Sejumlah negara potensial importir minyak sawit juga mulai mengurangi ketergantungan akan sawit, dengan beralih ke minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai dan minyak biji bunga matahari.

Yang menarik, beralihnya ke minyak nabati alternatif ini juga sebagai ancang-ancang menghadapi kekhawatiran akan menurunnya pasokan minyak sawit global.

Salah satunya pasokan dari Indonesia yang dikhawatirkan berkurang mengingat minyak sawit akan banyak dialihkan untuk program biodiesel B40, sementara produksi sudah stagnan di kisaran angka 50 juta ton per tahun.

Meningkatnya kekhawatiran mengenai penurunan suplai minyak sawit di pasar global telah mendorong para importir melakukan langkah-langkah antisipasi untuk mencari substitusi.

Prediksi para analis menyebutkan, ketergantungan negara-negara importir terbesar kelapa sawit yang merupakan tujuan utama ekspor Indonesia tahun depan akan sangat berkurang.

Ryan Chen, Direktur China CNF Business, Oils & Oil Seeds pada Cargil Investments (China), yang tampil  kesempatan pertama pada Sesi 3 tersebut, mengatakan ada kecenderungan pasar China beralih dari minyak sawit ke minyak nabati lain.

“Dalam pasar domestik China sekarang ini tersedia pilihan pasokan minyak nabati lain, khususnya minyak kedelai. Apalagi harganya bisa berpotensi lebih murah,” kata Chen, yang tampil bergiliran dengan lima pembicara lainnya.

Mereka adalah B.V. Mehta, (Asosiasi Ekstraktor Pelarut India), Abdul Rasheed Jan Mohammad (Westbury Group), Mohamad Helmy Othman Basha (Malaysian Palm Oil Board), Alvin Tai (Analis Bloomberg), dan Alponsus Inyang (Asosiasi Produsen Kelapa Sawit Nasional Nigeria).

Chen mengatakan, tahun 2024 pemintaan minyak nabati Cina akan stagnan, setelah naik pada tahun 2023. Permintaan minyak sawit China (olein dan stearin) diperkirakan turun sekitar 30% tahun ini karena beberapa faktor, terutama menyangkut harga.

Sementara pangsa minyak sawit terhadap total permintaan minyak nabati diperkirakan menurun ke 12,8% dari sebelumnya 17,5% pada 2023. Impor minyak sawit bisa turun ke 2,3 juta  ton dari sebelumnya 4,2 juta ton pada 2023. Tahun 2025 impor olein akan stagnan di sekitar 2,3 – 2,4 juta ton.

Di pasar India dan Pakistan, permintaan diproyeksikan meningkat, namun ada kekhawatiran terhadap kemungkinan penurunan suplai minyak sawit dari Indonesia, serta kebijakan Pungutan Ekspor yang bisa menaikkan harga.

B.V. Mehta mengatakan permintaan minyak nabati akan terus meningkat, tapi produksi domestik tidak bisa menutupi seluruh  permintaan. Tercatat, kemampuan produksi lokal hanya sekitar 13 juta ton, sedangkan kebutuhan domestik mencapai sekitar 30 juta ton.

“India masih akan tergantung pada impor minyak nabati, namun kebijakan biodiesel di Indonesia telah menimbulkan kekhawatiran di pasar soal suplai sawit,” katanya.

Jika dicermati, kondisi ini bisa berakibat kurang baik bagi ekspor sawit Indonesia. Sebab, bisa saja negara-negara yang beralih ke minyak nabati non sawit itu bakal keterusan mengurangi ketergantungan akan sawit.

Sehingga, ketika produksi minyak sawit Indonesia berhasil ditingkatkan, bisa jadi kurang terserap oleh pasar global.

Untungnya, ada program mandatori biodiesel dengan bauran yang terus ditingkatkan yang akan siap menampungnya.