Jakarta, elaeis.co – Kinerja emiten kelapa sawit diproyeksikan tetap menjanjikan sepanjang 2026, meskipun industri ini dibayangi sejumlah sentimen negatif. 

Penundaan implementasi biodiesel B50 dan kenaikan pungutan ekspor (PE) crude palm oil (CPO) berpotensi menekan kinerja jangka pendek, namun belum cukup mengubah outlook sektor secara keseluruhan.

Penundaan penerapan B50 yang semula dijadwalkan awal 2026 menjadi sorotan. Kebijakan ini sebelumnya diharapkan menjadi katalis utama peningkatan permintaan domestik CPO, namun kini tertunda. Di sisi lain, pemerintah menaikkan pungutan ekspor CPO menjadi 12,5 persen dari sebelumnya 10 persen, efektif mulai pertengahan 2026. 

Langkah ini bertujuan menopang program biodiesel B40 sekaligus memastikan keberlanjutan pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Menurut Abdul Azis Setyo Wibowo, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, penundaan B50 dan kenaikan pajak ekspor merupakan sentimen negatif jangka pendek yang berpotensi menekan margin emiten dan mengurangi tambahan permintaan domestik. 

“Ini bisa menekan margin dan menghilangkan tambahan permintaan domestik. Namun dampaknya relatif terbatas karena program B40 tetap berjalan,” ujarnya dikutip dari Kontan.id.

Meski begitu, Azis menilai peluang perbaikan kinerja emiten sawit masih terbuka. Program B40 diyakini mampu menjaga average selling price (ASP) CPO, sementara konsumsi domestik berpotensi meningkat menjelang Ramadan dan Idul Fitri, mendorong momentum musiman yang menguntungkan emiten.

Dari sisi valuasi, saham emiten CPO saat ini masih tergolong undervalue. Namun, investor perlu mencermati dinamika kebijakan biodiesel, perubahan pajak ekspor, pergerakan harga CPO global, serta isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). 

Azis merekomendasikan trading buy untuk PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) dengan target harga di kisaran Rp 1.820–Rp 1.840 per saham.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe, menilai penundaan B50 tidak akan signifikan mengganggu permintaan CPO. Ia memperkirakan produksi sawit nasional hanya tumbuh sekitar 1 persen dibanding 2025, sehingga harga CPO dapat tetap stabil di kisaran MYR 4.200–MYR 4.500 per ton sepanjang 2026.

Kiswoyo menyoroti beberapa emiten unggulan yang layak diperhatikan investor. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) masih berpotensi menjadi pemain utama berkat tanaman yang berada pada fase produktif. Namun, valuasi keduanya relatif tinggi. Data RTI menunjukkan TAPG memiliki PER 8,36 kali dan PBV 2,67 kali, sedangkan DSNG PER 8,69 kali dan PBV 1,42 kali.

Dengan pertimbangan valuasi, Kiswoyo merekomendasikan beli saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dengan target harga masing-masing Rp 9.000 dan Rp 1.500 per saham hingga akhir 2026. PBV keduanya masih rendah, AALI 0,63 kali dan LSIP 0,59 kali, menunjukkan potensi upside menarik bagi investor.

Di sisi lain, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, mengingatkan bahwa penundaan B50 bisa menekan ASP CPO dan margin emiten. Namun, tingginya permintaan global, khususnya dari India dan China, diyakini masih mampu menopang kinerja sektor sawit.

Dengan kondisi ini, 2026 tetap menjadi momentum panas bagi industri sawit. Meskipun ada tekanan dari kebijakan biodiesel dan pajak ekspor, sejumlah emiten sawit masih menawarkan peluang profitabilitas menarik bagi investor yang jeli membaca tren pasar dan valuasi saham.