Jenggi 

Paradoks Utopia

  • Reporter Aziz
  • 20 Desember 2021
Paradoks Utopia
ilustrasi. foto: wallpapersden.com

Di masa depan manusia telah berhasil menulis ulang takdir mereka. Apa yang kemudian terjadi? Mereka kehilangan harapan, kekosongan, tanpa proses, tanpa nilai, tanpa kejutan, nirmakna, dan tenggelam dalam samudra kenikmatan hampa. 

Manusia telah menemukan surganya tanpa proses kematian, inilah paradoks utopia.

Pada saat itu tiba, seluruh kebutuhan dan fantasi manusia telah terpenuhi, apapun yang dapat dibayangkan. Segala teknologi sudah mencapai puncaknya, manusia hidup setara dalam kendali tunggal AI Governance System

Baca juga: Endgame

Sistem pemerintahan ego telah tamat, mulai dari monarki, republik, liberal, sosialis, komunis, bahkan demokrasi telah kehilangan muka. 

Negara-negara yang dipimpin manusia pada akhirnya hanyalah bagian yang sulit dipisahkan dalam episode kerusakan di atas muka bumi. 

Utamanya negara-negara yang bersekongkol dengan kapitalisme hitam dan berpura-pura tidak mendengar tangisan bumi. 

Surga utopia sebagaimana seharusnya, akan melewati suatu proses kiamat ekologi yang kita sebut puncak pemanasan global (global warming). Manusia akan melewati semacam proses seleksi alam.

Distopia dunia yang tiba pada 2050, atau kiamat sekuler sekaligus adalah titik balik bagi menata ulang semua sistem gagal yang dibuat oleh manusia lampau. 

Orang-orang kuat dalam Work Economic Forum baru-baru ini telah mengambil momentum pandemi global untuk berperan dalam the great reset serta memulai peradaban 4.0 menuju 5.0. 

Baca juga: Dialog Socratik

Seluruh sistem nilai di atas muka bumi akan bertumpu hanya kepada humanisme, penyelamatan ras manusia yang didampingi oleh keperkasaan teknologi digital.

Sistem kapitalisme yang dibolehkan hanya yang berpusat pada kemanusiaan. Ini akan memaksa teknologi untuk bersahabat dengan alam (eco friendly technology), teknologi akan mampu meredam dampak perubahan iklim dan membalikkan keadaan. Sehingga pengejaran utopis kembali dimulai dalam skala yang sangat masif.

Apa yang menjadi kegelisahan global seperti kelangkaan pangan akan disambut oleh bioteknologi, sistem korup akan dituntaskan oleh blockchain, dan keputusan-keputusan penting akan diambil alih oleh kecerdasan buatan tanpa cela. 

Penyakit dan proses penuaan akan disudahi oleh teknologi nano dan regenerasi sel.

Kitab-kitab yang bercerita tentang surga seperti disalin seluruhnya oleh masa depan. Tanpa kelaparan, kelangkaan, kecemasan, ketidakpastian, pemborosan, yang disempurnakan dengan keabadian dan tanpa proses penuaan. Manusia menulis ulang kehidupannya mulai alfa hingga omega.

Hal ini dapat terjadi bila semua negara dengan sistemnya yang ketinggalan zaman dan cacat karena dibasiskan kepada pemenuhan ego, otoratianisme, supremasi kekuasaan dan dinasti politik dapat segera menyerahkan kedaulatannya kepada AI Governance System, sebuah sistem pemerintahan global dalam kesetaran dan pemenuhan kebutuhan serta fantasi manusia tanpa kecuali. 

Baca juga: Kisah Pendakian Tuhan

Sebuah sistem yang dibantu oleh mesin pembelajar akan memetakan seluruh kebutuhan dan angan-angan manusia.

Pada tahun 2200 teknologi sudah menyediakan segalanya berkat fusi nuklir yang memberikan energi tanpa batas secara gratis. Ini yang membuat tiap individu di masa itu mendapatkan kebutuhan mereka secara gratis selamanya. 

Dilengkapi dengan terhubungnya manusia dalam digital ID tanpa anonim serta distribusi kekayaan adil merata, maka manusia kehilangan pikiran untuk bertindak kriminal. 

Manusia kehilangan minat dan ruang untuk berkompetisi. Tidak ada social climbing dan narsisme terselubung. 

Basis kuantum komputer yang maha yang dapat menjalankan seluruh sistem di dunia utopia akan aktif sepenuhnya. 

Manusia menjadi setara dan hanya fokus mengejar mimpi dan fantasi masing-masing. Manusia dan semesta telah terhubung secara nirkabel dengan semua kebutuhan, dan fantasi mereka.

Saat itu manusia tidak lagi dilahirkan, rekayasa biologi dapat menciptakan embrio di luar tubuh, dengan membuang semua potensi cacat, penyakit, dan penuaan. 

Bahkan tubuh dan wajah manusia dapat dipesan secara costum. Tak ada lagi iri dan dengki oleh ketampanan, kecantikan serta popularitas. Tidak ada lagi idola dan kultus individu.

Di luar semua itu, lewat neuroscience manusia dapat menciptakan pengalaman pribadi lewat sensasi dan imajinasi apapun untuk menjadi sultan, pecinta sejati, pahlawan bertopeng atau manusia mutan. Manusia dapat meng-klik konsep surga mancam apa yang mereka dambakan. 

Tapi utopia itu akan menjumpai paradoksnya. Manusia tidak lagi punya harapan, mereka tidak melewati proses untuk hasil yang mereka dambakan, semua menjadi bebas nilai. Nilai yang diperoleh dari kelangkaan, keterbatasan, dan proses yang sulit. 

Seorang ibu tidak lagi merasakan kebahagiaan dari bayi yang ia dapatkan dalam masa payah kehamilan dan sakit persalinan. Seorang pria dapat men-download istrinya dengan sekali klik lalu mencetaknya dengan printer 3 D.

Tidak ada pahlawan keluarga, tidak ada medali bagi sang juara. Tidak ada toga dan regalia wisuda. Manusia dapat memesan level dan volume kecerdasannya sendiri-sendiri jika itu masih dibutuhkan. 

Singkatnya manusia akan kehilangan rasa bangga dan kepuasan batin, karena mereka tidak melalui proses pencapaian apapun yang dapat dipamerkan lewat sosial media.  

Ketika manusia kehilangan harapan, nilai hidup, sensasi dari proses perjuangan hidup dan seterusnya, manusia dalam sekejap akan iri dengan kehidupan kita sekarang yang selalu dipenuhi energi, spirit, dan emosi untuk tetap eksis.

Tapi bukankah mereka dapat memesan paket kehidupan virtual, menjadi seorang papa yang berakhir sebagai crazy rich, memasuki perjalanan seorang budak belian hingga menjadi sultan, ekspedisi mengelilingi bumi dengan baling-baling bambu, merayapi pencakar langit bagai Spiderman yang berhasil menyelamatkan Gwen. Paradoks utopia?. 
 

Editor: Abdul Aziz