Siku Kata 

Memetik Pagi

Memetik Pagi
Bersama Amoii di Kampung Sei Selari (seclusion village). foto: dok. pribadi

Menyuluh subuh, menguak pagi. Bertiga menggelinding lorong-lorong sawit berpasir-batu. Sebuah perjalanan mengulang kenang. 

Sawit di tanah ini layak dan lagaknya bak sang penggoda; tak siang, tak malam. Karet (getah), pun padi dengan segala perkakas ikutannya jeda sejenak. 

Orang kerap berkata, yang hakikilah nan dipetik; buah dipetik, putik dipetik, daun dipetik. Petik pagi disalur ke pasar-pasar pagi. Petik siang? pasar kaget (petang) lah tumpuannya. 

Lalu, ada sesuatu yang musykil dipetik; ‘memetik kata-kata’, ‘memetik hikmah’. Petik jenis ini bukanlah sebuah peristiwa. Dia bak amsal surrealis

Ketika dipaksa menjadi peristiwa, ‘memetik kata-kata’ seakan berlangsung dalam tindak-laku memetik bibir sang pengujar kata-kata itu; memetik bibir sang gadis? Bibir Pujangga? Ujung mulut orang-orang bijak? Terserah… 

Maka, pilihan kami bertiga adalah memetik pagi. Di situ ada sisa embun melayang menerpa permukaan kaca mobil. Bak sapuan puisi lembut. Dalam kepungan embun, dua orang dari tiga itu menggurat kisah dalam ragam cerita benua jauh dan jazirah dekat.
 
Ambil yang dekat-dekat saja, walau diseduh oleh semangat benua sayup. Siddhartha bertutur; “Kita menemukan penghiburan, lalu kita pun mengalami ketenteraman. Kita belajar keahlian yang kita gunakan untuk menipu diri sendiri. Tapi, kita tak menemukan inti, sang jalan dari jalan?”

Ya, perjalanan pagi itu, tak saja memetik sesuatu yang terhidang di pagi buta, mungkin nan hakiki tersaji di siang tegak kelak. 

Pagi hanya menyediakan dirinya bak pelantar, selasar atau serambi menuju siang penuh ‘inti’. Manusia hidup dalam dua kelopak kulit kacang; satu kelopak dialamatkan sebagai ‘dunia’. Kelopak yang satu lagi disapa sebagai kelopak ‘alam’. 

Ketika anda mengenakan sepasang sepatu, anda telah disarung oleh peristiwa ‘dunia’-nya sepatu. Anda bisa berkisah kepada sekitar; daku lah sang gagah, sosok tampan pemikat, pancaran sri gunung. 
Namun, dia akan berubah dalam sekelip, ketika di ujung jari ada gangguan kecil; sebutir pasir halus menyekat telunjuk bagian bawah. 

Anda tak lagi disarung oleh ‘dunia’. Anda tengah menjalani peristiwa ‘alam’ dari sepatu itu. Gagah, tampan, sri gunung, berubah sontak bak seorang pesakit, sosok penghiba, hamba sahaya, pemelas dan peminta-minta. 

Dalam kilasan detik peralihan dari ‘dunia sepatu’ ke ‘alam sepatu’ (karena meng-alam-i) sesuatu yang membuat anda tidak nyaman oleh sebiji pasir halus. Duhhh… jalan sejati? 

Sepanjang pagi, rentas perjalanan menyapa tanah-tanah ‘terbiar’ dan kaum ‘terbiar’ (neglected land and citizen). Tak sekedar calar dan gores, namun memang tanah-tanah ‘luka’. 

Luka tersebab penebangan hutan (logging), luka tersebab penambangan (mineral) dan galian. Duhh tampilan serba luka, menyeka kisah tentang orang-orang dari negeri jauh yang ‘dijinakkan’ dalam sebuah program transmigrasi dengan tugas utama menyuntik ‘tanah-tanah luka’. 

Bak tanaman pionir (kacang-kacangan dan ilalang). Tanah-tanah luka itu mengalami kesembuhan perlahan. Kini benar-benar afiat. Dan orang-orang luka ini menyeruakkan kampung-kampung baru dalam barisan ‘kampung-kampung bunga’ dengan tetangkai ‘generasi bunga’ yang layak petik. 

Waktu petik juga berubah; tak semata pagi. Kini, kampung-kampung di atas ‘tanah luka’ itu, memberi kisah kepada kita tentang petik pagi, petik siang, petik petang, petik senja dan bahkan petik dini hari. Kehidupan bergempita di atas bekas ‘tanah-tanah luka’. 

Rerangkai shadu-utama kehidupan gemeretap antar kampung; Jawa kah, Melayu kah, Tionghoa-kampung kah, sepanjang sisian Selat Melaka itu adalah butiran sawit, ujung daun dan kanopi sawit yang gemulai. 

Orang datang membawa sawit, sawit datang menyerbuk orang. Saling serbuk dan saling suntik yang menggairahkan. 

Dulu, kawasan ini adalah dunia sunyi, sejumlah tanah dan kaum serba ‘terbiar’, kaum dan tanah ‘nir-hirau’ (neglected)

Namun, hari ini, mereka telah menjalani era “pancaran sri gunung’ kehidupan. Kampung berderap, lempung kampung berubah bak kedai-kedai ekonomi dalam gaya serba ‘a-kontan’ (tunai, tak boleh hutang). Sebuah idiom kreatif kaum papa era 70-an. 

Pasar mini lusuh, usang, kini berkarang bak kota-kota mungil semerbak (balai-karangan). Siang tegak pun terhidang serba gersang, dahaga. Sepanjang gemuruh deru kenderaan melaju, yang ada hanya rerangkaian gerutu tanpa jemu, walau dibungkus sejumlah kisah lucu dan lugu. 

Tak seorang Melayu menjual kelapa muda sepanjang jarak kimometer nan 100. Di penghujung sentak haus, sosok mendaraskan diri sebagai Tarigan lah yang menebus segala payah menjadi sudah. Siang itu bukan milik Tarigan ternyata…

Sosok kumal berkenderaan kotak jualan tapai itulah sang Tuan siang. Seonggok tubuh ringkih terserang stroke ringan (sebelah kiri). Suaranya lantang, parau. Tatapannya tajam. Dia berdepan dengan ‘pengayau’ (otak) Riau secara tak sadar. 

Namun siang mengampu keyakinan dua pihak dalam dialog menderu (antara kami dan sosok Lelek renta). 

Dia merentasi perjalanan dengan kenderaan roda dua ratusan kilometer hanya untuk berjualan tapai. Entah sebagai hiburan di hari tua, entah itu memang cara mengurai risau masa pandemic, entah itu memang pancarian utama untuk anak-anak di rumah. 

Sebab, di ujung kampung berpantai elok, tak ada orang kreatif menjual dagangan sebagai penggoda kampung. Lelek tua ini bermastautin di Dumai. Dia berkata; “Apa obat stroke?” Tegas, tanpa segan silu. 

Saya terdiam. Dua rekan jua terdiam. Sebuah pertanyaan mendadak yang tak kan pernah diterjunkan pada sebuah siang tegak membahang. “Saya mengalami stroke, tapi saya harus berjualan ratusan kilometer dengan motor kotak ini”. 

Saya usap lengan kiri dia yang ditimpa stroke itu. Artinya lengan inilah yang dihandalkan dia untuk menumpu tubuh rapuh pada stang motor selama perjalanan ratusan kilo. Haiyyyaaa…. 

Terburai petik segala petik; entah pagi, petik kata-kata, hikmah, petik siang, petik petang dan senja, petik dini hari atau petik subuh. Kami terlontar dalam “realitas siang” yang hakiki oleh sosok tubuh polos, jujur, tegas. 

Seakan pagi hanya lah juraian kelambu yang membebat luka, dan barah itu menganga di siang tegak. Inikah siang hakiki Siddhartha?

Entah ipuh, entah penawar sang shramana (pengembara) ala Buddha, usapan lembut saya menyapu pangkal lengan itu...


 

Editor: Abdul Aziz