Siku Kata 

Perempuan Olympics

  • Reporter Aziz
  • 03 Agustus 2021
Perempuan Olympics
Pasangan Greysia-Apriyani Rahayu. foto: twitter@Edwin Danto Young

Tak mengapa. Mungkin yang ke selaksa kali. Pria (politik) numpang bangga pada capaian perempuan. Wanitalah penyembur aroma wangi di tengah petaka-nestapa peradaban, walau selalu dilorot ke rawa ledah di bawah todongan kuasa maskulin.

Bangga atas haruman merbak Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, dua wanita Sulawesi yang mempersembahkan Medali Emas. 

Gah (bermegah hati) akan sentak layar-jip di Teluk Yokohama oleh atlit wanita Spychakov, Bar Am, Tibi S (Israel). Negeri yang dikandang kaidah pengharaman wanita (Arab) menjilat laut. 

Nur Dhabitah Sabri, memecah kerinduan akan kehadiran sosok anak Melayu (atlit Loncat Indah Malaysia). Tutup mata dari segala tabu dan pantang larang. 

Baca juga: Imago Dei: Mencinta

Ini dunia permainan di atas sejumlah hukum yang didaras oleh manusia di atas planet bumi. Mari berkisah mengenai bid’ah peradaban, pembangkangan dan ruang-ruang ‘kurang ajar’ walau sejenak.

Greysia Polii tak melakukan pembangkangan politik yang bertolak dari gairah mengubah dialektika hukum dan hasrat menjadi perang antara kekuasaan dan penyesalan. Pembangkangan jenis ini berbingkai: batasan antara tuan-budak.

Apriyani dan Nur Dhabitah juga tak melakoni pembangkangan lewat tulisan. Para penulis revolusioner (sebagian kecil); bereksperimen dalam bingkai identitas; memproduksi dan menyemburkan teks yang kuat perkasa, sehingga hukum lekat dengan bahasa. 

Sebuah bahasa yang cerlang-cemerlang, riang-ria yang mampu membangkitkan kembali hukum yang telah dilorot, dilucuti keperkasaannya, diguling dari tahta, dicela dan dihamun, dijamakkan, hukum yang dijulang tinggi, dengan hasrat ingin memberlakukan suatu makna polivalen dan polilogis kian ceria dan cerah. Kemudian membuat hukum itu mengental, membara dalam suatu ruangan hampa yang tenang pasifis.

Wanita-wanita dari negara “berkandang tanah” (landlocked) semacam Swiss, Ukraina, Hungaria, Slovenia juga mengirim atlit layar (sailing) yang amat menawan, bergairah memasuki garis finish posisi terdepan. Mengalahkan negara “pemuja ombak” semisal Inggris dan negara-negara Nordik
(turunan Viking). 

Sebaliknya? Negara yang mengklaim dan mendaku-daku “Nenek Moyang Ku Orang Pelaut”, langsung memecatkan dirinya ber-DNA bahari. Tinggal bual dan cuap puisi, pantun saja yang bernada bahari.

Hegel menilik hukum dalam kecerdikan sisi lain; dia membedakan antara Hukum Manusia (yang dimotori kaum pria, politik, pemerintahan dan etika); sementara Hukum Ilahi (diatur dan dikebat oleh kuasa wanita via keluarga, pemujaan leluhur dan etika). 

Dunia maskulin, terkandung hukum yang mengatur kesadaran. Sementara bagi wanita hukum adalah bagian gelap dari ‘dunia bawah’ (sub human). Di celah-celah ‘dunia bawah’ itulah Greysia, Apriyani, Dhabitah, Bar Am, Zehra Gunes, menggaru-garu Hukum Pria; ranum dan memanen. 

Lalu? Para pria melagak foto selfie ria bersama para atlit wanita kebanggaan, seakan mereka telah menunai garis kurikulum hukum ‘dunia atas’ (pria-politik). Padahal tidak...

Perempuan dan hukum sekait dengan wangi rose (kembang mawar). Dia adalah martir dari kematian
hukum dan hukum kematian. 

Sebab, yang penting digaris-bawahi bahwa Hukum Mutlak (Ilahi) telah diinstitusi melalui kematian. Lewat hal ini, kita bisa memperkecil kematian dalam hukum. 

Wanita bisa mendorong lekasnya kematian dan menahan terjadinya kematian. Seseorang bisa jatuh sakit, ketika merasa tak dicintai: Psikosomatis? Marie Antoinette memperlekas kematian para Borgeoisie dan Petite Bourgeoisie selama gelombang Revolusi Prancis. 

Tak sedikit kisah uluran tangan penuh cinta dari seorang ibu, menyembuhkan idapan sakit bertahun-tahun seorang anak (lelaki) atau pun sosok ayah yang renta. 

Berkat ramuan dan pengaturan pola makan (hukum yang diinstitusi lewat keluarga yang dikuasai wanita). Teringat pula akan Mother Theresa di Kalkutta...

Tersebab Hukum Mutlak yang telah dilembagakan lewat kematian itu, perlembagaan ini bersua dengan perlembagaan keluarga yang dimahkotai sosok wanita. 

Yang dilupakan oleh gerakan feminisme selama ini adalah pendekatan Freudian; perempuan adalah makhluk yang tak takut dengan kematian atau hukum. 

Malah mereka bisa menyelenggarakan kedua-duanya secara serempak; dalam makna ultra modern dapat dihubungkan dengan kemampuan mereka mengatur permasalahan ‘dunia bawah’ dari hukum politik yang direpresentasikan melalui hukum reproduksi: hamil, melahirkan dan menyelamatkan spesies.

Perempuan memang memiliki keterbatasan partisipatif dalam hukum konsensual politik dan masyarakat. Ia seakan mengalami fase promosi para budak ke peringkat tuan; ketika dia diakui dan
memperoleh pengakuan hanya ketika ia menjadi setara secara homolog dengan pria (Kristeva).

Perempuan mengalami pengasingan melalui dua jalan; pertama ‘sudut pandang umum’ dan ‘makna kata’ (Julia Kristeva). Perempuan dikonstruksi dalam ‘kata tunggal’: fragmentasi, impuls atau dorongan yang tak bernama. 

Oleh Filsafat selalu disangkutkan dengan Deimon (semacam sosok penyihir penyembah setan). Dalam perjalanannya, perempuan sebagai ‘kekuatan jahat’ itu mengalami rekognisi; dia ditelan dan dilembaga oleh mesin kuasa, sekaligus menjadi titian harapan masyarakat banyak (kebangkitan perempuan dalam partai politik).

Perempuan itu bisa bernama Greysia Polii yang amat feminin, bisa pula disapa Apriyani yang lasak, Zehra Gunes atau pun Dhabitah yang cergas. 

Mereka melampaui kehendak “dunia atas”, dan sejatinya bersetia mengarungi kemauan “dunia bawah” yang penuh misteri dan serba tak terduga.

Dunia disentak oleh kenyataan-kenyataan yang berpembawaan contradictio in-terminis (terma yang saling bertolak belakang) dengan kemauan akal sehat dan ‘makna tunggal’ yang dilekatkan kepada kaum ini: ya, perempuan.

Kita mengatur tabik sekaligus bangga kepada dua sosok perempuan dari benua Celebes (Utara dan Tenggara) yang melontar tangis dan air mata: “demi menyatakan bahwa kita masih ada?” Ejek Rene Descartes... 



 

Editor: Abdul Aziz