Bisnis 

PT PI Turunkan Tim, Cari Penyebab Harga Pupuk Naik

PT PI Turunkan Tim, Cari Penyebab Harga Pupuk Naik
SVP Pemasaran PT PI, M Syafi'i

Pekanbaru, Elaeis.co - Tingginya harga pupuk di pasar Indonesia tidak ditampik PT Pupuk Indonesa (PI). Namun, PI membantah kenaikan yang terjadi di internalnya serti yang terjadi di lapangan. Dengan kondisi itu, maka  pihaknya saat ini tengah melakukan survei guna mencari sumber masalah kenaikan pupuk tersebut.

"Harga itukan memang berkaitan dengan market. Namun hanya apakah naiknya di level kita atau hingga kelas petani. Saat ini kita tengah survei," terang SVP Pemasaran PT PI, M Syafi'i kepada Elaeis.co, usai kegiatan Diskusi Santai dengan DPP Apkasindo, Gulat Manurung, Rabu (8/9).

Diterangkannya, beberapa hari belakangan ini pihaknya tengah melakukan survei dengan turun langsung hingga lini petani. Tak terkecuali di Riau, pihaknya juga menggali informasi dari DPP APKASINDO terkait kondisi harga pupuk di lini petani kelapa sawit.

"Manang benar ada kenaikan harga pupuk dari PI, namun besarannya gak sampai 71 persen seperti yang terjadi di lapangan. Untuk itu kita lihat dimana permasalahan sebenarnya," bebernya.

Dikatakannya, kenaikan harga yang terjadi di perusahaan BUMN itu hanya sebesar 20-30 persen saja. Sementara dipasaran harga pupuk sampai menyentuh 75 persen.

"Nah ini apakah ini praktek pasar atau lantaran dari sisi suplay yang menyebabkan naiknya harga tadi," terangnya.

Dikatakan Syafi'i kenaikan harga yang terjadi di PT PI salah satunya adalah dipengaruhi dengan meningkatnya harga bahan baku pembuatan pupuk tersebut. Malah bahan baku itu juga diimport dari luar negeri.

Meski begitu, sebagai perusahaan milik negara PT PI akan berkomitmen mendukung pemerintah. "Kita tetap berpihak kepada petani. Namun memang ada beberapa segmen juga yang menjadi fokus pemerintah. Seperti Sawit, Hortikultura, tanaman Pangan dan sebagainya. Jadi, survei ini menjadi perbaikan kita untuk kedepan," jelasnya.

Saat ditanya apakah ada permainan harga dari di lini pasar, Syafi'i tak dapat berkomentar banyak. Namun ia menjelaskan pupuk itu terbagi atas pupuk subsidi dan non subsidi.

"Jika pupuk subsidi maka ada aturan ketat yang mengatur harga di pasar. Sementara kalau non subsidi harga ditentukan pasar," terangnya.

"Saat ini kita masih berupaya semaksimal mungkin menekan harga pupuk. Meski begitu kita juga gak ingin negara rugi dan masyarakat juga kesulitan mendapatkan pupuk," tandasnya.

Tingginya harga pupuk yang meningkat hingga 75% saat ini dikeluhkan para petani sawit. Bahkan dengan tingginya harga pupuk hingga tiga bulan terakhir ini membuat para petani sawit terancam tumbang. Sebab tingginya biaya produksi akibat melambungnya harga pupuk tadi.

Sementara itu, Distibutor Pupuk Kaltim di Riau, Kharisma yang turut hadir dalam diskusi tersebut mengatakan apresiasi terhadap PT PI yang cepat tanggap dengan kondisi melambungnya harga pupuk di Indonesia.

"Diskusi ini sangat bermanfaat bagi kita. Terlebih kita bisa dengar langsung keluhan petani sawit tentang naiknya harga pupuk tersebut. Selain itu petani juga dapat memahami apa yang terjadi khususnya dalam hal naiknya harga pupuk itu," tandasnya.

Ketum DPP Apkasindo, Dr Ir Gulat Manurung, MP, tingginya pupuk itu dirasakan para petani di 22 provinsi di Indonesia.

"Kenaikan harga pupuk ini merata baik NPK dan tunggal. Kalau harga pupuk tidak terkendali, biaya produksi dipastikan naik," katanya saat diskusi bersama PT Pupuk Indonesia (PI), Selasa (08/09).

Dari informasi yang didapat Gulat, kenaikan harga pupuk itu terjadi lantaran harga bahan baku pupuk tersebut melonjak. Malah sebagian besar juga diimport.

"Yang jadi pertanyaan kami, bahan baku apa yang naik?," tanya auditor ISPO ini. 
Gulat merinci, kenaikan ini terjadi untuk harga pupuk loco gudang seperti terjadi di Riau. Contohnya, harga pupuk NPK Pelangi Pupuk Kaltim naik 72% dari Rp5.5490/kg menjadi Rp7500/kg. 

Begitupula pupuk NPK Mahkota Wilmar Wilmar naik sekitar 69% dari Rp5.400/kg menjadi Rp7790/kg. Sementara, pupuk berkontribusi 55-60% bagi komponen biaya produksi petani. 
"Kalau terus naik,  petani akan bangkrut. Walaupun, harga TBS sawit sedang tinggi," bebernya.

Tak hanya itu, laporan dari petani Sumut, harga pupuk NPK naik menjadi Rp11.000/kg. Di Mukomuko, Bengkulu, harga KCL semula tertinggi Rp 280 ribu/sak, sekarang sudah mencapai Rp 490 ribu/sak dan pupuk  urea sudah mencapai Rp 390 ribu/sak.

Kemudian di Kalimantan Selatan, harga pupuk NPK formula 15-15-15 juga naik antara Rp7.500-Rp8.500/kg. "Kenaikan harga pupuk tentunya meningkatkan biaya Produksi (HPP). Dan biaya pemupukan ini diperkebunan Kelapa Sawit menyerap 60% dari total rata-rata Biaya Produksi. Berat memang," tandasnya.

 

Editor: Sany Panjaitan