Jenggi 

Senjakala Humanisme

  • Reporter Aziz
  • 08 November 2021
Senjakala Humanisme
ilustrasi. foto: esilo.com

Kita benar-benar sedang adu cepat di jalur bebas hambatan. Kemanusiaan kita sedang dilawan oleh sistem kecerdasan buatan. Bahkan kita sedang diretas, kita ditelanjangi, mereka mulai tahu apa isi perut kita, memaksa masuk ke ulu hati kita, dan menduduki kepala kita. Sedikit lagi kita seperti zombie.

Mampukah kita tetap di jalur cepat, bisakah kita menyalip, paling tidak, tidak terlontar ke bahu jalan, atau menabrak beton pembatas antara mitos dan realitas. Atau tegakkan bendera putih, menyerah saja, meminta mereka untuk memasuki sistem navigasi kita. Membiarkan mereka mengambil alih kepala kita.

Sepanjang bentang gurun gelap peradaban kita, sekelip api kemanusiaan yang jatuh di langit Athena, berpijar terang di atas kantung-kantung renaisans. Manusia tengah mendapatkan dirinya. Humanisme ditegakkan.

Tidak cukup sebegitu, manusia tengah berpikir untuk melampaui nalar wajar, mendekati dewa-dewi. Nietzsche pun merangkai diktum tentang super human serta memvonis mati mentalitas ternak. Terlihat seperti oase di tengah kedangkalan harian kita, bahwa kita bisa menjadi super. 

Begitu banyak hiburan yang didendangkan para pemikir humanisme, sebutlah Unlimited Power dari Tony Robbins, Metahuman dari Deepak Chopra, atau Becoming Supernatural-nya Joe Dispenza, dan apapun yang bertendensi untuk mendorong manusia keluar dari kesahajaan mereka. 

Baca juga: Lompatan Kuantum

Bukan tidak mungkin, tapi itu butuh proses yang berat, dalam tabiat kekinian yang serba instan.

Kemanusiaan kita akan selalu berwatak sombong, sehingga kita hampir tak pernah memberikan sandi cuma-cuma kita kepada mereka. Tapi apa yang terjadi, kita diretas. 

Diretas adalah terminologi teror, kita terancam? ternyata tidak benar-benar seperti kelihatannya. Kita bahkan jauh lebih tertolong.

Apa sebab? Kita tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita tidak tahu persis apa penyakit yang sedang kita idap, kita tidak tahu makanan dan pasangan terbaik kita. Apa talenta yang telah kita abaikan dan seterusnya. Tapi mereka tahu. Mereka tengah memetakan histori dan orientasi kita dari setiap sudut. 

Kita dikutuk untuk apa yang disebut sebagai human error, mereka mampu membebaskan kutukan ini. Dunia semakin paradoks. Kemanusiaan kita akan diasuh oleh ciptaannya sendiri.

Penulis fenomenal ini, yang telah mengabarkan kepada dunia sisi dramatis akhir kemanusiaan kita, ternyata adalah korban (dalam tanda petik). 

Yuval Naoh Harari telah diretas. Mesin AI dari dari sebuah merk minuman soda ternama mampu mendeteksi orientasi seksual Yuval, mereka mengirim iklan yang tepat: pria macho. 

Kekasih pria gay Itzik Yahap ini blak-blakan sebagai penganut LGBT, dan ia mengaku iklan tersebut sangat berhasil, begitu masuk ke supermarket, ia otomotis memilihnya ketimbang merk lain yang tidak peka.

Yuval seperti menikmati pembajakan dirinya. Sebagai contoh bahwa kita tak lagi bisa bersembunyi. Mereka mengantungi semua aib kita. Jika itu ingin disebut aib, atau seluruh kebutuhan kita. 

Apa yang muncul di layar telepon pintar kita, itu bukan kebetulan. Bila kita butuh dan menikmati peretasan ini, sebenarnya kita telah menyerah. Retorika seperti manusia super atau manusia meta akan makin terdengar sayup-sayup. 

Kita akan mungkin malas menegakkan sisi kemanusiaan kita, ketika ada jalan pintas di depan sana. Manusia-manusia renaisans akhirnya punah, ada manusia-manusia di belakang layar yang sedang menghidupkan mesin peretas (algorithm hacker) terus menerus, mesin yang akan menggantikan seluruh kita. Memecat kemanusiaan kita. Ini tidak main-main.

Siapa manusia yang telah kita puja seumur hidup, mereka akan mencetak kelipatannya. Mereka bisa mendatangkan tepat di depan hidung kita gabungan dua polar antara Albert Einstein dan Rabindranath Tagore, atau genius Leonardo da Vinci dan Michelangelo. Mungkin Madonna dan Ariana Grande. Bisa pula Hang Tuah dan Hang Jebat? Asal ada salinannya.

Artinya bila para tradisionalis tak berhenti memuja leluhurnya, mereka bahkan dapat membuat paket yang jauh lebih sempurna. 

Dan bila kita sudah menjejak level tertinggi pencapaian akademis berpuluh tahun serta talenta tiada dua, suatu saat sembarang orang yang tak pernah melihat papan tulis, bisa ditanamkan seluruh kecerdasan Nikola Tesla (siapapun) ke dalam kepalanya dalam hitungan jam. Bisa pula dipasangkan kekuatan super ke dalam tubuhnya. 

Kita berakhir sebagai pekerja keras yang tidak kemana-mana dan terpaku dalam mitos-mitos yang kita imajinasikan sendiri. 

Kita gembira sendirian dalam wadah sempit, tinjauan pendek dan repetisi seumur hidup, padahal kita semakin menjadi objek dari komputer kuantum, diungkai menjadi bagian dari himpunan algoritma global, diutak-atik, diseleksi, lalu menjadi objek yang tidak relevan untuk ikut serta dalam mengatasi atau justru menjadi penyebab ancaman global.

Kemanusiaan kita sedang dipermainkan? Keagungan kita sebagai kalifah bumi sedang dijadikan marmut percobaan? Apakah ini ancaman? Apakah sepenting ini memikirkan derajat kita? 

Telah diwariskan bumi hijau dan langit biru kepada kita. Kita membakarnya. Kita bergotong royong untuk mengoyak lapisan ozon. Hari-hari ini kita sedang dalam hitungan mundur perubahan iklim yang mencairkan gunung es. Menenggelamkan kota-kota pantai dan segala akibat pemanasan global.

Andaikan telah sejak lama otak kita diretas, kutukan atas kemanusiaan kita lebih cepat mendapat ramuan penawar, bumi ini tidak terancam. 
Andai sistem navigasi dan otomasi telah ditanamkan di setiap mobil, kita mungkin tidak melihat Pajero Sport selebritas Vanessa Angel sehancur itu, dan Lady Diana dapat tersenyum lebih lama. Andai..
 

Editor: Abdul Aziz