Papua, elaeis.co - Pergerakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang terus menuju ke arah yang positif sejak beberapa waktu belakangan ini, ternyata belum terlalu dinikmati oleh para petani kelapa sawit di Provinsi Papua.
Menurut Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Papua, Pdt. Albert Kofu, persoalan yang paling dominan dihadapi para petani di sana adalah pabrik kelapa sawit (PKS) yang berjarak relatif jauh dari areal perkebunan.
"Hampir tidak ada yang dekat (jarak antara kebun dengan PKS)," kata Albert kepada elaeis.comelalui sambungan telepon, Kamis (2/3).
Menurut Albert, jarak terpendek antara areal perkebunan dengan PKS sekitar 20 km. "Bahkan ada yang sampai 30 km lebih," ungkapnya.
Selain jarak tempuh yang jauh, menurut Albert, persoalan diperberat oleh medan jalan yang sebagian besarnya di antaranya dalam kondisi tidak layak. "Kalau hujan, berlumpur," terangnya.
Akibat kondisi itu, sambung Albert, petani sawit di Papua dihadapkan dengan biaya transportasi yang tinggi dari areal perkebunan ke pusat pemasaran. "Berat di ongkos," katanya.
Solusi dari masalah itu, menurut Albert, pihaknya sedang mengusulkan ke pemerintah melalui Wakil Presiden untuk dibantu pembangunan PKS. "Kami sedang melengkapi persyaratannya," ungkap Albert.
Petani Sawit di Papua Butuh PKS, Apkasindo Berat di Ongkos
Diskusi pembaca untuk berita ini