Nusantara 

Provinsi Riau: Habis Minyak di Bawah, Terbit Minyak di Atas

Provinsi Riau: Habis Minyak di Bawah, Terbit Minyak di Atas
Foto tangkapan layar penjelasan Tungkot Sipayung dalam video PASPI

Siak, Elaeis.co - Provinsi Riau, jagonya kelapa sawit Indonesia. Mungkin kata itu layak disematkan ke bumi lancang kuning ini. Memiliki kebun sawit hampir 3,4 juta hektare, menjadikan Riau provinsi kawasan penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia.

Bahkan mengalahkan Sumatera Utara sebagai produsen sawit pertama di Indonesia. Ini terlihat dari produksi CPO Indonesia. Sumatera Utara hanya menyumbang 13 persen, sementara Riau, menyumbang 20 persen dan menghasilkan devisa sawit untuk negara hampir USD 5 miliar atau sekitar Rp82 triliun.

"Jadi, kalau sawit Riau goncang, pengaruhnya hingga ke sawit dunia. Sebab, tidak hanya di Indonesia, skala dunia pun Riau juga merupakan provinsi yang memiliki perkebunan kelapa sawit terluas. Luar biasa kan," kata Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung dalam video PASPI ditengok Elaeis.co, Jumat (1/10).

Laju perkembangan kelapa sawit di Riau dari tahun 1990-2020 memang cepat. Apalagi perkebunan sawit rakyat. 

Di tahun 1990, perkebunan milik rakyat hanya sekitar 55 persen dari total luas perkebunan kelapa sawit di Riau saat ini. Sementara tahun lalu, sudah mencapai 65 persen. 

Tungkot pun menilai, Riau cepat 'beralih gigi' mengembangkan perkebunan kelapa sawit setelah melihat hasil Migas tidak begitu menjamin lagi. Itu dilihat dari struktur ekspor porsi Migas yang makin lama makin menurun. Sementara ekspor non migas makin lama makin naik.

"Minyak bawah bentar lagi akan habis. Apalagi selama ini, tidak bisa semua masyarakat sembarangan masuk ke dalam sana (Migas). Namun Riau berhasil tukar gigi cepat beralih ke minyak atas yang lebih berkelanjutan, yaitu sawit. Walau pun nantinya habis minyak bawah, Riau masih punya minyak atas," kata Tungkot.

Editor: sahril ramadana