Jakarta, elaeis.co - Jutaan petani kelapa sawit di Indonesia melewati tahun 2023 dengan penuh suka duka. Sederet persoalan masih membelit dan sangat mempengaruhi kesejahteraan petani.

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (apkasindo) membuat Refleksi Sawit Rakyat 2023 yang bertemakan ‘Sawit Rakyat Untuk Negeri’ dan disiarkan melalui akun resmi youtube DPP Apkasindo. 

Refleksi ini diharapkan bisa menjadi masukan bagi para pemangku kepentingan, terutama calon presiden dan wakil presiden (wapres) yang akan dipilih 14 Februari mendatang, dalam merumuskan kebijakan terkait sawit rakyat ke depan.

"Di tahun politik 2024 ini, Apkasindo berdoa agar presiden dan wapres terpilih dapat menjaga eksistensi 'Sawit Rakyat Untuk Negeri' dengan melanjutkan program yang sudah berjalan baik di era Presiden Jokowi dan menuntaskan pekerjaan terkait sawit rakyat yang belum selesai, demi menjamin kesejahteraan 17 juta petani dan keluarganya serta roda ekonomi di desa-desa sentra sawit," demikian harapan yang disampaikan Ketua Umum DPP Apkasindo, Dr Gulat M.E. Manurung, dan Sekretaris Jenderal DPP Apkasindo, Dr Rino Afrino.

Dalam siaran pers yang diterima elaeis.co Minggu (7/1), keduanya mengulas kembali pencapaian dan peran Apkasindo sebagai wadah perjuangan petani kelapa sawit Indonesia, baik petani sawit swadaya maupun petani sawit bermitra, yang mempunyai tujuan utama meningkatkan daya saing perkebunan sawit rakyat guna mewujudkan produktivitas, kesejahteraan, keberlanjutan dan kesetaraan.

Selama 2023 Apkasindo mencatat beberapa isu penting yang berdampak pada kesejahteraan petani sawit Indonesia. Persoalan paling mendasar adalah harga Crude Palm Oil (CPO) dan Tandan Buah Segar (TBS) petani.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Sekretariat DPP Apkasindo, rata-rata harga CPO Internasional Rotterdam pada tahun 2023 menurun sebesar 25,9% dibandingkan tahun 2022. Rata-rata harga CPO KPBN pada tahun 2023 juga turun sebesar 10,7% dibandingkan tahun 2022. 

Pelemahan harga CPO internasional dan KPBN di tahun 2023 berdampak kepada harga TBS yang di tetapkan di 22 provinsi penghasil sawit. Secara nasional, rata-rata harga TBS di tingkat provinsi sepanjang tahun 2023 mengalami penurunan sebesar 13.4% dibandingkan rata-rata harga TBS di tahun 2022.