Bisnis 

Apkasindo: Harga Pupuk Naik 75%, Petani Terancam Tumbang

Apkasindo: Harga Pupuk Naik 75%, Petani Terancam Tumbang
Apkasindo: Harga Pupuk Naik 75%, Petani Terancam Tumbang

Pekanbaru, Elaeis.co - Tingginya harga pupuk yang meningkat hingga 75% saat ini dikeluhkan para petani sawit. Bahkan dengan tingginya harga pupuk hingga tiga bulan terakhir ini membuat para petani sawit terancam tumbang. Sebab tingginya biaya produksi akibat melambungnya harga pupuk tadi.

Ketum DPP Apkasindo, Dr Ir Gulat Manurung, MP, tingginya pupuk itu dirasakan para petani di 22 provinsi di Indonesia. "Kenaikan harga pupuk ini merata baik NPK dan tunggal. Kalau harga pupuk tidak terkendali, biaya produksi dipastikan naik," katanya saat diskusi bersama PT Pupuk Indonesia (PI), Selasa (08/09).

Dari informasi yang didapat Gulat, kenaikan harga pupuk itu terjadi lantaran harga bahan baku pupuk tersebut melonjak. Malah sebagian besar juga diimport.

"Yang jadi pertanyaan kami, bahan baku apa yang naik?," tanya auditor ISPO ini. 

Gulat merinci, kenaikan ini terjadi untuk harga pupuk loco gudang seperti terjadi di Riau. Contohnya, harga pupuk NPK Pelangi Pupuk Kaltim naik 72% dari Rp5.5490/kg menjadi Rp7500/kg. 

Begitupula pupuk NPK Mahkota Wilmar Wilmar naik sekitar 69% dari Rp5.400/kg menjadi Rp7790/kg. Sementara, pupuk berkontribusi 55-60% bagi komponen biaya produksi petani. 

"Kalau terus naik,  petani akan bangkrut. Walaupun, harga TBS sawit sedang tinggi," bebernya.

Tak hanya itu, laporan dari petani Sumut, harga pupuk NPK naik menjadi Rp11.000/kg. Di Mukomuko, Bengkulu, harga KCL semula tertinggi Rp 280 ribu/sak, sekarang sudah mencapai Rp 490 ribu/sak dan pupuk  urea sudah mencapai Rp 390 ribu/sak.

Kemudian di Kalimantan Selatan, harga pupuk NPK formula 15-15-15 juga naik antara Rp7.500-Rp8.500/kg. "Kenaikan harga pupuk tentunya meningkatkan biaya Produksi (HPP). Dan biaya pemupukan ini diperkebunan Kelapa Sawit menyerap 60% dari total rata-rata Biaya Produksi. Berat memang," tandasnya.

Editor: Sany Panjaitan