Dewandaru 

Jadi Rebutan, Sawit Mahal

  • Reporter Aziz
  • 11 November 2021
Jadi Rebutan, Sawit Mahal
Wayan saat berada di sela pohon kelapa sawitnya. foto: tangkapan layar

Empiris...

Sekitar tahun 1995, saya diyakinkan oleh seseorang bahwa masa depan sawit cerah karena dibutuhkan semua umat manusia di atas bumi ini. 

Tetap laku sepanjang masih ada kehidupan karena sawit bisa jadi bahan baku pangan, energi, farmasi dan kosmetik.

Saat itu, sibuk keliling kebun sawit di Riau. Saya domisili di Pematang Siantar Sumatera Utara, demi masa depan orang tua. Mencari peserta transmigrasi yang tidak kerasan. Diganti rugi untuk orang tua saya yang masih merantau di Sulawesi.

Baca juga: Potensi Egois

Saat ini sawit harganya makin tidak logis mahalnya, dampak langsung hilirisasi inovasi. Baru jadi B30 yang menyerap sekitar 10 juta ton CPO per tahun atau setara 20% dari total produksi CPO Indonesia yang mencapai 52 juta ton per tahun, sudah mengguncang dunia harganya.

Sulit dianalisa sejak tahun 2030. Kalau B50 diterapkan, CPO yang diekspor 7,6 juta ton per tahun akan terpakai di dalam negeri. BBM fosil batubara diakhiri. Kebutuhan CPO untuk pangan, kosmetik dan farmasi makin besar linier dengan penambahan jumlah penduduk dunia.

Portofolio resiko pasar pangan dan energi ke depan, antisipasinya harus terencana sejak sekarang. Malaysia yang hanya 5,9 juta hektar bisa menghasilkan 36 juta ton (indeks 6,2 ton per hektar per tahun. 

Indonesia 16,38 juta hektar hanya 52 juta ton (indeks 3,2 ton per hektar per tahun. Beda jauh, inovasi di hulu solusinya.

Jika kita (Indonesia) smart mampu pemerataan inovasi maka bisa 120 juta ton CPO per tahun. Tanpa penambahan luas tanah tetap 16,3 juta hektar. Karena saat ini banyak perusahaan skala blok ratusan hektar produktivitas sudah jauh di atas Malaysia yaitu 7,5 ton CPO per hektar per tahun. Bahkan ada yang 35 ton TBS dengan rendemen 26% setara 9 ton CPO per hektar per tahun. 

Inilah bukti konkret peran investasi pada riset jadi inovasi berguna bagi kemanusiaan. Maka kita harus makin inovatif, tanpa kecuali.

Negara pesat majunya akan dimiliki yang mau investasi pada riset, yang mau mendidik anak bangsanya jadi peneliti, hasilmya dihilirisasikan oleh anak bangsa yang jadi pengusaha inovatif penyerap pengangguran, pembayar pajak besar rutin dan lokomotif perekonomian bangsa.



 

Editor: Abdul Aziz