Sebelumnya menteri pertanian, mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 270 hingga 300 perusahaan sawit yang diduga belum menyesuaikan harga pembelian TBS sesuai dengan kondisi pasar yang sebenarnya. Data perusahaan - perusahaan tersebut telah diserahkan kepada  untuk ditindaklanjuti.

Satgas pangan polri juga menyampaikan adanya indikasi praktik kartel atau persekongkolan harga yang berpotensi menyebabkan harga TBS petani tetap rendah meskipun harga CPO dunia mengalami kenaikan. Dugaan tersebut kini tengah didalami bersama  baik di tingkat pusat maupun daerah.

"Apabila dugaan tersebut terbukti, maka persoalan ini tidak hanya menyangkut mekanisme bisnis semata, tetapi juga menyentuh aspek keadilan ekonomi bagi jutaan petani sawit yang menggantungkan kehidupan mereka pada sektor perkebunan kelapa sawit," ujarnya kepada elaeis.co, Selasa (9/6).

Menurutnya, industri sawit merupakan salah satu sektor strategis nasional yang melibatkan sekitar 15 juta petani dan anggota keluarga. Setiap perubahan harga TBS secara langsung berdampak terhadap pendapatan rumah tangga petani, aktivitas ekonomi pedesaan, serta daya beli masyarakat.

Selain itu, komoditas sawit masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Nilai ekspor sawit dan produk turunannya sepanjang tahun 2025 tercatat mencapai puluhan miliar dolar Amerika Serikat dan tetap menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.

" Untuk itu petani perlu terus mengawasi perkembangan harga TBS di daerah masing-masing. Kemudian juga menjaga kualitas buah agar tidak menjadi alasan pemotongan harga. Selanjutnya melaporkan praktik pembelian yang dianggap tidak wajar, serta memperkuat kelembagaan petani melalui kelompok tani, koperasi, maupun organisasi petani," tuturnya 

Kata Rudi, sudah tentu petani berharap terciptanya mekanisme pasar yang sehat dan transparan sehingga keuntungan dari industri sawit dapat dinikmati secara adil oleh seluruh pelaku usaha, termasuk petani sebagai ujung tombak produksi kelapa sawit nasional.