Siku Kata 

Pupuk Mengamuk

  • Reporter Aziz
  • 20 Oktober 2021
Pupuk Mengamuk
Pupuk Urea. foto: petrokimia-gresik.com

Antara ratap dan amok; begitulah cerita pupuk bagi petani sawit. Antara disorak dan penyorak: Sebenarnya orangnya itu-itu juga, ujar Julia Kristeva. 

Penyorak sekaligus merangkap disorak. Deretan mental karnaval yang dipersembahkan dalam kehidupan berjenang: Tak terkecuali, pupuk. 

Untung ada serpihan kisah harga pupuk menaik dan menanjak. Ya, dia jadi sebuah kejutan sekaligus membentuk sebuah kesadaran yang tak saling menguntungkan (unglueckliche Bewusstein) kata kami orang Jerman. Horreee...

Berkat harga pupuk naik, setiap orang bersorak geram. Inilah kesempatan pamer antara pesorak dan disorak. 

Baca juga: Kebahagiaan Laten: Aduhai Datok

Wakil rakyat di Parlemen, meminjam kesempatan ini sebagai sebuah ruang seksi nan penuh gairah, demi membentuk kesadaran eksistensial (aku ada dan penting). 

Para konglomerat sawit yang membungkus diri selaku petani, menggadaikan momen ini sebagai pendaku marhaen (petani) sejati. Seakan-akan dia membela petani, tapi nyatanya dia produsen pupuk dan distributor pupuk itu sendiri. Bisa dalam posisi broker, pialang atau mediating person (tukang pakang).

Seorang gadis yang tengah mabuk kasmaran: berkeputusan untuk menikah dengan seorang perjaka ganteng dan cakep. Namun, sang Ayah tak merestui hubungan ini. 

Restu dan kemerestu-an adalah ‘jalan eksistensial’ (en-soi) ujar Marleau-ponty yang digenggam dalam peran seorang Ayah. 

Sejak itu, si Gadis baru ‘menyadari’, mengalami sentakan; perlunya sosok ayah. Pentingnya peran seorang Ayah, ketika ‘restu’ menjadi ‘area suci’ yang terhubung dengan langit dan lelangit kesadaran. Di sini, ‘restu’ hadir dengan keperkasaan ‘singularitas’-nya. Tidak dalam hamparan ke-mendua-an yang ambigu.

Harga pupuk mengamuk. Ini juga sebuah sistem kohabitasi antara petani secara tak sadar berkencan dengan buruh (pekerja kasar kilang pupuk) dan pemilik pabrik walau dalam kerdip sesaat. 

Telah berapa purnama petani dimanja dengan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang mempiramid? Bahwa di seberang sana ada pula rerangkai pekerja kasar dan buruh yang berkurung dalam kilang (pabrik pupuk) yang juga memerlukan apresiasi seimbang. Ini mungkin bahasa dan alasan yang dibangun oleh pihak sebelah pengada pupuk. 

Pupuk, jenis apa pun; urea, NPK atau pupuk tunggal, bukanlah sebuah peristiwa yang terjun dari langit. 

Bulat, silinder dan meluruskan terjunannya ke muka bumi Indonesia, tanpa ba bi bu dan bo... Pupuk, lahir dalam sebuah proses yang diulang-ulang, bertarung dalam majelis mekanisme pasar dan pertukaran pasar yang juga berada di luar kuasa buruh kilang dan petani. 

Marx sudah demikian sublim menyorak sisi ‘alienasi’ diri dan ‘alienasi ekonomi’ ini dalam domain produksi masif era kapitalisme yang parau.

Pupuk tak semata kegiatan kimiawi. Dia memerlukan sejumlah kehadiran; bahan baku, pekerja, manajemen, pemasaran, sistem pertukaran, jebakan-jebakan kelalawar ekonomi dan tekanan politik. 

Di samping itu, regulasi yang juga parau antara pekerja kilang pupuk dan elemen manajemen yang sibuk dengan ruang kerja ‘rohani’ (alias deretan para ambtenar kerah putih/white collar) yang mencabut dan merampas kenikmatan produksi (kerja) yang sejatinya menjadi milik para buruh kasar, jejaring pemasar runcit (kecil) yang juga mendekam dalam kegaguan fungsional.

Alias, pada sistem pengadaan pupuk sebagai peristiwa kimiawi, secara otomatis melibatkan sekumpulan orang tanpa nama (anonymus), namun cukup ditandai dengan “kerah baju nan biru” (blue collar); pekerja kasar, buruh yang tak pernah memetik kenikmatan produksi.

Alias, kerja bagi kaum ini tak lebih dari sebuah kewajiban, bukan untuk memenuhi keperluan hidup sendiri, bukan untuk kepuasan batini, akan tetapi demi mengambil alih fungsi-fungsi mekanis seonggok mesin. 

Kenikmati kerja beralih ke orang lain (kerah putih atau kaum ‘the have’). Buruh, ujar Marx harus setia menyandang sapaan ‘the have not’ (tak berpunya). Alhasil, mereka (para buruh) tak lebih dari entitas mesin dalam wujud daging.

Harga pupuk meninggi, bukan hanya dilihat dari tatapan mata petani. Lihat juga kenyataan eksploitasi produksi yang membahang di sisi pabrik sebelah sana. 

Tak semata memanfaatkan momen ini sebagai panggung kencana bagi seekor merak yang meliuk demi memamer pesona kepak-sayap (politisi, penguasa sawit berselimut petani, broker). 

Merak itu, mencuri, mengail dan mengumpan momen ini dalam sejumlah jelitaan fungsional. Bukan struktural. 

Inilah tampilan ‘kasta rendahan’ dalam sorak-menyorak dan gelak tawa yang dihadirkan oleh fenomena karnawal atau mental pawai dan ta’aruf itu. 

Mereka yang tertawa, sekaligus ditertawa. Mereka yang bersorak, sekaligus serombongan yang disorak.

Mereka yang gegap gempita dalam pawai topeng adalah sejumlah tipuan tentang eksistensi dan kehadiran yang ‘menopeng’ kan ‘aku sejati’, ‘aku sebenar’, ‘aku jeluk’, ‘aku yang berkesadaran’. Lantas, di mana Aku?...



 

Editor: Abdul Aziz