Siku Kata 

Syiwa Menari

  • Reporter Aziz
  • 31 Agustus 2021
Syiwa Menari
ilustrasi. foto: arkadesign.ru

Tak usah gugup dan gamang. Sepanjang denyut alam, Syiwa senantiasa menari. Serangkaian Tarian Kosmik. Selagi dia menari, keseimbangan alam akan selalu terjaga dalam gerak dan perputaran dinamis, sirkuler. 

Saat ini, bumi tengah menjalankan tugas “pemeriksaan” ke atas dirinya sendiri. Pemeriksaan eksistensial? Terkadang pola “pemeriksaaan” itu dijalani dalam alur dhuka, penyiksaan, demam dan geriang-kapialu pola bumi. 

Era pandemik Covid-19 yang sudah masuk tahun kedua ini tak lain adalah satu bentuk pemeriksaan intern bumi secara swa-diri, demi sebuah keseimbangan baru.

Imaji ilahiyah yang teramat subur di lembah-lembah dan pegunungan anak benua India, mengisyaratkan lahirnya ribuan dewa-dewi yang tak tercerap oleh akal religiusitas-aktif Barat yang ‘agresif’ dalam buruan materi(alisme). 

Baca juga: Esoteris Timur

Sementara India sebagai avatar dunia Timur, menyeruakkan keperkasan reseptif dalam dambaan kerinduan ilahiyah. 

Inilah satu dari sekian banyak tampilan isyraqiyah (cahaya dari Timur) itu. Ribuan dewa yang terekspresi dalam manifestasi yang tak terjumlah dan serba tak terduga. 

Namun, ketika diperas dari ribuan itu, akan keluar tiga dewa utama: Syiwa, Wisynu dan Durgha. Sebuah medan ikonoklasme (isme-isme yang mewakilkan sejumlah ‘hadiran’ sebagai jembatan yang terhubung ke dunia langit).

Kitab agung-suci, yang ditulis para peramal-bijak Vedic (anonim) adalah gabungan empat kitab. Yang tertua adalah Rig Weda dengan posisi otoritas religius tertinggi. Ditulis dalam bahasa suci: Sanskrit kuno. 

Semua sistem filsafat di India harus berada di bawah panji Rig Weda. Kalau tidak, maka akan dianggap bid’ah. Bagian kedua, Kidung Pujian dan doa-doa suci. Bagian ketiga, ritual berkaitan dengan pengorbanan dan tindakan (karma). Bagian ke empat adalah kitab-kitab Upanishad (intisari pesan spiritual) yang memikul prinsip filosofis dan praktis kehidupan.

Satu lagi penopang spiritual itu bernama kisah-kisah epik dalam mitologi kuno India; Mahabharata yag mengandung puisi-puisi religius menawan yang terhimpun dalam Bhagawat Gita (Senandung Langit). 

Di sini menyembul dua tokoh utama bernama Krishna sang berseruling (titisan Wisynu) dan ksatria Arjuna. Bawaan Wisynu adalah pemelihara alam semesta. 

Krishna mengajar tentang inti kebenaran itu adalah kepedulian. Sebagaimana Zarathustra --- penganjur utama agama Persia kuno Zoroaster ---, kepedulian (care) mesti ditopang oleh pengetahuan (knowledge), rasa hormat (respect) dan tanggung-jawab (responsibility). Itulah cinta.

Inti dzat yang mengatur jagad raya (universe) itu adalah Brahman, dzat yang tanpa awal dan akhir, melampaui yang ada dan tiada. 

Manifestasi (tajalli) Brahman di dalam selongsong jiwa manusia, itu lah Atman. Maka, tempuhan jalan pembebasan seperti Yoga, adalah satu dari sekian banyak disiplin fisik dan mental untuk sebuah pencantuman diri dengan Brahman. Ya, sebuah lorong mistisme Timur yang amat memukau Barat. 

Orang boleh menimbang-nimbang ketakjuban ini setara dengan lelaku para pertapa di Gunung Sinai pada abad kedua ataupun tempuhan jalan mistis Jerman pada abad pertengahan. 

Namun, kesepadanan ini masih ditemukan pada seorang swami di India pada abad ke-21. Inilah jalan reseptif yang ditempuh para pelaku jalan sunyi seorang Hamzah Fansuri dari tanah Andalas berkurun silam: mencari Tuhan ke dalam diri (terkenang Syair Perahu).

Syiwa, dikenal dalam balutan agung Maheswara. Sebagai dewa tertua India, dia bisa menempati ragam maujud, Sang Penguasa Agung. Dialah personifikasi totalitas Brahman, jelmaan tunggal ilahiyah. 

Dari sudut perbandingan agama, pakar boleh saja mensejajarkan Brahman itu berasal dari diksi Abraham, Braham (lidah Aramaic), kemudian dalam lidah Arab menjadi Ibrahim dan disapa secara takzim oleh lidah Jawa sebagai Bromo. 

Peran sentral yang terhimpun pada diri Syiwa sebagai Nataraja, Raja Para Penari. Dia Sang Penari Kosmik. 

Lewat tari-tarian kemilau itulah dia menjaga tarik-menarik antara daya (akal) pencipta dengan daya (akal) pemusnah demi merawat dan mempertahankan irama semesta tiada henti. 

Maka jangan heran, selain nyanyian merdu dan mendayu, instrumen utama ‘ibadah’ Hinduisme adalah melalui ‘jalan tari’. Menari adalah ‘lompatan suci’ (holy leap) yang tersambung pada ruang terdalam bernama ‘palung tanpa dasar’, yang jika disiasati secara spiritual akan menghampar rasa putus asa atau sickness unto death sekaligus ketakjuban tiada berhingga.

Mengapa Syiwa menari? Ya, demi melayani sang bunda ilahiyah; dewa ketiga (Cakti atau Durgha). 

Inilah sisi kualitas energi feminin bagi alam semesta. Dewi klasik yang sekaligus tampil sebagai istri Syiwa. 

Semua tindak laku spiritual ini digerak-atur dan dijalani secara reseptif (menusuk ke dalam diri). Tidak keluar. Cahaya itu ada di dalam diri. Maka, galilah sumur diri mu, demi menemui ‘aku sejati’, ‘aku eksistensial’, ‘aku kreatif’, ‘aku aktif’, dan ‘aku ilahiyah’. Tidak menerjang atau bersorak keluar (mentality active)

Agar tidak bergema keluar, orang mengikat diri pada ruang-ruang senyap-sunyi; punggung atau pun puncak gunung, ngarai, lembah, ladang, kebun-kebun sembari menghindari pasar dan berjenis-jenis kilang.

Ujar orang-orang bijak; ke Timur kita mendapat cahaya. Karena cahaya memang berasal dari Timur. Diikuti lelaku spiritual yang ‘menggali ke dalam” (reseptif) tidak menendang ke luar. 

Ke Barat, kita beroleh materi(alisme), dalam gaya spiritual agresif. Maka, Timur dengan kekayaan ‘jalan mistik’ serba diam itu, menuntun dan menaut kerinduan spiritual Barat demi menghimpun kebersatuan monoteis (tauhid); bahwa puncak tauhid itu adalah diam. 

Syiwa menari, Wisynu merawat dan Durgha yang merenjis air lembut feminin, demi membalut relung spiritualitas berujung diam. Senyaaap...



 

Editor: Abdul Aziz