Siku Kata 

Pohon = Sejarah?

  • Reporter Aziz
  • 12 November 2021
Pohon = Sejarah?
ilustrasi. foto: idntimes

Pepohonan di rimba menjulang, meninggi, mengejar langit. Sebelum langit, pohon menjilat awan. Dalam awan ada hujan. Hujan merenjis baja. Penyerbukan pun terjadi.

Pepohonan pun berkisah tentang ketinggian, julangan, janggi dan bejana. Pohon ialah tegakan bejana air yang berangkai.

Pohon sejuk, menjadi ’rumah kehangatan’ bagi segala makhluk. Baja (cetak miring) dalam tanah bukanlah bijih, tapi vetsin penyubur.

Hari ini dia menjelma jadi pupuk. Baja alam dan baja buatan, bukan sekumpulan bijih cair yang dilebur menjadi Cilegon dan Khurasan.

Baca juga: Ihwal Akar

Antara baja dan langit, pepohonan berlomba-lomba menjulang dan menegak. Segala makhluk pun gamang memandang sesuatu yang tinggi dari lembah-lembah. 

Di Turki beberapa tahun silam, dipertemukan dua makhluk manusia yang paling tinggi dan paling rendah; Si tinggi kesulitan melihat si rendah. 

Si rendah bertanya kepada si tinggi sambil menatap sayup ke atas; “bagaimana iklim dan cuaca di atas sana?” Fikiran manusia pun menerawang.

Mungkin si rendah/pendek mengalami kekurangan baja (bukan malnutrisi). Atau di masa kecilnya tak pernah diperkenalkan dunia langit; menatap bintang-bintang malam.

Si pendek,mungkin hanya dimabukkan mengurus lelangit dalam rongga mulut. Ini sedutan sajak Sutardji: "minum darah burung, aku terbang … tanpa langit, pohon tak mungkin".

Pepohonan yang menjulang itu, bak wira menaungi, menghidupi dan menyerbuk kehidupan baru di bawahnya. 

Segala yang berada di cangkang kubahnya, berseru tentang keniscayaan tabiat wira. Pepohonan yang tinggi, bisa menjulang karena didorong oleh tumbuhan renek yang merayap dan melilit sekujur batang. 

Pun, tetumbuhan renek dan membelit itu pun memikul tugas kewiraannya sendiri. Membangun keriangan vegetatif. Perjumpaan keriangan sejarah botani dan físika. 

Kumpulan seluruh tanaman dan pokok kayu gigantis itu tetaplah serombongan bejana air yang menjulang.

Kita yang berjalan di sela-sela pokok kayu di dalam hutan adalah kita yang bergerak di antara bejana air vertikal. 

Pokok kayu dipancung akan menyemburkan air terstilasi, murni. Manusia pun menstilasi ego yang terlalu kuat dan cenderung narsistik. 

Dulu, manusia pertama yang turun ke bumi bak makhluk alien; mempersepsikan apa-apa yang ada di bumi ini adalah sehamparan yang mesti ditaklukkan. Atau segerombolan musuh yang harus dimusnahkan. 

Andai-andaian, manusia pertama yang mendarat di bumi ini sebagai makhluk migran generasi terakhir. Jauh sebelumnya telah banyak makhluk yang berganti-ganti datang ke bumi.

Namun mereka memelihara bumi. Tetapi makhluk generasi terakhir ini adalah serombongan makhluk pemusnah yang terkejut melihat kenyataan: begitu banyak ragam kehidupan yang terhampar di bumi. 

Sediaan-sediaan ini harus digelung dan bila perlu dimusnahkan untuk dan demi mempertunjukkan kepada mereka bahwa kita (manusia) adalah makhluk penakluk dan pemimpin atas serombongan makhluk senior. 

Ketika melayang di langit, sebagai generasi terakhir yang akan mendarat ke bumi, manusia terkagum-kagum melihat hijau, rimbun, hamparan laut dan buih; menangkap obyek dengan mata burung. 

Di seberang lain, manusia terserang gejala jiwa nan rapuh; gamang menjadi imam bagi sebuah jemaah yang lebih senior. 

Kegamangan ini berakibat fatal. Demi menyudahi kegamangan, manusia berubah menjadi sosok yang tak terkendali @ terliarkan. Sebelum bumi menjadi habitat, makhluk ini telah mendiami sebuah planet nun.

Tersebab tabiat pemusnah yang melekat dalam dirinya, planet nun itu pun hancur musnah. Mereka selanjutnya melakukan migrasi ke planet baru bernama bumi nan hijau. 

Senjata paling ampuh yang dijinjit adalah ’nafsu pemusnah’; melalui kekuatan akal dan akal-akalan. Makhluk ini telah mengalami kesesatan agung selama menghuni planet nun; Membangun idiom sesat, ideologi sesat, keimanan sesat, sejarah sesat. 

Dan sejarah itu sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Arab bermakna ’pohon’.

Nah, inilah pohon yang dibangun dalam ruhani manusia untuk menebas lupa. ’Pohon’ sebagai sejarah yang terhampar untuk menjelaskan segala fenomena alam raya (universe) ini disebut dengan fisika.

Jika hendak berkenalan dengan lipatan terdalam dan terhalus, langgam chaos dan cosmos alam raya ini, tiada pilihan: Selamilah ilmu fisika. 

Inilah wujud pohon nan tinggi. Dan dia ditegakkan dalam tradisi Yunani ribuan tahun lampau. 

Pohon bagi perjalanan akal budi yang bertugas mencatat segala tragedi dan komedia ruhani, disebut sebagai sejarah. 

Sepanjang larian sejarah itu pula manusia tergila-gila membesarkan diri, peran diri dalam tugas-tugas mengenderai masa lalu yang dalam kilas hari ini sebagai bakti, sebagai tugas kesejarahan atau malah profetik.

Kita lupa, gagap di persimpangan jalan. Kita adalah makhluk yang melekat dalam keping sejarah sebagai makhluk pemusnah dan gampang sesat. Pemusnah dan mudah sesat inilah yang dinukil dalam sejarah panjang manusia sebagai bagian dari peran dramatis kewiraan. 

Setiap orang pun berlomba-lomba mengejar perilaku pohon yang terangsang mengejar langit nan tinggi, melalui tabiat kemuncak, tabiat menakluk, tabiat menguasai, tabiat menggelung mangsa, tabiat berkilah dan silat lidah. 

Tabiat pemusnah dan rentan dengan kesesatan ini kian menjadi, ketika dia disuburkan oleh keberanian atas segala resiko. Bahwa orang yang beranilah yang mampu mengubah diri dan dunia.

Seseorang yang punyai segunung ide, jika dia tak punya keberanian, dia akan terpencil dalam kebekuan zaman. Ide akan dibakar oleh lahar gunung itu sendiri. 

Namun, berkat keberanian, manusia tak bisa lagi membedakan mana ide yang cerlang dan ide yang berpangkal dari kebodohan kolektif. Kebodohan ini dapat pula dibeda menjadi kebodohan alamiah dan kebodohan ’memaksa’. 

Sudah jelas bodoh, namun tetap memaksakan kebodohan menjadi bagian dari kebenaran umum. Maka, terbirahilah manusia untuk mendewakan dirinya bagai pohon menjulang. Dialah pusat tumpu zaman dengan jasa dan perbuatan peradaban. 

Terjerat klaim historis sebagai pahlawan. Walau sejatinya sesat. “Weh dem Land, das Helden noetig hat”; kasihan bangsa yang memerlukan para pahlawan, ujar Bertolt Brecht.


 

Editor: Abdul Aziz