Sumatera 

Kualitas TBS di Bawah Standar, Petani Masih Perlu Belajar

Kualitas TBS di Bawah Standar, Petani Masih Perlu Belajar
Rendemen yang rendah dan TBS mentah sering didapati pihak perusahaan dari petani sawit. Ketua APKASINDO Subulussalam, Netap Ginting, minta pihak terkait mengedukasi petani sawit (Dok. Netap Ginting)

Subulussalam, Elaeis.co - Kualitas panen petani sawit di Subulussalam masih belum memenuhi standar. Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Aceh menetapkan rendemen tandan buah segar (TBS) sawit sebesar 22%, namun sejauh ini petani swadaya hanya sanggup mendapatkan rendemen 18%.

"Harga TBS yang saya tampung dari teman-teman petani sawit di bawah Rp 2.470 per kilogram. Ini karena rendemen buahnya 18%, jauh di bawah ketentuan Tim Penetapan Harga TBS yakni 22%," kata pemilik CV Mandiri Aman Sentosa (MAS), Ir Netap Ginting, kepada Elaeis.co, Selasa (21/9/2021).

Besaran rendemen buah produksi petani itu diketahui Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Subulussalam ini dari hasil uji laboratorium sebuah perusahaan sawit di kota itu.

Selain rendemen yang rendah, Netap pun mendapati fakta kalau TBS hasil panen petani banyak yang masih mentah atau setengah masak. Akibatnya, TBS ditolak oleh pihak pabrik kelapa sawit (PKS).

"Kalau potongan buahnya tetap 3%, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 1/2018 tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian TBS Kelapa Sawit Produksi Pekebun," Netap menambahkan.

Selaku pemilik ram, Netap jadi tahu kalau para petani sawit swadaya masih banyak yang menanam sawit dari varietas Dura dan tidak bersertifikat. Selain rendemennya rendah, cangkangnya sangat tebal sehingga tidak disukai pemilik PKS.

Panen pun dilakukan terlalu dini, tidak sesuai dengan standar kematangan buah sawit, serta petani kurang melakukan perawatan terhadap kebun sawit masing-masing.

Karena itu ia berharap pihak Distanbun Subulussalam dan PKS-PKS yang ada untuk turun tangan mengedukasi para petani sawit soal good agriculture practice (GAP). 

"Kami berharap dinas terkait tidak tinggal diam. Kami bersedia bekerja sama untuk proses edukasi ini. Karena kami melihat sudah dua tahun Distanbun Subulussakam tidak turun ke lapangan menemui para petani sawit," kata Netap.

Pihaknya pun berharap pemilik PKS mau secepatnya membangun pola kemitraan dengan petani tanpa harus menunggu disahkannya rancangan peraturan gubernur (ranpergub) tentang harga TBS dan pola kemitraan. "Supaya kualitas TBS yang kami pasok sesuai dengan keinginan pabrik," tutupnya.


 

Editor: Rizal