Komoditi 

Harga Sawit Naik Terus, Petani Ingin Tambah Lahan

Harga Sawit Naik Terus, Petani Ingin Tambah Lahan
Petani sawit di Inhu. Elaeis.co

Pekanbaru, Elaeis.co - Sejak awal 2021 lalu harga tandan buah segar (TBS) Riau terus mengalami peningkatan. Meski memang beberapa kali penurunan tipis.

Kondisi ini membuat para petani kelapa sawit di Riau sumringah. Bukan hanya tidak terlalu pusing untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, namun sebagian petani malah ingin memperluas kebun kelapa sawitnya.

Seperti Widia Sukma Prasdian petani sawit yang bertempat tinggal di Kecamatan Kota Lama, Rokan Hulu. Pria yang baru memiliki seorang putri itu saat ini tengah berencana ingin menambah luas kebunnya dengan membeli kebun sawit yang dijual.

"Total luas kebun kita 14 hektar. Rencana cari 7 hektar lagi lah kalau ada," terangnya kepada Elaeis.co Rabu (13/10).

Kendati demikian, hingga saat ini Widi masih kesulitan untuk mencari kebun kelapa sawit yang dijual sesuai dengan seleranya. Sebab, menurut Widi para petani kini tengah menikmati hasil kebun dengan harga yang cukup tinggi dan belum berniat menjual lahannya tersebut.

Cerita kebun sawit miliknya, sekali panen Widi bisa mendapatkan rata-rata 12 ton buah kelapa sawit. Sementara sawit miliknya itu di wilayahnya di harga sebesar Rp2.100.

"Itu kemarin, sekarang belum tau karena data di Disbun kan naik sampai Rp3.000an. Kita bekum cek," ujarnya yang saat ini tengah berada di Pulau Jawa.

Sementara, untuk mempertahankan hasil kebunnya itu Widi selalu rutin melakukan perawatan terhadap tanaman sawit yang dijejalkan di lahan miliknya itu. Salah satunya yakni melakukan pemupukan. Untuk mensiasati harga pupuk yang mahal, Widi kini menggunakan pupuk organik andalannya.

"Kita pupuk 3 bukan sekali. Kita pakai pupuk yang terjangkau namun kualitasnya bagus. Intinya kita sesuaikan dengan manfaatnya. Misalnya untuk meningkatkan produksi, penyubur tanah dan sebagainya," tuturnya.

Bukan hanya itu, untuk menyiasati mahalnya harga pupuk Rai, Widi terpaksa harus melakukan pemupukan secara bertahan di 14 hektar kebunnya itu.

Editor: Sany Panjaitan