Serba-Serbi 
Inovasi Pertanian

Petani Sawit ini Mampu Taklukan Lahan Bekas Tambang

Petani Sawit ini Mampu Taklukan Lahan Bekas Tambang
Salah satu petani sedang melihat tanaman sawit di lahan bekas tambang timah milik Ari Sulistyadi. (Foto Dok. Pribadi)

Pangkalpinang, elaeis.co - Anjloknya harga pembelian tandan buah segar (TBS) beberapa waktu terakhir di banyak daerah tak mampu menghentikan kecintaan Ari Sulistyadi (51) terhadap tanaman kelapa sawit.

Kepada elaeis.co, Jumat (13/5/2022), petani sawit swadaya asal Desa Sinar Baru, Kecamatan Sungai Liat, Kabupaten Bangka induk ini mengaku telah membeli lahan bekas timah seluas enam hektar.

Ia berencana berkebun sawit di lahan tersebut.

Kata dia, lahan itu berpasir dan berlubang hingga kedalaman enam meter karena pernah digali untuk menambang timah.

Ia menutup banyak lubang di lahan itu dengan pasir yang ada di sekitarnya.

"Ya sampai enam meter ke dalam itu tetap pasir juga. Apalagi memang lahannya hanya sekitar 5 kilometer dari laut yang terdekat," kata anggota DPW Sawitku Masa Depanku (SAMADE) Provinsi Bangka Belitung (Babel) ini.

Ari tahu dan sudah memprediksi bakal kesulitan menaklukan lahan berpasir bekas galian tambang tersebut.

Tetapi Ari tak menyerah. Ia lalu mengumpulkan kotoran hewan (kohe), terutama dari ternak sapi.

Kemudian ia serakkan kohe sekitar satu kilogram (kg) di  sekitar pohon sawit yang akan ditanam.

Selain dengan kohe, ia juga menaburkan pupuk organik buatan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang penjualan langsung.

"Saya juga menggunakan pupuk kimia buatan PT Pusri. tapi persentasenya hanya sedikit. Yang penting PH tanah bekas tambang itu sudah mencapai 6,5 atau 7," kata Ari.

Untuk hal ini pun pria yang pernah menjadi konsultan salah satu perusahaan sawit di Babel tersebut terbilang nekad.

Ia berani menanam sawit walau baru memasuki usia lima atau enam bulan.

Padahal jamak diketahui kalau secara umum tanaman sawit ditanam di usia 10 atau 12 bulan.

"Iya, saya percepat saja nanamnya, yang penting PH tanah  itu sudah sesuai standar," kata Ari.

Dari enam hektar, baru tiga hektar yang ia tanam. Setiap hektar ia tanam 136 batang sawit dengan jarak 9x9x9 meter.

Hasilnya, tanaman sawit di kebun Ari tumbuh subur dan kini sudah memasuki usia 7 bulan.

Tapi ia sempat kaget karena ada sekitar 100 batang sawit yang dimakan oleh tikus.

Akhirnya Ari memutuskan untuk memagari setiap batang sawit yang ia tanam dengan kawat sehingga aman dari serangan tikus.

"Yang 100 batang itu sudah saya ganti dengan tanaman yang baru. Saya prediksi sekitar dua tahun lagi semua tanaman saya sudah TM 1 atau panen perdana," kata Ari.

Ia meyakini hal itu karena selain intensif merawat tanaman, juga karena bibit tanaman yang digunakan juga berkualitas dan tersertifikasi dengan jelas.

"Saya pakai bibit Topaz dan Sriwijaya, keduanya dikenal kuat di banyak jenis lahan," tegas Ari Sulistiyadi.

Editor: Hendrik Hutabarat