Lipsus 
Bagian 1

Untung Sahat Terbang ke Dubai

  • Reporter Aziz
  • 31 Oktober 2021
Untung Sahat Terbang ke Dubai
Sahat Sinaga saat presentasi di Auditorium Dubai Expo. Dia menyodorkan materi berjudul: "Technology Improvements dor Smallholder Oil Palm Plnatations in Indonesia. for : GHG emission reduction and Pov

Jakarta, elaeis.co - Meski sudah tak muda lagi, ayah tiga anak ini masih mau ikut jauh-jauh terbang ke Dubai Expo, dua pekan lalu. 

Keberangkatan lelaki 75 tahun ini ternyata benar-benar menguntungkan bagi para pelaku sawit, tak terkecuali Indonesia. 

Sebab di sana, Sahat Sinaga dicekoki Gulf Today delapan pertanyaan panjang soal lika-liku dan peran sawit bagi dunia.

Gulf Today adalah surat kabar harian berbahasa Inggris yang berbasis di Sharjah, Uni Emirat Arab (UEA) dan menjadi satu dari empat surat kabar beken di negara kaya raya itu.

Ini berarti, besar kemungkinan apa yang dijawab oleh Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) ini sampai dan memperkaya pengetahuan orang-orang UEA tentang sawit, khususnya sawit Indonesia. 

Apalagi di dalam delapan pertanyaan tadi, ada dua pertanyaan yang sangat dalam, yang membikin Sahat bisa mengurai panjang lebar soal kandungan dan manfaat sawit, termasuk bagi lingkungan global.

Apa manfaat minyak sawit? Itulah salah satu pertanyaan yang disodorkan Gulf itu. Ditanya begitu, magister teknik kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tidak langsung menjawab.

Tapi justru menjelaskan dulu apa itu kelapa sawit. "Pohon yang menghasilkan dua jenis minyak nabati dari satu buah sawit; minyak palmitat (C-16) dan minyak laurat (C-12)," Ketua Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia ini mulai menjelaskan. 

Lalu komposisi asam lemak minyak sawit juga seimbang. Inilah yang membikin minyak menjadi semi padat pada suhu kamar (32 derajat selsius). 

Lemak jenuhnya berada di angka 51%-53% (palmitik 49%;stearat sekitar 4%). Asam lemak tak jenuh 47%-49% (oleat 39 %;linoleat 10 %). Komposisi lemak ini mirip dengan kandungan ASI. 

Minyak sawit juga mengandung dan sangat kaya akan zat gizi mikro (Phytonutrients); Karotenoid (pro-Vitamin A), Vitamin E (anti oxydant), Squalene, Fitosterol, Ubiquinone, Squalene, Omega 6 dan 9. 

"Ini sangat cocok untuk mengatasi kekurangan vitamin dalam tubuh manusia dan mampu menekan penyakit stunting," ujarnya.

Kalau ditanya soal produktifitas kata Sahat, sawit menjadi tanaman minyak nabati paling moncer. Bisa 8-10 kali lipat ketimbang minyak lunak semacam kedelai, rapeseed maupun bunga matahari. 

Sawit juga penghasil rasio biomassa tertinggi; 1 minyak:10 biomassa. Sementara minyak nabati lainnya hanya; 1 minyak: 0,5-1 biomassa. 

"Yang membikin makin paten itu, minyak sawit tidak mengandung lemak trans, makanya sehat dan sesuai dengan peraturan EPA," Sahat sumringah.

Sahat kemudian menyodorkan gambar sawit dan kurma. "Kedua pohon ini berasal dari keluarga yang sama; palm. Orang Mesir kuno bilang; Kurma Palm adalah pohon kehidupan. Saya pun mengatakan, sawit adalah pohon yang luar biasa," Sahat tak mau kalah. 

"Nah, setelah anda tahu apa itu minyak sawit, sebetulnya saya tak perlu lagi menjelaskan apa manfaatnya, sebab manfaatnya sangat banyak," ujar Sahat. 

Yang jelas, kebanyakan orang, selama 24 jam tak lepas dari minyak sawit. Tengoklah minyak goreng, margarin, shortening, Ghee/Vanaspati dan lemak khusus; suplemen bahan untuk mencegah kekurangan vitamin A. 

Lalu untuk non makanan, minyak sawit juga dipakai untuk pembuatan sabun, desinfektan, pasta gigi, lilin, kosmetik, dan banyak lagi. 

Untuk energi, sebenarnya minyak sawit dan minyak inti sawit bisa digolongkan sebagai minyak fosil yang secara kimiawi terkontaminasi gugus kimia Oksigen Hidrogen (OH).

Kalau unsur OH nya dihilangkan, maka minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO), cocok dijadikan Bio-Jetfuel. Sementara minyak sawit atau Palm Oil (PO), baik untuk Biogasoline dan Biodiesel serta untuk bio-lubricant. 

"Bahan alkana lainnya bisa dihasilkan dari kedua jenis minyak ini untuk menggantikan polimer berbasis fosil," tambahnya. Bersambung...


 

Editor: Abdul Aziz