Siku Kata 

Sihir

Sihir
ilustrasi. foto: net

Sihir menjadi mungkin karena diam. Di dalam diam dan senyap segala energi gaib (lapis kedua) terkulum-himpun. 

Sihir juga menjadi mungkin oleh ilmu. Tarik-menarik antara diam (ngelmu) menjadi ilmu berkembang bak gelombang bergerigi. 

Sihir adalah sebuah ruang gaib menjadi real (ilmu). Saking dahsyatnya desakan sihir, dia malah disapa sebagai ‘ilmu’ sihir (syihr).

Sihir itu sendiri adalah peristiwa ‘memberi’ dengan kadar ‘menuju’ atau ‘mengarah’ atau ‘menghala’. Maka disebutlah kisah ‘tuju’ atau ‘teluh’, bak peluru kendali atau missile

Ketepatan ‘digitalized’ sasaran adalah kaidah utama dalam suatu tindak sihir. Tak boleh salah ‘tuju’. Dia harus ‘menuju’ ke satu ‘tuju’ (arah dan sasaran serba presisi). 

Sihir = memberi, walau petaka. ‘Memberi’ dalam kaidah sosiologis sekaligus ingin menunjukkan superioritas sang pemberi. 

Dia boleh dikopulasi sebagai hadiah. Hadiah menjadi mungkin kalau terbangun struktur segitiga peghadiahan (Marcel Mauss); pemberi, penerima dan tindakan balasan.
 
Kamus Dewan; “sihir sejenis ilmu ghaib (guna-guna, mantera, pukau) yang boleh menyakiti atau mempesona orang”

Alamat berikutnya, dia disapa sebagai ‘ahli sihir’= orang yang memiliki ilmu sihir. KBBI; “ilmu tentang penggunaan kekuatan gaib, ilmu gaib (teluh, tuju dsb”)

Namun, sampiran cerdik dan kreatif mengenai sihir dibangun oleh David Blaine menjadi; “sihir bukan tentang memecah teka-teki. Ini tentang mencipta momen kekaguman dan keheranan. Dan itu bisa menjadi hal yang indah”. Pilih mana; petaka atau pesona?

Semua pilihan itu membawa akibat menggetar. Sihir berkelindan dengan ilmu falak  (perbintangan). 

Sang Bapa ilmu astronomi bernama Hormuz, versi lain Hermes atau Khanukh atau Idris. Perhitungan ekliptikal (al buruj) planet ke dalam sebuah tabel yang dimuliakan. Ini bukan sejenis sihir ‘guna-guna’, ‘teluh’ atau ‘tuju’. 

Namun adalah ‘sebenar’ ilmu tentang revolusi planet. Hormuz lah yang menggambar segitiga (ingat lagi ‘segitiga hadiah’); segi empat, segi enam, sudut berlawanan dan garis sejajar. 

Inilah bagian kisah dari revolusi planet. Para pengagum As-Sabiah atau Hunafa berkata; hukum-hukum dasar astronomi Hormuz ini lah yang tersambung dengan pengaturan masyarakat (manusia). 

Masyarakat India kuno dan Arab jahiliyah menetapkan hukum dan ketentuan tatanan sosial merujuk pada posisi planet, bukan menurut peredaran planet (revolusi planet). Lalu, sihir-menyihir pun berkelebat melintas lelangit pada dua kaum benua ini.

Ketika dia membumi, pengaturan jejaring planet ini menjadi seruan nubuah; bagaimana menemukan orang baik? Hormuz bersabda; “bersualah dengan orang ramai dalam suasana indah, dan bergaullah dengan orang banyak dalam pergaulan nan molek pula”. 

Selanjutnya, kita akan bertemu dengan sudut saling berlawanan. Inilah sudut ‘tak produktif’ dengan frekuensi energi rendah alias negatif. 

Sihir berada dalam medan ini. Pembawaan sihir itu sendiri sangat tidak beraturan, cenderung mengarah pada hal-ihwal yang diharamkan dalam majelis sosial. 

Dia bersifat tunggal, pribadi dan rahasia. Sihir terisolasi, misterius dan terfragmentasi. Mauss yang mendalami ‘medan ilmu sihir’ ini memberi tajuk rangkuman sosial sekaligus non-sosial, bahkan anti-sosial. 

Dalam keserempakan waktu, dia menjadi ancaman ke atas realitas sosial serta batasan-batasan yang memberi makna kepadanya. 

Para penyihir, (sekali lagi) sebagian besar wanita, juru teluh dan santet bisa pula menumpang pada tubuh mini anak kecil, orang asing dan sejenis orang-orang “tak profesional” dan ‘kaum minor’ lainnya.

Papua Nugini, terjadi lonjakan jumlah wanita (dianggap penyihir) yang disiksa, dibakar dan dimutilasi hidup-hidup. 

Sanguma, sebutan lokal untuk ‘wanita teluh’ ini (termasuk di rantau Pasifik Selatan), pada dasarnya sebuah tradisi yang tak membahayakan, namun memiliki sisi gelap-legam. 

Tahun 2020 lepas, seorang petugas kesehatan di fasilitas pedesaan, meninggal karena Covid-19. Lalu, isteri dan anak perempuannya disiksa karena diduga memiliki daya yang kuat pada sihir, dan mereka terkonfirmasi jangkitan Covid-19 pula. 

Sihir dengan sisi black magic itu bersepupu dengan pusaran konspirasi, kecurigaan dan rumor yang memperkeruh zona keadaan darurat kesehatan masyarakat terbesar di PNG.

Media sosial menjadi ‘sihir’ terbaru dalam memperkeruh buana sanguma, dunia gelap tuduh-menuduh di antara rerimbun hutan Papua Nugini, kebun-kebun rakyat dan keterpencilan antar kampung dari akses informasi kota-kota bergemuruh. 

“Bahkan lebih memilukan ketika media sosial benar-benar memicu disinformasi ketidak-percayaan masyarakat akan vaksin”, ujar Jonathan Pryke dari Lowy Institute yang bermarkas di Sydney. 

Termangu? Tak perlu. Bahwa setiap zaman memproduksi ‘sihir’-nya masing-masing. Mineral? Ada sihir timah hitam, emas, uranium, tembaga, perak, batu-bara, minyak bumi dan seterusnya. Semua ini mengalami konstruksi ‘sihir-sihir dunia’ dalam zaman dan eranya masing-masing.

Psiko-analisis menjadi redup sebagai sihir setelah datang era neuro-psychology. Demikian pula pukau Cartesian, dijinakkan oleh kaum neo-strukturalis; Derrida dan Foucault. 

Dulu, tebu adalah sihir ekonomi dunia. Diikuti kakao, karet, kelapa, garam. Dan jauh sebelumnya adalah sihir rempah-rempah tropika. 

Dan saat ini ada kekuatan sihir sawit yang menakutkan benua biru (Eropa). Sebab, secara berseberangan mereka tengah membangun sejumlah struktur sihir bunga matahari juga kedele (soya). 
Pertandingan antar sihir (tanaman @nabatiyah).

Sihir yang dihadirkan dalam perjumpaan modernitas dan ultra-modern bersauk dalam jumlahan serba kembaran (augmented); Artificial Intellegence, turisme maya, konferensi, perkuliahan, percakapan serba berpancang pada tonggak keperkasaan Industrial Revolution 4.0, walau dalam gagap serba pemula demi mengelak terjadinya interupsi peradaban melalui terjunan wabah Covid-19 sebagai batu uji bertubi-tubi.

Sang ilusinonist Hungaria-Amerika, Harry Houdini berujar; “sihir adalah ilmu satu-satunya yang tak diterima oleh para ilmuan, karena mereka tak mampu memahaminya”.

Maka, bersualah di atas puncak segitiga yang dibangun itu, lalu pinjamlah walau sejenak lentingan Pramoedya Ananta Toer: “Bukan aku saja yang tergenggam oleh mereka, mereka juga sebaliknya tergenggam oleh ku. Genggam-mengenggamlah, kalau tak dapat dikatakan sihir-menyihir”


 

Editor: Abdul Aziz