Siku Kata 

Dunia, Serambi Alam Sana

  • Reporter Aziz
  • 13 Januari 2022
Dunia, Serambi Alam Sana
ilustrasi. foto: AUsports

Dunia ialah sekolah untuk masuk ke alam kematian. Sebelum kita muncul di dunia ini, kita berada di alam ruh dan melaksanakan sejumlah pelatihan untuk masuk ke alam jasadi dunia. 

Persiapan di alam ruh (masa kandungan ibu) adalah sebuah “tangga sekolah” untuk pematangan kelengkapan segala sesuatu yang diperlukan demi melanjutkan kehidupan di alam dunia ini. 

Lalu, manusia melangsungkan sejumlah latihan dan pemutakhiran potensi untuk masuk ke alam ruh berikutnya (alam kematian). 

Baca juga: Lebah dan Daun

Segala makhluk perlu mati (maut). Tanpa kematian, tiada perluasan kehidupan. Dengan mati, terjadi rumus-rumus baru tentang kehidupan serba tak terduga. 

Kematian adalah selasar yang dilunjurkan untuk persiapan kehidupan lain, yang berikutnya. “Jasad-jasad nan mati tidaklah terbujur tanpa manfaat, Ujar Thabathaba’i. Ia akan memunculkan tetumbuhan atau makhluk hidup baru. Dari selubung yang terpecah itu keluar mutiara bersinar. Pun dari benda dan materi yang sama tercipta selubung baru yang menumbuhkan mutiara yang lain lagi”.

Bayangkan makhluk manusia sezaman nabi Nuh, jika tidak dimatikan, malah akan menambah beban hidup. Kehidupan pun tidak akan berkembang, tidak akan bercabang dalam pengayaan cabang dan reranting.

Tanaman yang menua lalu layu, rebah, mati. Dedaun gugur berjatuhan ke dada bumi, memberi kehidupan baru dalam percabangan yang bergelora dan tak terduga: jumlah dan varitas. 

Hewan-hewan juga harus menjalani kematian demi perluasan kehidupan berikutnya. Pun manusia harus menyelenggara kematian sebagai syarat perluasan kehidupan lanjutan. Tanpa kematian, kehidupan akan terhenti dan melapuk.

Para jauhari “justeru merindukannya. Memandang kematian sebagai keberuntungan bahkan kemenangan” (Thabathaba’i). 

Kematian bukanlah “ketiadaan”. Tapi sebuah perkembangan, perpindahan; musnah dari tingkat yang satu, memulai hidup di tingkat yang lain. Alias, kematian merumuskan dirinya sebagai tahap naik kelas, naik derajat menuju kehidupan lanjut. Kesirnaan dalam domain kematian bersifat relatif. 

Sesungguhnya manusia tak mengalami kematian mutlak, hanya mengalami kehilangan kondisi tertentu untuk beralih ke kondisi lain. 

Dunia pun merumuskan dirinya sebagai sebuah “sekolah” yang mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan alam kematian. 

Dunia menjadi sebuah sekolah untuk masuk ke alam mati. Tanpa kehidupan di dunia, maka kelengkapan ruhani manusia tidak siap menjalani proses “trans-substansi” (harakah jawhariyah), yang memunculkan berjuta dan bahkan bertriliun kehidupan berikut. 

Baca juga: Rawa, Gambut dan God Spot

Dunia ini adalah madrasah tempat manusia mengasah dan menajamkan “mata ruhani”. Dunia juga medan pertembungan antara peristiwa menajam dan menumpul mata ruhani sekaligus. 

Satu sisi, ada ikhtiar penajaman ruhani lewat rerangkai perbuatan yang mendekatkan diri kepada Zat Yang Maha. 

Di sisi lain, manusia mudah tergoda kegiatan “ekstra kurikuler” dunia yang menyuguh kenikmatan material. 

Tarik-menarik dua pesona: material dan immaterial inilah yang menjadi helaan sekolah dunia dengan suguhan kurikulum yang dimamah, dihidu dan dihirup demi menyelesaikan dahaga spiritualis dan kehausan materialis.
 
Usai menjalani fase-fase bersekolah di alam dunia ini, maka manusia menjalani fase alam ruh. Dan untuk sampai ke alamat ruh itu, saluran satu-satunya yang harus ditempuh adalah kematian.

Kematian ialah sebuah keniscayaan, keharusan dan keperluan substansial. 

Andaian sebagai analogi: Seseorang masuk sekolah tertentu. Maka, tidak mungkin selamanya dia bersekolah di sekolah yang sama tanpa tamat-tamat. 

Dia harus melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Maka, dia harus tamat (‘mati’) dan meninggalkan sekolah itu untuk melanjutkan sekolah.

Baca juga: Amazon van Dayun

Begitulah hidup, dia tak lebih dari fase persekolahan yang sampai pada saat dan ketikanya, kita wajib dan diharuskan meninggalkan “sekolah” ini demi melanjutkan sekolah berikutnya di alam ruh.

Maka, berbahagialah mereka yang menyelenggarakan kehidupan ini sebagai sebuah sekolah yang ada batas waktunya. Karena kita memerlukan peningkatan substansi kehidupan berikutnya yang bergerak serba “menuju” dan “menuju”. 


 

Editor: Abdul Aziz