Serba-Serbi 

LP Tangerang Terbakar, Mantan Napol Orba Desak Bentuk TPF

LP Tangerang Terbakar, Mantan Napol Orba Desak Bentuk TPF
Budiman Sujatmiko (Komisaris Independen PTPN V) dan Xanana Gusmao (mantan Presiden Timor Leste) bersama para napol Orba di LP Kelas I Tangerang (Dok. KMNPOB)

Jakarta, Elaeis.co - Terbakarnya Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas I Tangerang, Banten, Rabu (8/9/2021) dini hari, menyebabkan 46 tahanan tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Mantan narapidana politik (napol) orde baru yang pernah ditahan di penjara itu mengkritik pengelolaan lembaga pemasyarakatan.

Dalam pernyataan yang diterima Elaeis.co, 10 mantan napol yang menamakan diri Komunitas Mantan Narapidana Politik Orde Baru (KMNPOB) menyebutkan bahwa kebakaran di LP Tangerang bukan kali pertama terjadi. “Tapi ini adalah yang terburuk. Kebakaran di penjara bukanlah perkara remeh, karena ada nyawa yang hilang,” demikian pernyataan KMNPOB.

Para mantan napol itu menilai kasus tersebut menyangkut masalah pengabaian hak asasi manusia (HAM) oleh negara dan menunjukkan ada problem serius dalam tata kelola LP di Indonesia.

KMNPOB menyebutkan para tahanan dan terpidana kerap ditempatkan dalam penjara yang sesak, tidak aman, bahkan mengancam hidup dan kesehatan manusia. “Para tahanan juga manusia, berhak atas kondisi yang layak dan hak atas kesehatan. Karena itu seluruh narapidana berhak mendapatkan perlakuan manusiawi dan bermartabat,” kata KMNPOB.

KMNPOB mendesak dibentuk Tim Pencari Fakta (TPF) independen yang melibatkan aparat kepolisian dan kelompok masyarakat sipil yang memiliki kepedulian terhadap isu pemasyarakatan dan HAM. Kemenkumham, khususnya Direktorat Jenderal Pemasyarakatan juga didesak segera mereformasi tata kelola pemasyarakatan dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan warga binaan dan menjadikan isu hak asasi manusia bukan sekadar lips service.

“Dirjen Pemasyarakatan selayaknya mengundurkan diri sebagai tanggung jawab kelalaiannya telah mengakibatkan puluhan napi terbakar dan tewas,” demikian desakan KMNPOB.

Pernyataan itu diteken 10 orang anggota KMNPOB. Masing-masing Budiman Sujatmiko, Petrus Hariyanto, Fauzi Isman, Tri Agus Susanto alias TASS, Wilson, Roso Suroso, Isti Nugroho, Eko Maryadi, Ken Budha Kusumandaru, dan Jacobus Eko Kurniawan.

Editor: Rizal