Siku Kata 

Tumit Erna dan Suku Anak Dalam

Tumit Erna dan Suku Anak Dalam
Erna saat berbincang dengan sejumlah perempuan Suku Anak Dalam. foto: fimela.com

Tumit mulus mungil itu menyeruak di antara apitan daun pintu mobil 4WD mewah di tengah hutan dalam guyuran hujan lebat, bertanah licin, berbatu, lumpur tanpa aspal. Itulah tumit Erna (Solberg) sang Perdana Menteri Norwegia. Sosok pencinta kehidupan. 

Kenapa tumit? Tumit itu mengambil keputusan untuk terjun dari keempukan mobil double gardan, demi meneruskan perjalanan cinta di sebuah hutan Jambi. 

Dia sengaja datang ingin memeluk dan mencium Kaum Suku yang terlontar dari sejarah dan kemuliaan hutan-tanah (Suku Anak Dalam) di Bungo.

Berbekal peta kabus dan keberanian, dia menerobos rimbunnya hutan; dia datang dengan segenggam cinta yang masih tersisa, siap sedia akan ditabur jadi senilai samudera. 

Kunjungan resmi kenegaraan, Solberg membawa tubuh tambunnya mendaki bukit dengan tumit mulus seiring terjunan hujan tropis melegam. 

Dia mengumpul kembali sejumlah hati nan pecah oleh penistaan sejarah dan sejarah penistaan tentang hak akan tanah dan kepungan hutan di dalam Indonesia merdeka.

Lokasi tujuan kian mendekat, tapi Erna mesti turun, tersebab mobil itu tak kuasa lagi untuk mendaki sisa pucuk bukit licin berlumpur. 

Dalam deras hujan, tumit Erna berselancar lumpur, lengan memeluk kaum Suku Anak Dalam yang dia cintai sejak lama. 

Dari negeri nan jauh, berbekal semangat nenek moyang dia yang Viking itulah, Erna menjalani siang nan gelap itu demi memuai cinta dalam etika kemakhlukan yang ranggi dan jemawa. 

Tumit itu menggores kisah panjang mengenai persuaan dalam ‘tangga rindu’ kemanusiaan tak bertepi.

Norwegia, sekularisme, super kaya, lalu sang Perdana Menteri datang menebuk hutan Bungo Jambi dengan tidak menggendong Tuhan. 

Dia hanya menjinjit “kekuatan senyap” sembari menyapa sekumpulan ‘orang-orang kalah’ dalam moda komunikasi dengan Negara. 

Lantas, terjadilah komunikasi dalam senyap dan diam. Mereka berkomunikasi dalam ‘bahasa batin’ dan itu terjadi pada April 2015 lalu.

Negeri-negeri kaya identik dengan kepercayaan diri yang super tinggi, sehingga warganya tidak memerlukan religiusitas. 

Sebaliknya; negeri-negeri miskin dalam sebuah survey menyebutkan bahwa kemiskinanlah yang menyebabkan warga Negara dunia ketiga itu amat religius.

Kemiskinanlah yang membuat kita menjadi religius? Wah amat miris dan ironis. Tapi, untuk kasus Amerika, malah menyajikan kenyataan terbalik. 

Negara ini juga kaya, tapi masyarakatnya malah religius. Ditambah lagi oleh kebangkitan Islam yang luar biasa dalam beberapa dekade terakhir di Negeri Paman Sam itu, termasuk kebangkitan Buddha. 

Buddha menjadi gejala memukau di Eropa dan Amerika (Barat). Sementara Kristen (identik sebagai agama Barat) itu malah merecup manja di Asia Timur (Korea, Jepang dan Taiwan). 

Ketika Gereja kosong di Oslo (Ibukota Norwegia), ketiadaan umat dan jemaat di jalur incognitogata, umat dan jemaat yang mengalami kehilangan ibadah formal agama itu, malah menggantikan ibadah formal agama dengan semangat solidaritas, toleransi, konsistensi dalam upaya menjulang harkat kemanusiaan (mankind). Solidaritas dalam dimensi cinta kemakhlukan. Toleransi berbasis pada etika kemahkukan (bukan peri kemanusiaan semata). Konsistensi indahnya rajutan cinta yang menghimpun damai. 

Inilah pancaran sinar yang tersembur dari tumit mulus Sang Perdana Menteri saat merayap setapak demi setapak pada sisi pucuk bukit nan licin berlumpur itu. Sekaligus ingin mempertontonkan diri sebagai figur matang (mature) yang bersikap tabik dalam alur adab yang tinggi terhadap alam raya. 

Inilah gambaran dari puncak yang dalam Sosiologi dikenal dengan sapaan ‘modal sosial’ (social capital).

Bagi Erna Solberg yang bermoyang bangsa Viking itu (moyang penakluk), interaksi dan penyelesaian naratif itu tidak disangkut pada dahan cita-cita dan ide. Namun, telah berubah maujud dalam serba praksis alias tindakan nyata. 

Solberg datang mengarung lumpur dan menggumal debu, menginjak reranting yang terserak di tengah kepungan rimba Suku Anak Dalam yang ayuhaai molek perjalanan spiritualisme lokal itu (kelihaian dalam tradisi farmakologi lokal –herbal- dalam adunan rempah-rempah mempesona). 

Sekumpulan makhluk proto-Melayu yang serba telat oleh sapaan rerangkai ‘kereta api’ Indonesia yang tengah melaju itu, padahal sejatinya sama sekali tak bergerak. 

Hutan dan rimba memang tak rimbun lagi. Tapi cinta Solberg dan cinta Suku Anak Dalam begitu memukau. 

Tersebab cinta itu pula dia sanggup meninggalkan tahta dan istana di negeri puncak angin peradaban Eropa Utara sana, demi menyapa, mencium dan menghidu wanginya peradaban proto-Melayu wangsa Sumatera yang tersisa yang tengah menjalani keterpelantingan peradaban dalam senyap dan serba melupa ala Indonesia.

Modal sosial berdimensi hanif itu, terhubung dengan dimensi spiritual lokal yang sarat dalam cita dan cipta bangsa tua (proto-Malayu)

Kita yang menisbatkan diri selaku Melayu muda (deutero-Malayu) itu sejatinya harus merasa malu; karena seakan kita telah menjatuhkan ‘talak tiga’ terhadap mereka (kaum yang kita hormati ini). 

Solberg datang dengan sekuntum tumit merah yang memecah kebekuan mata hati kita. Seakan, kita yang suka menjatuhkan ‘talak’, Solberg malah yang mencantumkan ‘rujuk’. Malu kah?


 

Editor: Abdul Aziz