Sudut Kata 

Mendekati Kebaikan

  • Reporter Aziz
  • 28 Agustus 2021
Mendekati Kebaikan
I Ketut Pupul saat berada di Pura yang dia bangun di depan rumahnya. foto: ist

"Karung beras puluhan kilo saya panggul berhari-hari untuk sampai ke desa. Tapi sekarang hidup sudah enak sekali. Pulang ke Bali bisa dalam hitungan jam saja."

Begitu kisah yang diceritakan I Ketut Pupul, transmigran mandiri asal Badung, Bali, ketika saya temui di Desa Martasari, Pasangkayu, Sulawesi Barat. Desa yang pernah terpencil, kini maju dan dapat ditempuh dalam empat jam jalur darat dari kota Palu, Sulawesi Tengah. 

Transportasi memang sudah demikian mudah. Desa yang dulu serba sulit, kini berkembang pesat. Tidak seperti puluhan tahun lalu yang mengandalkan perahu sebagai moda penduduk keluar masuk desa-kota. Bus, mobil, sepeda motor adalah pemandangan biasa yang lalu lalang di jalur-jalur beraspal mulus.

Pasangkayu, nama kabupaten yang menjadi bagian Sulawesi Barat itu memang berubah drastis. Kantor-kantor pemerintah berdiri megah. Hotel, restoran, bank kini juga beroperasi di sana, menandakan besarnya perputaran uang di kawasan hasil pemekaran Sulawesi Selatan tahun 2004 itu.

Salah satu pelaku dalam perputaran uang di Pasangkayu ini adalah I Ketut Pupul. Ia berkebun kelapa sawit. Hasil panennya dijual ke perusahaan. Lalu, uang hasil menjual Tandan Buah Segar (TBS) ia kelola. Untuk pangan, pendidikan, kesehatan dan aneka kebutuhan hidup lainnya. Di kawasan tempat tinggalnya itu pulalah uang-uang tersebut ia belanjakan.

Pasar, warung-warung, toko, penjual jasa angkutan, semua bergerak terkena dampak putaran uang. Ibarat sungai, ketika ada aliran air, maka habitat di bawah permukaan air pun hidup. Bahkan di sepanjang sungai, tepian di kiri kanannya juga merasakan manfaat. Pasar, warung, toko-toko, penjual jasa angkutan itu ikut mendapat untung setelah memberi pelayanan kepada orang-orang seperti Ketut Pupul yang memiliki uang hasil panen dan harus memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tidak hanya kebutuhan sandang, pangan, papan. Sebagian uang hasil panen kelapa sawit juga disiapkan untuk mengurus dan mengembangkan mata pencahariannya sebagai petani. Dengan cara itulah perlahan-lahan hidupnya, juga hidup para petani-petani kelapa sawit di sana, menjadi semakin baik. 

Ketut Pupul, lelaki yang berusia lebih dari 60 tahun itu tampak bahagia. Senyumnya mengembang. Ia merasakan damai. 

Bangunan rumahnya kokoh, luas dilengkapi teras yang nyaman untuk lesehan sambil berbincang. Tak ketinggalan, di halaman depan rumahnya berdiri pura megah untuk ibadah keluarga.

Di desa itu ia hidup bersama saudara dan anak-anak. Dari seorang transmigran mandiri yang tak punya apa-apa, kini menjadi petani sukses yang mengelola kebun kelapa sawit seluas 6 hektar.

"Saya hanya intip-intip saja," katanya ketika saya tanya awal mula keberhasilannya sebagai petani sawit sukses.

I Ketut Pupul bercerita tentang awal kedatangannya ke Desa Martasari, Pasangkayu. Ia mengenang betapa susahnya dulu, dan mensyukuri begitu indahnya kehidupan sekarang.

Usai perbincangan, ketika saya kembali ke rumah dan mengingat-ingat buku yang telah saya baca, saya menyimpulkan bahwa pengalaman hidup I Ketut Pupul kembali membuktikan dahsyatnya cara bekerja "law of attraction", hukum tarik-menarik. Bahwa kebaikan akan mendatangkan kebaikan. Begitu juga sebaliknya.

Dalam diri sosok ini sudah terpancar pikiran positif. Ia menyeberangi pulau tahun 1978, hijrah dari tempat asalnya yang padat. Saat itu, hanya satu keinginannya: mensejahterakan keluarga. Maka, di tempat baru pun ia menemui kebaikan. Ia tinggal bersebelahan dengan PT Mamuang, anak perusahaan Astra Agro yang bergerak di perkebunan kelapa sawit dengan misi "sejahtera bersama bangsa".

Mari kita perhatikan kalimat "hanya intip-intip" yang ia lontarkan. Ini ungkapan yang mengandung energi. Energi positif yang ia wujudkan dengan usaha sungguh-sungguh.

Ketika pertama kali berkenalan dengan perusahaan, katanya, sebenarnya banyak penghalang yang merintangi interaksi dia dengan peluang untuk maju. Bahkan, ketika mengajukan diri sebagai peserta program Income Generating Activity (IGA) yang digagas perusahaan, perangkat desa kala itu mencoret namanya. Ia batal menjadi peserta.

Namun, ia tidak menyerah. Ada kekuatan semesta yang seolah mendorongnya terus maju, memudahkannya meraih impian untuk menjadi petani kelapa sawit. 

Pada lain kesempatan ia berkenalan dengan seorang karyawan perusahaan. Dari sanalah ia mendapat ilmu, pengetahuan, kemampuan bahkan membeli lahan untuk berkebun. Ketika kebun kelapa sawitnya panen, ia pun bekerja sama dengan perusahaan seperti yang ia impikan sebelumnya.

Kita sering menemui pribadi-pribadi seperti I Ketut Pupul, pekerja yang memperoleh kemudahan-kemudahan di bawah hukum tarik-menarik. Lantaran dalam dirinya ada kebaikan, maka ia mendekati kebaikan. Dan, kebaikan itu pun mendatangkan kebaikan berikutnya.

Di Pasangkayu itu, tampaknya terjadi akumulasi kebaikan-kebaikan. Ada Ketut Pupul dan orang-orang penuh semangat positif lainnya. Selain menjadi petani, mereka ada yang berprofesi sebagai pedagang, mantri, guru, pegawai negeri, dan sebagainya. 

Masing-masing menggenggam impian, cita-cita, keinginan-keinginan baik. Tatkala kebaikan-kebaikan itu saling bersatu, perubahan pun tidak hanya tampak pada orang per orang. Kita membuktikan, sebuah desa pun kemudian berubah dan mengalami kemajuan. Semua terjadi karena tiap pihak mendekati kebaikan.


Mochamad Husni

Mantan jurnalis yang kini bekerja sebagai manajer Public Relations. Branding, reputasi atau sekadar berbagi inspirasi menjadi pilihannya dalam banyak tulisan. 

Karyanya dituangkan melalui channel sosial media, artikel-artikel di media massa, maupun dalam format buku yang digarap sebagai seorang ghost writers


 

Editor: Abdul Aziz