Pasaman Barat, elaeis.co – Pohon sawit yang sudah renta biasanya cuma jadi beban. Produksi turun, biaya peremajaan mahal, dan ujung-ujungnya dibiarkan berdiri tanpa kepastian.
Tapi di Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), nasib sawit tua kini berubah arah. Batangnya tak lagi sekadar ditebang, niranya justru disulap jadi gula bernilai ekonomi.
Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Sumatera Barat resmi meluncurkan program “Tebang Pohon Sawit Gratis”, sebuah terobosan yang menyasar petani dan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Pasaman Barat.
Program ini menawarkan penebangan sawit tua tanpa biaya, dengan imbal balik pemanfaatan nira sawit sebagai bahan baku gula sawit yang dikelola masyarakat.
Kepala Balitbang Provinsi Sumatera Barat, Febrina Tri Susila Putri, menyebut program ini dirancang sebagai solusi dua arah. Di satu sisi membantu petani dan pemilik kebun yang kesulitan biaya peremajaan, di sisi lain menjamin pasokan bahan baku gula sawit agar tetap berkelanjutan.
“Tebang pohon sawit gratis bertujuan membantu petani sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku gula sawit secara berkelanjutan,” kata Febrina dalam keterangan pers, Selasa (3/2).
Penebangan sawit dilakukan oleh masyarakat Nagari Sungai Aua, Kecamatan Sungai Aur, yang selama ini mengembangkan usaha gula merah berbahan dasar nira sawit.
Dari batang sawit yang ditebang, nira disadap lalu diolah menjadi gula sawit, produk alternatif yang mulai dilirik pasar karena dinilai lebih alami dan bernilai tambah.
Program ini bukan ide dadakan. Febrina menjelaskan, Tebang Pohon Sawit Gratis merupakan inovasi turunan dari kegiatan perekayasaan gula sawit yang telah lebih dulu dikembangkan Balitbang Sumbar. Gagasan ini juga diprakarsai oleh anak muda lokal, Ali Akbar, S.Pd, yang aktif mendorong pemanfaatan sawit tua agar tidak terbuang percuma.
Menurut Febrina, pengembangan industri gula sawit selama ini sangat bergantung pada ketersediaan pohon sawit tua atau tidak produktif.
Namun di lapangan, banyak petani enggan menebang sawit karena terbentur biaya, keterbatasan alat, hingga minim tenaga kerja. Akibatnya, potensi nira sawit yang besar justru terabaikan.
Melalui program ini, penebangan dilakukan tanpa pungutan biaya bagi pemilik kebun, baik petani mandiri maupun perusahaan swasta. Polanya berbasis kolaborasi, melibatkan pemerintah daerah, kelompok usaha, dan masyarakat setempat. Sawit yang ditebang tak langsung jadi limbah, melainkan masuk ke rantai produksi gula sawit berbasis inovasi teknologi.
Balitbang Sumbar menilai program ini memberikan manfaat berlapis. Selain meringankan beban petani dalam peremajaan kebun, Tebang Pohon Sawit Gratis juga menjamin kontinuitas bahan baku industri gula sawit, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal, serta mendorong praktik ekonomi sirkular di tingkat nagari.
Tak kalah penting, keterlibatan langsung masyarakat membuat manfaatnya terasa nyata. Dari pohon yang dulu dianggap tak berguna, kini mengalir nira yang mendidih perlahan di dapur-dapur produksi, berubah jadi gula sawit berwarna cokelat keemasan. Ada bunyi gelegak, aroma manis, dan harapan baru bagi ekonomi lokal.
Dengan program ini, sawit tua tak lagi identik dengan masalah. Di Pasaman Barat, ia justru jadi pintu masuk inovasi, menyambung kepentingan petani, riset pemerintah, dan denyut ekonomi masyarakat. Sebuah contoh bahwa dari batang yang ditebang, kehidupan baru masih bisa tumbuh.
Sawit Petani Sudah Tua Balitbang Sumbar Gelar Tebang Gratis, Niranya Disulap Jadi Gula
Diskusi pembaca untuk berita ini