Jenggi 

Realitas Ilusif

  • Reporter Aziz
  • 16 Agustus 2021
Realitas Ilusif
ilustrasi. foto: mindmatters.ai

Antariksawan menemukan rotasi bumi terus melambat, tidak seperti bumi muda yang rotasinya hanya beberapa jam. Sebaliknya realitas dan pengetahuan kita terdorong semakin cepat. Banyak temuan-temuan baru yang mengubah cara pandang manusia terhadap realitas. 

Yang dulu tampak mengada-ada, sekarang sudah menemukan pembuktiannya, seperti bagian belakang black hole yang pernah disebut Einstein, atau empat teori aneh Hawking yang terbukti benar. 

Dulu sains dan ilusi bercampur aduk. Seperti kata Thor dari Asgard, di planet mereka tidak ada bedanya antara sihir dengan sains. Saat ini apa yang dulu dianggap melampaui fisika (metafisika), beberapa darinya sekarang adalah fisika itu sendiri. Telah ada pemisahan tegas antara astrologi dengan astronomi, misalnya.

Baca juga: (Ilusi) Cinta Dante

Di luar itu ada satu pertanyaan yang tak pernah terjawab, dan dilupakan begitu saja (taken for granted). Pertanyaan ini adalah tentang apakah setiap gerak kita telah ditentukan atau bersifat acak? Tentang teori deteminisme dan kehendak bebas (free will), apakah takdir bekerja sempurna atau sebagian? Apakah takdir dan keacakan tidak saling membentur?

Dulu determinisme yang sempat popular di zaman helenistik dianggap ketinggalan zaman. Penganut stoa menggunakan metode pasrah terhadap realitas, serta menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan. Akibatnya dunia tidak bergerak. Fase ini disebut abad-abad kegelapan.

Para tiran pula memakai cara ini, untuk memetakan kasta dan menetapkan status budak pada jelata, serta mengangkat dirinya sendiri sebagai wakil Tuhan di bumi.

Humanisme kemudian muncul bersama renaisans. Para eksistensialis bangkit untuk meneguhkan kemanusiaan kita. 

Tapi belakangan muncul para saintis yang memihak teori kuno deterministik itu, serta membelakangi panji-panji eksistensialisme. Manusia tidak eksis berdasarkan realitas yang mereka pikirkan.

Para determinis menyebut kita telah dan sedang dalam pengendalian penuh Tuhan, dan para sekuleris ultra modern, misalkan Bostrom dari Oxford, Terrile dari Nasa, dan Elon Musk pemilik Space X, punya landasan logis untuk mengatakan bahwa kita sedang berada dalam dunia simulasi di bawah pengawasan entitas superior di luar sana. Lalu oleh para saintis, kehendak bebas dianggap sebagai ilusi.

Sebagian saintis modern mau tidak mau telah membenarkan argumen klasik tentang keteraturan gerak alam. Tidak ada yang acak dan kebetulan. Tuhan (atau entitas superior yang mereka persepsikan) telah menulis dan mengendalikan kita. Tidak satu pun daun jatuh tanpa diketahui oleh-Nya.

Secara sains, belum ada yang bisa menjawab, apakah kita benar-benar memiliki kehendak bebas, atau mutlak dalam pengendalian. Seperti kata Rumi, ada perselisihan (yang akan berlanjut) sampai umat manusia dibangkitkan dari kematian, antara yang membutuhkan dan pendukung kehendak bebas. 

Sementara ada serangkaian eksprimen untuk membuktikan bahwa otak membuat keputusan bawah sadar sebelum ia menyadarinya. Artinya kita terdertiminasi, realitas di depan kita telah dirancang sampai kita melewati garis waktu linier untuk mencapainya.

Baca juga: Filantropi: Andrew Carnegie

Donald Hoffman, Profesor Ilmu Kognitif dari Universitas California lain lagi ceritanya. Dia menggunakan teori permainan evolusi untuk menunjukkan bahwa persepsi kita tentang realitas mandiri harus menjadi ilusi. Dia percaya bahwa indera kita tidak membutuhkan kita. 

Telah tiga puluh tahun ia mempelajari persepsi, kecerdasan buatan, teori permainan evolusi dan otak untuk membuat kesimpulan yang sangat dramatis: dunia yang disajikan pada persepsi kita tidak ada hubungannya dengan kenyataan. 

Pertanyaan gabungannya adalah, apakah kita punya kehendak bebas dalam realitas (semu)? Tapi bila tidak ada kehendak bebas, untuk apa pencatatan pahala dan dosa? 

Tapi bukankah Tuhan telah tahu hasil akhir dari semua proses? Artinya Tuhan akan membimbing proses itu sesuai hasil akhirnya? Lalu untuk apa semua proses ini, bila hasil akhirnya telah diketahui? Tapi..? Lalu..? 

Editor: Abdul Aziz