Jakarta, elaeis.co – Program Biodiesel B50 resmi berjalan sejak 1 Juli 2026 dengan target mengerek permintaan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun di lapangan, harapan itu belum menjadi kenyataan.
Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) mengungkapkan harga tandan buah segar (TBS) sawit justru belum mengalami lonjakan setelah implementasi B50.
Padahal, secara teori ekonomi, meningkatnya konsumsi CPO untuk program biodiesel seharusnya ikut mendorong kenaikan harga buah sawit di tingkat petani.
"Laporan kami ke Presiden Prabowo sederhana, petani sawit belum merasakan manfaat B50," kata Ketua Umum DPP APKASINDO Gulat Medali Emas Manurung, Rabu (5/8).
Menurut Gulat, pemantauan APKASINDO menunjukkan harga CPO di Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) maupun Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (ICDX) justru melemah setelah kebijakan B50 diberlakukan.
Bahkan, harga tender CPO di KPBN terus turun hingga akhir Juli 2026. Dampaknya langsung terasa di tingkat petani.
Harga TBS petani swadaya saat ini hanya berada di kisaran Rp2.400-Rp3.200 per kilogram. Sementara petani plasma memperoleh harga sekitar Rp2.800-Rp3.800 per kilogram.
Padahal sebelum B50 diterapkan, harga CPO domestik sempat berada di kisaran Rp15.800 hingga hampir Rp16.000 per kilogram. Saat itu harga TBS petani swadaya rata-rata sudah menembus Rp3.000-Rp3.200 per kilogram, sedangkan petani plasma bahkan sempat menyentuh Rp4.000 per kilogram.
"Kalau ditanya apakah B50 sudah berdampak terhadap kesejahteraan petani, jawaban kami jelas, belum," tegasnya.
Gulat mengungkapkan perubahan baru terlihat setelah Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan mengapa harga CPO Indonesia masih berada di kisaran Rp15.000 per kilogram, sementara harga di Bursa Rotterdam telah mencapai sekitar Rp27.000-Rp28.000 per kilogram.
Lapor Pak Prabowo! B50 Sudah Jalan, Tapi Petani Sawit Belum Rasakan Manfaatnya
Diskusi pembaca untuk berita ini