Feature 

Dulu Pemburu Minyak Bumi, Sekarang Petani Sawit

  • Reporter Aziz
  • 13 Oktober 2021
Dulu Pemburu Minyak Bumi, Sekarang Petani Sawit
Denny saat bersama anak-anaknya di ladang sawit miliknya. foto: dok. pribadi

Denny Gultom meninggalkan semua fasilitas dan gaji besar di Schlumberger dan menjadi petani sawit. 

Lelaki 45 tahun itu menarik nafas panjang saat menengok tegakan pohon kelapa sawit yang tumbuh subur di Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim), akhir pekan lalu.

Kebun berjarak tanam setahun tiap lima hektar, yang telah menggelontorkan duit ke koceknya dari 1,5 ton hasil panen per hektar. 

Dua anak gadisnya; Ogin dan Ona serta satu jagoannya; Oas yang ikut bersamanya, juga nampak sumringah. Belahan jiwanya, Melda, juga begitu.

"Ini sumber hidup kita sekarang, jadi, kita musti serius mengurusinya," setengah berbisik Denny Gultom mengatakan itu kepada si sulung. Yang diomongi, manggut, paham. 

Tak sia-sia insting jebolan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya 1998 ini membeli lahan seluas 30 hektar itu delapan tahun silam. 

Dan tak sia-sia pula engineer di lapangan minyak dan gas bumi ini meninggalkan oilfield service terkemuka di dunia; schlumberger yang sudah memberinya fasilitas dan gaji besar, demi ladang sawit itu. 

"Saya ingin punya waktu lebih banyak bersama anak istri saya, itu makanya saya memilih menjadi petani," katanya saat berbincang dengan elaeis.co di Balipapan, ibukota Kaltim, kemarin malam. 

Semula, istrinya kata Denny kurang setuju dengan pilihannya itu. Bagi Denny, sikap istrinya itu lumrah, terlebih saat itu, gaji yang masuk ke rekeningnya tiap bulan tergolong besar. 

Maklum, setelah tiga tahun jadi Field Engineer di Duri Kabupaten Bengkalis, Riau, karir Denny mulai moncer. 

Dia ditugasi ke kota Tanggu, China, sehabis menjalani pelatihan di Scotlandia. Pelatihan yang telah membikin dia banyak mengenal orang dari berbagai negara dan didapuk menjadi nomor dua terbaik dari 20 peserta lintas negara itu. 

Dari 'Negeri Tirai Bambu' tadi, Denny kembali mendapat promosi untuk bertugas di daratan Uni Emirat Arab, Yemen, Oman hingga 2009.

Dari sana, dia kembali ke Indonesia untuk bekerja di ladang minyak Balikpapan. Tiga tahun di Balikpapan, lagi-lagi dia harus memboyong anak istrinya ke Australia.      

"Tahun 2015, saya memutuskan berhenti bekerja dan kami kembali ke Balikpapan. Kebetulan di Balikpapan kami sudah punya rumah. Lahan kebun tadi, saya beli tahun 2013," cerita Denny.

***

Tak terasa, 16 tahun Denny bergumul dengan dunia pengeboran minyak. Dan selama itu pula dia menghabiskan waktu di enam negara --- baik di pengeboran lepas pantai atau darat (hutan maupun rawa) --- untuk melakukan survey lapangan agar customer mendapatkan lebih banyak minyak bumi.

Berbagai posisi sudah dia duduki, mulai dari Engineer, Sales, Field Service Manager hingga Location Manager --- jabatan terakhir sebelum dia memutuskan untuk keluar dari business ladang minyak itu.

Dan semua ini adalah pergumulan yang musti dia lalu dengan ragam warna dan rasa. Dibilang begitu, lantaran awal-awal bekerja di Duri tadi, batin Denny sempat berontak dan nyaris memilih resign saja. 

Sebab bagi dia, pekerjaan itu tidak mengenal waktu, keseringan harus bangun jam 3 subuh untuk berangkat ke rig yang sedang mengebor di lapangan. 

Alhasil, dia sering kurang tidur. Sudahlah kurang tidur, setelah lima bulan bekerja, dia juga musti melahap isi banyak buku-buku lantaran terpilih untuk ikut pelatihan ke Skotlandia. 

Hanya saja, semua apa yang dia rasa itu, masih kalah oleh semangatnya untuk menjalani pengalaman pertamanya ke luar negeri. Tiga bulan pula nanti di Scotlandia. 

"Waktu itu akan musim dingin, berarti saatnya saya bisa langsung memegang salju, enggak lagi hanya menontonnya di televisi," Denny tertawa. 

Sebetulnya Denny tak ujug-ujug memilih jalan hidup baru sebagai petani. Sebab dari awal bekerja, dia sudah merencanakan itu semua. 

Itulah makanya sedikit demi sedikit gajinya dia simpan untuk membeli lahan di Paser, yang saat itu harganya masih sangat terjangkau. 

Dan untuk mengolah lahan itu menjadi kebun  kelapa sawit, semua berasal dari gaji yang dia tabung itu juga. Biar duit itu cukup, proses tanam dia bikin bertahap. 

Tak mudah bagi dia untuk memulai berladang sawit itu. Infrastruktur jalan harus dia bangun sendiri.

Sebelum jalan ada, dia harus berjalan kaki sejauh empat kilometer dari jalan utama menuju ladang. Itu dia lakukan lantaran saat itu, kondisi jalan masih sangat licin. Saking licinnya, pakai sepeda motor yang sudah dimodifikasipun masih sangat riskan. 

Untunglah urusan tanam menanam, teman-temannya petani, khususnya mereka yang ada di Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), mau berbagi ilmu kepadanya. 

Mulai dari gimana cara memilih bibit unggul, penanaman, pemupukan yang baik hingga pemanenan, dia dapat. 

Dasar lelaki petarung dan kreatif pula, di kebunnya, Denny tak sekadar berladang, dia juga membikin terobosan mengembangkan energi hijau dan energi terbarukan.

Untuk penerangan, dia mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Tak lagi mau memakai genset yang saban 1-2 tahun harus dia ganti lantaran rusak. 

"Dari 2015 saya sudah pakai PLTS. Saya merasa inilah yang cocok untuk daerah yang belum terjangkau PLN. Modal Rp4 jutaan, tahan 4 tahun. Setelahnya paling hanya ganti baterai," katanya.
 
Dengan PLTS itu kata Denny, kebutuhan untuk penerangan, mencas HP dan menghidupkan televisi, sudah aman. "Tadinya cuma saya yang pakai, tapi belakangan, tetangga di sekitar kebun, sudah ikut," katanya.

Kini, Denny sudah menikmati hasil dari sawit yang harganya semakin bagus itu. Waktunya pun sudah sangat banyak bersama keluarga.

Datang ke ladang yang hanya menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam dari Balikpapan itu, Denny lebih sering bersama keluarga. 

"Sekarang kebun sudah menghasilkan dan itu sudah cukuplah untuk membiayai sekolah anak saya. Saya ingin anak saya sekolah hingga keluar negeri, biar wawasannya semakin luas," wajah Denny berbinar. 


catatan: naskah ini hasil tulisan Denny yang sedang menjalani pelatihan Jurnalistik Apkasindo se-Kaltim di Balikpapan. 
 

Editor: Abdul Aziz