Feature 

Tentang Amin Nugroho dan Beasiswa Sawit Itu

  • Reporter Aziz
  • 21 November 2021
Tentang Amin Nugroho dan Beasiswa Sawit Itu
Mahasiswa beasiswa sawit D1 saat berada di Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2) Stiper Edu Agro Tourism (SEAT) di kawasan Bawen, Ungaran Jawa Tengah. foto: ist

Jakarta, elaeis.co - Boleh-boleh saja tiap momen penerimaan mahasiswa baru, petinggi asosiasi petani sawit, Kementerian Pertanian dan bahkan pejabat daerah diajak mampir ke Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2) Stiper Edu Agro Tourism (SEAT) di kawasan Bawen, Ungaran Jawa Tengah itu. 

Maklum, sudah menjadi tradisi Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) --- anak dari Instiper Yogya --- melakukan serangkaian kegiatan lapangan sebelum mahasiswa dan mahasiswi baru program D1 memulai perkuliahan di kampus mereka, di kawasan Sleman Yogyakarta.  

Mahasiswa dan mahasiswi tadi adalah hasil seleksi beasiswa sawit yang dibiayai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Dan para mahasiswa dan mahasiswi itu pasti tidak akan tahu siapa sesungguhnya tokoh dibalik munculnya program yang kemudian mengantarkan mereka hingga beberapa generasi ke sana, termasuklah 5 kampus lain yang menyelenggarakan beasiswa yang sama untuk program D3 dan D4. 

"Yang punya ide beasiswa itu saya lho mas...," cerita Amin Nugroho kepada elaeis.co melalui pesan singkat whatsapp dua pekan lalu. 

(Kiri) Rektor Stiper yang saat itu dijabat Dr. Purwadi sedang meneken kesepahaman dengan BPDPKS yang saat ini masih dikomandani oleh Dr. Bayu Krisnamurthi (berdiri di bekalang Purwadi). (Kanan) Amin Nugroho berpeci bersama Kiyainya. foto: repro. 

Lebih dari 10 tahun lalu, lelaki 63 tahun ini sudah mulai khawatir soal generasi penerus kebun sawit swadaya maupun transmigrasi lantaran besar kemungkinan anak-anak para petani itu akan mencari kerja di kota. 

"Biar yang dikhawatirkan itu enggak kejadian, harus ada generasi penerus. Nah, agar anak-anak itu tertarik menjadi petani, mereka musti disekolahkan di jurusan pertanian," cerita ayah 4 anak ini.  

Saat ide itu terus berputar di benak bekas Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia  (Apkasindo) Kalimantan Selatan (Kalsel) ini, tahun 2013, dia ketemu dengan Rektor Stiper Yogya yang waktu itu masih Dr. Purwadi. 

Kebetulan Purwadi menjadi narasumber pada seminar yang dihadiri oleh direktur dan manager perusahaan kelapa sawit. Seminar itu digelar di salah satu hotel di Jakarta.

Ketua Harian DPP Apkasindo era Anizar Simanjuntak ini masih ingat betul makalah yang dihamparkan Purwadi saat itu; kesuksesan Stiper mendidik karyawan atau anak karyawan kebun yang dikuliahkan oleh sejumlah perusahaan kelapa sawit
 
"Saya Amin Nugroho dari Apkasindo Pak Pur," Amin memperkenalkan diri kepada Purwadi saat rehat makan siang. "Panjenengan sudah sukses mendidik anak dan karyawan kebun hingga perusahan punya SDM yang berkualitas. Kalau panjenengan bisa mensukseskan perusahaan, kapan Bapak bisa mensukseskan petani sawit? Saya berharap agar anak-anak petani bisa menjadi penerus kebun orang tuanya dengan cara beasiswa " Amin langsung to the point. 

Mendengar omongan Amin yang to the point itu, Purwadi kaget. Lelaki ini spontan meminta Amin dan pengurus Apkasindo datang pekan depan ke Instiper Yogya. "Saya tunggu," begitu Purwadi merespon.

Purwadi tak menampik apa yang diceritakan Amin itu. Lelaki ini malah cerita lebih detil lagi. "Di seminar itu saya dan Apkasindo jadi narasumber. Di sana saya presentasikan bahwa ke depan sawit rakyat akan banyak. Nah, faktor kuncinya nanti adalah bagaimana kita bisa mengembangkan daya saing petani lewat peningkatan SDM. Sebab mereka rentan dengan tekanan-tekanan," kenang Purwadi saat berbincang dengan elaeis.co pekan lalu.

Jadi, petani harus dipinterke, biar dia bisa mengawal bisnisnya sendiri. Rupanya gayung bersambut. "Saat makan siang kita ketemuan, ngobrol. Saya bilang, ayo petani, kita bangun SDM, selama ini Stiper bangun SDM untuk perusahaan perkebunan, justru kami juga peduli dengan petani," ujar Purwadi.

Setelah ngobrol panjang lebar, di tempat makan itu juga kata Purwadi, mereka bersepakat untuk bekerjasama meski belum tertulis. 

Kerjasama itu adalah Stiper mau menerima anak-anak petani kuliah dengan program dan tarif khusus petani. Waktu itu program S1 yang baru ada. 

"Baik pak, saya akan galang Apkasindo, bila perlu kami akan mencari pendanaan asal anak-anak kami bisa kuliah di Stiper," Amin menyambut.

Dari situ, Amin pun sering bolak-balik ke Stiper Yogya. Kalau pas pembukaan kuliah, Purwadi sengaja mengundang Amin untuk menengok pola pendidikan yang ada di sana. 

"Yang pasti, sebelum BPDPKS ada, sudah 3-4 kali lah Apkasindo berembuk dengan Stiper di Yogya. Waktu itu Apkasindo mau bikin urunan untuk beasiswa itu. Sumber urunannya dari penjualan TBS petani; Rp5 perkilogramnya. Nilainya memang kecil, tapi kalau duitnya terkumpul semua, akan bisa menguliahkan 50 orang per tahun. Soalnya TBS nya berton-ton. Bahkan kalau berkembang lagi bisa mencapai 100 orang per tahun ," cerita Purwadi. 

Apkasindo, khususnya Amin Nugroho kata Purwadi, yang mendorong gimana mencari duit itu. "Untuk gagasan-gagasan masa depan, Pak Amin adalah petani yang sangat cerdas dan berpikir jauh ke depan," ujar Purwadi. 

"Maaf saja, saya kan menggauli banyak petani, dia cerdas dan berpikir jauh, dia mendirikan koperasi di Kalsel, bolak balik rembukan sama saya, dia berhasil," tambahnya. 

Entah lantaran didasari niat yang tulus atau kebetulan, sebelum Amin benar-benar menggalang duit urunan, BPDPKS hadir. 

Salah satu item misi BLU yang kini dikomandanai oleh Eddy Abdurrachman ini adalah pengembangan SDM pelaku sawit. 

"Kita kemudian meminta ini kepada BPDPKS. Waktu itu Dirutnya Pak Bayu. Nah, suatu saat, Stiper mengundang para stakeholder; Ada Pak Bayu Krisnamurthi dari BPDPKS, beliau ini sangat luar biasa soal pengembangan SDM. Ada Pak Amin dari Apkasindo, tokoh perkebunan (Pak Sujai Kartasasmita), Pak Achmad Mangga Barani dan juga GAPKI (Togar Sitanggang)," Purwadi merinci.

Di pertemuan itu kata Purwadi, disepakatilah soal pengembangan SDM kelapa sawit itu dan disitu pula lahir Deklarasi Yogya

"Singkat cerita, setelah dihitung-hitung, kebutuhan yang paling cepat dan dapat mendukung adalah pendidikan setara diploma satu. Dapatlah untuk 300 orang. Jumlah ini dibagi untuk dua tempat; Stiper dan Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (CWE)," Purwadi merinci.

Kini, Amin yang tercatat masih Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi DPP Apkasindo itu sudah lebih memilih tinggal di pesantren bersama istrinya, meninggalkan hiruk pikuk dunia dan suksesnya pabrik sawit rakyat yang dia gagas pakai skim pendanaan petani. "Sudah 2,5 tahun ini saya tidak aktif lagi, Mas," katanya.

Bisa jadi, Amin hanyalah satu dari sederet sosok bersahaja yang pernah berjasa terhadap perkembangan industri sawit Indonesia. 

Dan bisa jadi pula, mereka sama seperti Amin, tak mau mengungkit-ungkit jasa itu. Amin lebih memilih membenamkan itu semua dalam doa dan ayat-ayat suci yang dia lafazkan di pesantren Rohdatul Nahdiyin Desa Karang Lewar, Kotabaru, Kalsel. Ckckck... 


 

Editor: Abdul Aziz