Jakarta, elaeis.co - Rencana ekspansi perkebunan kelapa sawit ke Papua kembali jadi sorotan publik. Di tengah pro dan kontra, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono akhirnya buka suara dan menjelaskan alasan di balik kebijakan tersebut.

Dalam Dialog Spesial di iNews TV bersama Aiman Witjaksono, Sudaryono menegaskan bahwa ekspansi sawit bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan bagian dari strategi besar memperkuat ketahanan nasional di tengah ketidakpastian global.

Menurutnya, kondisi geopolitik dunia yang kian memanas menjadi alarm bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian, terutama di sektor pangan dan energi. Ia menyebut, setiap negara harus siap menghadapi situasi darurat, termasuk kemungkinan gangguan pasokan global.

“Swasembada itu penting. Kita harus kuat secara internal. Kalau terjadi sesuatu, kita sudah siap,” ujarnya, dikutip Selasa (21/4).

Sudaryono menjelaskan, arah kebijakan pemerintah ke depan bukan hanya swasembada nasional, tetapi juga swasembada di setiap pulau. 

Artinya, tiap wilayah diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa bergantung pada daerah lain.

Konsep ini dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan atau resilience Indonesia jika terjadi krisis, baik akibat konflik global maupun gangguan distribusi.

“Kalau ada sesuatu yang tidak kita inginkan, di pulau itu pangan cukup, energi juga cukup,” jelasnya.

Dalam konteks ini, Papua dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan sawit. Selain lahan yang masih luas, kawasan tersebut juga dianggap strategis untuk memperkuat pasokan energi berbasis biodiesel di wilayah timur Indonesia.

Lebih lanjut, Sudaryono menyebut ekspansi sawit di Papua sebagai langkah mitigasi risiko. Dengan memperluas pusat produksi, Indonesia tidak akan terlalu bergantung pada satu wilayah tertentu.

Langkah ini juga sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang ingin memperkuat kemandirian nasional di berbagai sektor strategis. “Ini bagian dari persiapan. Kita tidak tahu ke depan seperti apa, jadi harus siap dari sekarang,” katanya.

Meski demikian, rencana ini tidak lepas dari kritik. Sejumlah pihak mengaitkan ekspansi sawit dengan potensi dampak lingkungan, terutama setelah munculnya bencana yang diduga berkaitan dengan aktivitas perkebunan.

Menanggapi hal itu, pemerintah menegaskan bahwa pengembangan sawit tetap harus memperhatikan aspek keberlanjutan dan tidak merusak lingkungan.

Namun di sisi lain, pemerintah juga melihat potensi besar sektor sawit dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan energi melalui program biodiesel.

Bagi pemerintah, kunci dari kebijakan ini adalah keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional. 

Sawit dinilai bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi juga instrumen strategis untuk menjaga stabilitas dalam negeri.

Sudaryono pun menegaskan, langkah ini bukan tanpa perhitungan. Pemerintah akan terus mengevaluasi dan memastikan implementasinya berjalan sesuai prinsip keberlanjutan.

“Intinya kita ingin kuat. Kuat pangan, kuat energi, dan siap menghadapi apa pun ke depan,” pungkasnya.

Dengan pernyataan ini, polemik ekspansi sawit di Papua dipastikan belum akan mereda.