Tentang Aku 

Heiii..., Ini Aku, Elaeis!

  • Reporter Aziz
  • 12 November 2021
Heiii..., Ini Aku, Elaeis!
Orang Nigeria sedang memproses brondolan sawitnya. foto: mtfc.crenov8.com

Perkenalkan, namaku kelapa sawit. Dalam bahasa latin aku dipanggil elaeis guineensis. Aku enggak tahu kenapa ada embel-embel guineensis itu di belakang namaku meski sejumlah orang bilang, nama itu melekat lantaran aku berasal dari Teluk Guinea, di Delta Niger.

Jujur, aku tak pernah menyangka kalau aku akan kesohor seperti sekarang. Soalnya sekitar tahun 1800 an, cuma kerajaan Dahomey dan orang-orang Krobo di dekat Accra (ibukota Ghana sekarang) yang coba-coba menanamku.

Belakangan barulah orang-orang di Delta Niger ikut menanam di daerah rawa dan hasilnya jauh lebih banyak ketimbang di Dahomey. 

Lantaran itulah makanya sekitar tahun 1840, Dahomey cuma bisa mengekspor minyakku sekitar 1000 ton per tahun, sementara Niger sudah 13 ribu ton per tahun. Ada dua orang yang mencatat kisahku ini; Manning pada 1982 dan Wilson tahun 1991.

Sebetulnya lebih dari 5000 tahun lalu aku sudah dikonsumsi manusia, meski katanya masih cuma oleh orang-orang di kawasan Barat Daya Afrika, khususnya di antara Angola dan Gambia. 

dan aneh tapi nyata, minyakku sudah sampai ke Mesir lebih dari 3000 tahun lalu. Ini dibuktikan oleh sejumlah arkeolog yang menemukan minyakku di salah satu makam kuno di Abydos --- sebuah kota tua di jaman Mesir kuno --- pada akhir 1800.  

Adalah Kenneth F, Kifle dan Kriemhild Conee Ornelas yang menulis itu dalam buku mereka yang berjudul "World History Of Food"

Di buku yang diadopsi dari tulisan Friedel (1897) itu dibilang bahwa ada beberapa kilogram minyakku ditemukan dalam bejana di makam itu.

Kesimpulan itu tidak ujug-ujug. Tapi oleh analis kimia yang terlebih dahulu mengujinya. Ada asam palmitat dan gliserol dalam minyak di bejana itu, yang jelas-jelas kandunganku. 

Dalam beberapa catatan para pelancong Eropa ke Afrika Barat pada pertengahan abad ke-15, namaku sudah dicatat mereka sebagai bagian dari makanan lokal di sana. 

Minyakku yang berwarna merah malah sudah jadi barang penting dalam perdagangan budak Atlantik, dan menjadi bahan makanan populer di kalangan orang-orang keturunan Afrika di wilayah Bahia, Brasil. 

Northrup yang menulis cerita itu pada 1978, lalu Hartley 1988 serta R. Lago pada 1993.

Revolusi Industri Inggris yang terjadi pada 1760 telah membikin aku makin disukai. Tak hanya untuk makanan, minyakku malah sudah dijadikan lilin dan pelumas mesin.   

Setelah tahun 1900 an, orang-orang Eropa mulai memutuskan untuk berkebun di Afrika Barat dan Barat-Tengah. 

Tapi yang paling awal menanamku dalam konsep perkebunan adalah EJ Mulder, seorang misionaris Katolik Roma. Dia membikin aku dalam bentuk kebun di Gabon pada 1870, tapi tidak begitu berhasil. 

Itulah makanya kalau dikumpul-kumpul hasilku, pada tahun 1930, minyakku yang sudah diperdagangkan baru sekitar 250 ribu ton. 

Cerita ini bukan aku yang bilang, Empire Marketing Board yang menuliskan kisah itu pada 1932: Hartley 1988 dan Lynn setahun kemudian. 

Pada 1967, Lim menulis dan juga Martin pada 1988, bahwa proses hidrogenasi untuk minyak dan lemak ditemukan pada tahun 1902. Dari sinilah cikal bakal aku dijadikan margarin. 

Setelah Perang Dunia II, aku sudah menjadi bagian dari produk makanan orang-orang Barat. Ini terjadi lantaran teknologi penyulingan untukku semakin bagus. 

Akibatnya, minyakku makin dicari, ekspansi perkebunan yang komoditinya aku, semakin kencang. Antara tahun 1962-1982, produksi minyakku sudah melejit dari 500 ribu ton menjadi 2,4 juta ton per tahun.  

Malaysia menjadi produsen terbesar dunia kala itu. Pada tahun 1982, 85% ekspor minyakku berasal dari sana. Lonjakan ini terjadi lantaran pengelolaanku dalam sistim perkebunan, ditangani oleh Otoritas Pengembangan Tanah Federal (FELDA) di sana.

Pada 1991, Mielke juga menulis kalau tahun 1990, produksi minyakku sedunia sudah mencapai 11 juta ton per tahun dan 8,5 juta ton diperdagangkan. 

Masa itu, minyakku yang berwarna merah masih digunakan dalam sup dan hidangan panggang di Afrika Barat. Tapi di Eropa dan Amerika Serikat, aku sudah jadi minyak goreng dan biskuit...


Sampai di sini dulu ya... Berikutnya, aku akan cerita seperti apa ngilernya orang Eropa berkebun sawit dan seperti apa pula William Lever --- yang menjadi cikal bakal Unilever --- mengutak-atik varietas baruku, 'Palm Lisombe' alias Tenera di stasiun penelitian Yangambi di Kongo.

Editor: Abdul Aziz