Internasional 

UE Bikin Aturan Impor Baru, yang Kena tak Cuma Sawit

UE Bikin Aturan Impor Baru, yang Kena tak Cuma Sawit
Ilustrasi deforestasi (geoportal.menlhk.go.id)

Jakarta, Elaeis.co - Uni Eropa (UE) memutuskan untuk melarang impor makanan dan kayu dari wilayah-wilayah yang mengalami deforestasi atau pembabatan hutan. Langkah ini diklaim untuk memastikan kelestarian alam dan kehidupan manusia di masa mendatang.

Dikutip CNBC Indonesia dari AFP, manuver yang disepakati pada Rabu (17/11/2021) itu mengharuskan perusahaan kedelai, daging sapi, minyak sawit, kakao, kopi, dan produk kayu, wajib mendapatkan sertifikat "bebas deforestasi" sebelum melakukan ekspor ke UE.

Untuk memperoleh sertifikat itu, dua kriteria harus dipenuhi. Kriteria tersebut adalah sesuai dengan hukum negara asal dan juga tidak diproduksi di lahan yang terdeforestasi.

"Proposal ini benar-benar terobosan," komisaris UE untuk kebijakan aksi iklim, Virginijus Sinkevicius, mengatakan pada konferensi pers.

"Ini menargetkan tidak hanya deforestasi ilegal, tetapi juga deforestasi yang didorong oleh ekspansi pertanian," tambahnya.

Sementara itu, UE juga sedang menggarap aturan tentang pengelolaan limbah dan peningkatan kesehatan tanah. Strategi tanah bertujuan untuk mendapatkan ekosistem tanah yang sehat pada tahun 2050.

"Inisiatif ini menunjukkan bahwa Uni Eropa serius tentang transisi hijau dan terus bergerak maju," kata Wakil Presiden Komisi yang bertanggung jawab mengawasi Kesepakatan Hijau Uni Eropa, Frans Timmermans.

Larangan impor ini sendiri diprediksi akan memukul negara-negara seperti Brasil. UE sendiri dilaporkan resah atas penghancuran hutan hujan Amazon di negara itu oleh peternak sapi. Ini sempat menghambat perjanjian perdagangan UE-Mercosur.

Kelompok perlindungan lingkungan WWF mengatakan pasar UE yang besar bertanggung jawab atas 16% deforestasi global yang terkait dengan perdagangan internasional. Dengan adanya peraturan ini, organisasi itu menyebut bahwa ini merupakan langkah awal yang baik namun masih perlu langkah-langkah lanjutan untuk benar-benar mengurangi deforestasi

"Langkah itu masih belum cukup jauh," demikian pernyataan lembaga itu. 


 

Editor: Rizal