Bisnis 

Ada Eropa-Amerika di Bisnis Sawit Indonesia

Ada Eropa-Amerika di Bisnis Sawit Indonesia
Penggundulan hutan di Boven Digoel Papua untuk dijadikan kebun sawit oleh korporasi. foto: greenpeace

Jakarta, elaeis.co - Kalau dipikir-pikir lagi tentang kebencian yang ditabur oleh orang-orang di Amerika maupun Eropa tentang sawit, agaknya menjadi bertolak belakang dengan apa yang disodorkan oleh Transformasi untuk Indonesia (TuK) ini. 

Sebab di paper yang dirilis ulang tiga tahun lalu itu disebutkan bahwa ada sejumlah lembaga yang berinvestasi di sektor sawit yang dikelola oleh 20 dari 25 raksasa group di Indonesia. (lihat tabel).

Kenyataan ini kemudian memunculkan pertanyaan baru apakah benar kebencian itu ada atau malah diciptakan. Sebab menurut salah seorang sumber elaeis.co yang jamak dengan ekspor minyak sawit menyebut bahwa urusan bisnis to bisnis sebenarnya enggak ada masalah. 

"Intinya suka sama suka saja. Pemerintah setempat saja kadang nyeleneh bikin aturan macam-macam," katanya. 

Baca juga: Ini 25 Raksasa Penguasa Kebun Sawit di Nusantara

Di sisi lain, oleh kebencian tadi, petani sawit saat ini justru malah jauh lebih sensitif kalau kelapa sawit diusik. 

Padahal si petani enggak sadar kalau hasil panen sawitnya tak seberapa dan yang tak seberapa itu dikemplang pula oleh pabrik yang mengolah dengan sederet potongan. 

Yang paling celaka justru petani sawit yang kebunnya diklaim dalam kawasan hutan. Sudahlah tak bakal pernah ikut program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), kebun yang tak seberapa itu terancam pula digusur Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) lantaran si petani kebetulan pula tidak tinggal menetap di kebun itu. 

Sedikit beruntung petani yang sudah punya pergaulan dan sedikit paham dengan kampanye kekinian. 

Modal webinar dan diskusi ini itu, si petani ini bisalah sedikit menikmati dana sawit yang kebetulan sudah lebih gampang menggelontor untuk alasan kampanye sawit, sejak dua tahun belakangan.     



 

Editor: Abdul Aziz