Feature 

Ketika Sampah Berubah Jadi 'Emas'

Ketika Sampah Berubah Jadi 'Emas'
Pengolahan sampah di Rumbai, Pekanbaru.

Pekanbaru, Elaeis.co - Wanita berhijab bergelar Doktor itu begitu semangat. Intuisi ilmu bidang lingkungannya menggelora melihat tingginya antusiasme masyarakat.

Mariaty Ibrahim namanya. Dia adalah seorang pendidik perguruan tinggi negeri terkemuka di Bumi Lancang Kuning, Universitas Riau. Usai resmi menyandang gelar kehormatan bagi kaum akademisi intelektual itu, dia pun mulai bergerak. Melaksanakan pengabdian, seperti sumpahnya saat awal menjadi pendidik. 

Pelatihan yang dilaksanakan wanita murah senyum itu berangkat dari persoalan sederhana. Sampah plastik. Begitu banyak sampah plastik bertebaran. Mengganggu keseimbangan alam. Mengancam lini-lini satwa yang mencoba meraih kehidupan. 

Sampah plastik. Beragam cara dilakukan pemerintah untuk menekan ikatan polymer berantai karbon itu. Mulai dari mengenakan cukai hingga kampanye tas kertas. 

Namun, tak serta merta berhasil. Plastik masih saja ditemukan di mana-mana. Perumahan, pinggir jalan, apalagi pasar, hingga beberapa kasus di dalam perut penyu laut. 

Sementara program kampanye bebas plastik belum efektif, lalu sampahnya bertebaran di mana-mana, maka Mariaty mengajak masyarakat mengolah sampah itu jadi Cuan. Caranya, sampah plastik diolah, dan dijadikan bata pavling blok. 

Sederhana caranya. Cantik hasilnya. Jelas uangnya. Begitulah kira-kira dalam bayangan Mariaty. 

Pelatihan dan sosialisasi kewirausahaan dalam penggunaan limbah plastik berbasis pemberdayaan masyarakat sedianya dilakukan di Desa Kumantan, Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar, Sabtu (2/10/2021).

Namun, dikarenakan masih dalam situasi pandemi Covid-19 maka pelatihan dan sosialisasi kewirausahaan tersebut dilakukan secara online via zoom dari Kelurahan Tebing Tinggi Okura, Rumbai, Pekanbaru.

Mariaty mengatakan tujuan pelatihan dan sosialisasi kewirausahaan ini agar sampah limbah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Terlebih lagi, sampah plastik merupakan sampah yang sangat sulit terurai.

"Sampah adalah sesuatu yang tidak bermanfaat dan ini tentu menjadi kerugian bagi kita apabila sampah itu tidak bisa dikelola," katanya.

Pengelolaan sampah limbah plastik ini merupakan suatu kegiatan wirausaha, dimana kita melakukan proses perubahan dari suatu yang tidak berguna menjadi sesuatu yang berguna dan mempunyai nilai.

"Pengelolaan sampah limbah plastik menjadi paving blok ini merupakan salah satu upaya efektif untuk mengurangi sampah adalah melalui pembudayaan kegiatan reduce, reuse & recycle (3R) sampah. Pemerintah Indonesia telah mencanangkan “Gerakan Indonesia Peduli Sampah Menuju Masyarakat Berbudaya Reduce, Reuse & Recycle (3R) sejak tahun 2014," jelas Mariaty.

Dalam pelatihan dan sosialiasi kewirausahaan dalam penggunaan limbah plastik, Dosen Universitas Riau ini berharap kepada pemerintah setempat agar mengupayakan dan juga memberdayakan masyarakat agar bisa mengelola sampah-sampah menjadi suatu yang bernilai ekonomi dan tidak dibuang begitu saja.

"Sehingga kegiatan pengelolaan sampah limbah plastik ini nantinya bisa menghasilkan peluang kerja bagi masyarakat. Selain itu, yang terpenting adalah sampah akan bisa berkurang," tuturnya.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Musnidianto yang merupakan pengelola Taman Bunga Impian Okura di Kelurahan Tebing Tinggi Okura, Kecamatan Rumbai Pesisir yang memanfaatkan sampah limbah plastik untuk dijadikan paving blok.

Pembuatan paving blok ini sendiri murni berasal dari bahan seratus persen sampah-sampah plastik dan tidak menggunakan bahan tambah campuran lainnya.

Musnidianto memaparkan, proses pembuatan paving blok dari sampah plastik ini hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit. Untuk satu paving blok ini membutuhkan lebih kurang 1 kg sampah plastik.

Awal proses pembuatan paving blok ini, mulanya sampah-sampah plastik yang telah dikumpulkan akan dimasak atau dipanaskan didalam sebuah wajan menggunakan api sampai sampah-sampah plastik yang dimasukkan akan terurai hingga meleleh.

Setelah meleleh, maka sampah plastik akan dicetak menggunakan alat press yang telah dibuat menyerupai pola paving blok pada umumnya. Kemudian, setelah dicetak lalu akan didinginkan atau direndam memakai air selama 5 hingga 10 menit.

Setelah direndam, cetakan paving blok yang berisi limbah plastik tersebut diangkat dan dilepaskan dari cetakan.

Paving blok dari bahan sampah limbah plastik ini juga telah banyak digunakan dipasang di halaman rumah, median jalan ataupun pembatas jalan.

Pria yang kerap disapa Muslim ini mengungkapkan bahwa pembuatan paving blok dari limbah plastik ini ia pelajari hanya dari YouTube.

"Jadi belajar membuat ini tak susah. Hanya kita lihat beberapa video, lalu kita amati, dan langsung dipraktikkan," ujar Muslim.

Paving blok yang dibuat dari bahan seratus persen limbah plastik ini tertinggi pernah dihargai senilai Rp.10 ribu

Muslim berpesan kepada pemerintah dan juga pihak terkait agar dapat mendukung pengelolaan sampah limbah plastik. Hal ini guna menghindari terjadinya pencemaran lingkungan.

"Limbah plastik ini sudah sangat memprihatinkan dan menjadi momok bagi negara kita. Jadi sangat berbahaya kalau seandainya kita biarkan," ucapnya.

Pelatihan dan sosialisasi kewirausahaan dalam penggunaan limbah plastik berbasis pemberdayaan masyarakat ini juga didampingi tim pelaksana lainnnya yaitu Drs Endang Sutrisna M SI, Suryalena S Sos M SI, Mashur Fadli SE MSI dan Ranti Fellia Anzani.

Editor: Sany Panjaitan