Komoditi 

Kementan: Tanaman Berkualitas Tergantung Pupuk yang Berimbang

Kementan: Tanaman Berkualitas Tergantung Pupuk yang Berimbang
Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo. Instagram SYL

Jakarta, Elaeis.co - Beragam upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas tanam tanaman. Salah satu yang tengah difokuskan Kementerian Pertanian (Kementan) adalah upaya pemupukan berimbang.

 

Langkah ini disosialisasikan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam giat Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) 44 yang Ditaja di Agriculture War Room (AWR) Kementan, beberapa waktu lalu.

 

Dalam gelaran yang bertema "Pengelolaan Pupuk Bersubsidi" itu Syahrul menjelaskan pemupukan berimbang merupakan pemberian sejumlah pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kesuburan tanah. 

 

Itu dilakukan agar terjadi keseimbangan hara di dalam tanah sehingga tercapai kondisi favorable (kondusif) untuk pertumbuhan tanaman. Dalam pemupukan berimbang, harus 5 T, yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat bentuk dan tepat cara.

 

"Ini yang paling penting adalah membangun mindset bahwa yang kita kerjakan adalah tugas fungsi peranan kemanusiaan dan amanah Tuhan karena yang kita jaga adalah makanan. Mengurus makanan rakyat adalah pemberian Tuhan dan Tuhan tidak tidur, malaikat mencatat apa yang kita lakukan. Perbaiki dan motivasilah petani di wilayah binaan masing-masing," katanya seperti yang dilihat Elaeis.co dalam dipostingan dalam akun Cybex Kementan, Senin (29/11).

 

Dalam postingan itu Syahrul menjelaskan bahwa pada pandemi covid19 ini, hanya sektor pertanian yang naik 16,24%. Ekspor di tahun 2021 naik 47,37%. Sementara nilai tukar petani di tahun 2021 naik 0,86%. 

 

Menurutnya dalam saat ini manajemen yang paling tepat adalah Plan, Atention, Knowledge, Skill, Action dan Indonesia (PAKSAIN). Dimana perencanaan harus kuat, pengetahuan dan skill harus diasah. Sebab jika pupuk bermasalah, yang disalahkan adalah kementerian pertanian. Padahal itu kesalahan semua. 

 

"Misalnya pupuk itu yang diminta 24 juta, yang disiapkan hanya 9 juta. Itu bukan langka, namun kurang," paparnya.

 

Syahrul menegaskan tugas pertanian adalah meningkatkan produktivitas. Sedangkan pabrik pupuk tidak di Kementan. "Uangnya tidak di Kementan, jadi Kementan tidak bisa mengendalikan secara langsung," terangnya.

 

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi yang hadir pada kegiatan MSPP mengatakan saat ini yang harus diperhatikan adalah bagaimana caranya agar keseimbangan hara kondusif untuk pertumbuhan tanaman. 

 

"Jangan memupuk berlebih karena tanaman mudah roboh, mudah terserang hama penyakit, tidak efisien dan mencemari lingkungan," ungkap Dedi.

 

Kemudian menurut Dedi perlu diperhatikan bagaimana mengimplementasikan pemupukan dengan pemupukan berimbang. Penyuluh harus bisa menyampaikan pemupukan berimbang untuk dilaksanakan oleh petani di wilayah binaannya.

Selanjutnya, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana, Ali Jamil yang merupakan narasumber MSPP menambahkan subsidi pupuk di tahun 2022 tidak lagi mengakomodir sektor perikanan dan tidak menyediakan pupuk SP36. 

Tahun depan meminta Gubernur, Bupati dan Walikota menetapkan alokasi. Sedangkan yang akan menandatanganinya adalah kepala dinas, namun atas nama kepala daerahnya. 

"Apabila ada catatan kekeliruan maka harus dilakukan pengawasan. Beri data hanya kepada Ditjen PSP atau BPPSDMP. KP3 ada, namun masih dirasa kurang berfungsi, sehingga saat ini sedang melakukan perbaikan peraturan. Siapapun yang mengentry data, diharapkan datanya merupakan data yang valid. Jangan ada double data ataupun mark-up usulan pupuk yang dibutuhkan," jelas Ali Jamil.

Permentan yang mengatur eRDKK harus dilakukan T-1 maka harus ada ruang untuk merevisi atau menyesuaikan. Oleh karena itu kemarin kita memberi tambahan waktu untuk admin mengentry data eRDKK. Masa entry eRDKK belum rampung semuanya, namun jumlahnya sudah lebih dari tahun sebelumnya. 

“Minta tolong untuk penyuluh pertanian lapang dan penginput data agar berhati-hati dalam mengentry data, jangan ada duplikasi patuhi aturan," tandasnya.

Editor: Sany Panjaitan