Sumatera 

Ilmu POC dari Pelatihan Langsung Diterapkan, Begini Membuatnya

Ilmu POC dari Pelatihan Langsung Diterapkan, Begini Membuatnya
Ketua DPW SAMADE Jambi, H Suroso, mempraktekkan cara pembuatan POC untuk diterapkan di kebunnya. Foto: Dok. pribadi

Jambi, elaeis.co - Tidak ada kamus menunda-nunda pekerjaan di dalam diri Suroso, petani sawit swadaya asal Jambi. 

Usai mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) dengan pembimbing Dr H. Isroi dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia beberapa hari lalu, Ketua DPW Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) Provinsi Jambi ini langsung mempraktikkannya.

"Campuran POC pakai urin kambing sebanyak 20 liter, kebetulan saya juga punya beberapa ekor kambing. Kata Pak Isroi, POC-nya bisa pakai urin kelinci, kambing, atau sapi ," kata Suroso kepada Elaeis.co, Selasa (30/11/2021) siang.

Urine itu ia kumpulkan dari 3 ekor kambing selama beberapa waktu. "Kami kumpulkan 40 liter urin kambing, 20 liter dipakai untuk bahan POC ini. Gak kami hitung berapa lama kambingnya kencing," katanya sambil tertawa.

Urin itu lalu dicampur dengan tahi kambing sekitar satu goni dan 60 liter air kelapa, ditambah bawang putih dan merah masing-masing lima kilogram dan sudah diblender. Semua bahan itu selanjutnya dicampur dengan EM4 yang merupakan cairan pembuat fermentasi. 

"Itu nanti diaduk semua dalam satu drum. Dan secara bertahap ditambah air biasa sampai drumnya penuh," kata Suroso.

Seluruh bahan yang sudah dicampur dan diaduk itu harus diendapkan selama dua minggu untuk kemudian disaring sehingga bahan cairan bisa didapat sekitar 150 liter.

Berikutnya, kata dia, 150 liter cairan awal itu ditambahkan pupuk NPK 16:16:16, MKP dan KNO 3, masing-masing 2 kg. Lalu ditambahkan zat mikroba dan zat besi.

Kata Suroso, semua bahan untuk membuat POC tetap membutuhkan sebagian pupuk kimia. Karena tanah juga harus mengandung unsur hara yang hanya bisa dipenuhi oleh pupuk kimia.

"Kemudian semua bahan itu diaduk rata, lalu ditambahkan 50 liter air biasa sehingga total cairannya 200 liter. Yang 200 liter inilah menjadi induk POC-nya," kata Suroso.

Lalu secara bertahap induk POC itu dimasukan ke alat penyemprot dengan perbandingan 1 liter air 10 CC indukan POC. Dengan demikian, jika kapasitas alat penyemprot 120 liter maka indukan POC-nya harus 120 CC.

Seluruh POC yang di dalam alat penyemprot itu disemprotkan ke daun sawit. "200 liter POC itu kira-kira bisa untuk dua hektar kebun sawit, dengan masing-masing per hektarnya ditanami 136 batang sawit," jelasnya.

Suroso punya keinginan praktek perkebunan sawit yang berkelanjutan diterapkan oleh semua anggota SAMADE Jambi. 

"Penggunaan POC secara tak langsung adalah praktik perkebunan sawit yang berkelanjutan dan berarti juga merupakan upaya merawat tanah dan kebun sawit dari penggunaan pupuk kimia yang berlebihan," pungkasnya. 


 

Editor: Rizal