Siku Kata 

Kebahagiaan Laten: Aduhai Datok

  • Reporter Aziz
  • 15 Oktober 2021
Kebahagiaan Laten: Aduhai Datok
ilustrasi. foto: net

Kebahagiaan itu bersembunyi di balik tanaman, hewan dan batu-batu. Para jelata, orang gedongan menemukannya. 

Cara menyelamatkan kebahagiaan yang tersembunyi itu, bagi komunitas tradisional merawat hutan, memanja sungai dan pangkal gunung. 

Mereka payungkan segala khazanah kebahagiaan tersembunyi ini melalui busana adat, hukum adat dan nilai resam. 

Muncullah kawasan adat, hutan adat dan sederet kelembagaan yang menaunginya demi menjaga dan meniduri kebahagiaan tersembunyi.

Tanaman dilindungi, hewan diburu secukupnya, bebatuan tak dihancurkan. Unit sosial “kawanan” (band) yang masih bersifat nomaden itu memetik kebahagiaan secara “bergerak” (mobile); mereka  memetik  ranumnya kebahagiaan tersembunyi dari pucuk-pucuk daun, akar kekayuan, ranting dan kelopak  bunga. 

Menghidu kebahagiaan tersembunyi dari amis badan hewan yang berlari kencang dalam rimba raya. Mereka menggesek kebahagiaan tersembunyi dari kilauan batu mulia yang bersandar di dinding-dinding gunung, bukit dan geletak di sungai berair deras.

Pesukuan membesar jumlah populasi, kemudian merindukan peneraju yang terkesan turun sebagai titah langit. Inilah era komunitas yang bersumbu pada keperkasaan datuk-datuk (datu@dato). 

Era dengan penanda kekuataan supranatural, keramat yang dipanggul oleh seorang datu dalam memelihara, merawat kebahagiaan yang tersembunyi.
 
Datu agung, dibantu seperangkat pembantu yang tak memiliki keahlian khas, namun dengan keahlian ganda (serba bisa, serba guna), merupakan cikal bakal birokrasi awal (proto-birokrat), demi menjaga dan merawat kebahagiaan tersembunyi yang tersadai di dalam rimba atau terhidang di samudera. 

Demi kemaslahatan, ketenteraman komunitas, kedatuan mengembangkan ideologi dan identitas politik sekaligus bergayut pada nilai religius sehingga posisi dan kedudukan sang datu adalah titisan langit; atas titah Tuhan. 

Datu (Datuk) memiliki kewenangan yang diterima secara umum oleh masyarakat kedatuan, klaim monopoli atas hak untuk menggunakan kekerasan atau kekuatan memaksa, demi mengambil keputusan. 

Kekuasaan ini digunakan untuk merawat kebahagiaan tersembunyi baik yang ada di dalam diri maupun segenap keterwakilannya dalam bentuk-bentuk aneh dan maujud makhluk dunia lainnya.

Para datu dibantu oleh para penggawa (hierarkhi proto-birokrat) untuk mengumpul upeti, mendamaikan segala bentuk perselisihan, melaksanakan tugastugas administratif yang belum begitu komplet. 

Jaret Diamond, sekilas menjelaskan tentang satu dari sekian banyak inovasi yang dilakukan oleh kedatuan dalam bidang ekonomi, disebut ekonomi redistributif. 

Inovasi ini bukan sekedar pertukaran langsung antar individu, namun datu mengumpul upeti berupa makanan dan kerja rodi, yang sebagian besar di antaranya di-redistribusi-kan ke para pejuang, pendeta dan pengrajin yang menjadi pelayan sang datu. 

Redistribusi merupakan bentuk pajak yang paling arkhaik untuk menyokong kehadiran institusi-institusi baru di dalam masyarakat kedatuan. 

Kini, kebahagiaan tersembunyi itu tersimpan di dalam genggaman datu. Datu atau datuk adalah wakil Tuhan, percikan dewata dalam menata dunia dengan segenap kandungannya. 

Datu tidak lagi berperan selaku “khazanah tersembunyi” tetapi sudah menjadi “in actu” dalam serangkaian tindak dan segala keputusan yang berdampak terhadap rakyat banyak. 

Memang, setiap orang boleh tetap beranggapan bahwa kebahagiaan sejati itu berada di balik bebatuan, maka menjadi perhiasanlah dia. 

Di balik tanaman, maka menjelma dalam ragam varianlah dia; sejak tanaman hias, makanan, makanan olahan, industri dan teknologi pangan. Bahwa, kebahagiaan itu berada dan terselindung di balik tubuh hewan-hewan yang berlari kencana di dalam rimba. 

Walau rimba raya, belum tentu berlaku hukum rimba. Namun, toh sistem kedatuan di kalangan masyarakat manusialah yang menerapkan hukum rimba itu. Era datu atau datuk-datuk telah sirna. 

Kini berganti dengan era yang menjunjung rasionalitas dan kesalehan sosial. Orang boleh saja menyebutnya sebagai demokrasi yang menjadi mitos dan dewa di alam modern.

Hakikat penyembunyian kebahagiaan di era datu-datu, berubah sontak. Hari ini kebahagiaan yang tersembunyi di balik pohon-pohon, di balik tanaman, di balik hewan dan bebatuan, mengalami penelanjangan luar biasa. 

Saban tahun, di negeri ini hutan ditebang dan dibakar, dengan alasan devisa dan peningkatan sektor pajak.

Jika pajak menaik dalam grafik yang menajam ke atas, maka terjadi redistribusi kepada masyarakat jelata. Pembangunan akan merata dan kebahagiaan yang berselindung itu akan menyerbu setiap rumah tangga. Bergumul sepanjang masa, siang-malam, detik dan waktu. Adakah ini sebuah utopia mengatasi utopia yang terbangun di era kedatuan?

Era penelanjangan kabahagiaan tersembunyi: Setiap orang menjadi makhluk narsis, jadi para pendaku tentang capaian dan guratan kebahagiaan yang semestinya tidak diumbar ke ranah publik. 

Setiap orang merasa paling wah, paling kaya, paling beradat, paling kece, paling beradab, paling ganteng, paling cantik.
 
Ketika era pendakuan yang berterus-terang ini, siapa yang mengaku jelek dan buruk rupa akan terpelanting dari panggung narsis. Akan terhumban dari gegap gempita pasar “purba” tentang ketelanjangan hewani yang melekat pada diri manusia. 

Era datu-datu, kebahagiaan memang tersembunyi, namun cepat dirampas oleh para datu yang mengaku titisan langit (dewa atau tuhan-tuhan). 

Di era modern, yang menjadi dewa dan datu adalah diri kita sendiri. Mendatuk-datukkan diri di tengah kerumunan yang tergila-gila minta dipanggil datok pula. Lalu kita hidup sebenarnya di zaman apa?


 

Editor: Abdul Aziz