Siku Kata 

Awan Bijaksana

  • Reporter Aziz
  • 07 Agustus 2021
Awan Bijaksana
Sketsa samar kehidupan manusia. foto: net

Jahit dan jalinlah cerita demi cerita: maka lahirlah pemimpin besar Amerika abad ini: Barack Obama. Sedari kecil, diasuh ibu (seorang antropolog, Stanley Ann Dunham) yang mengerti akan pentingnya cerita dan berkisah dari tangkai ke tandan, hingga lebat dan meranum. 

Bersudut subuh, Obama kecil di Menteng Jakarta telah diasak sejumlah cerita, hikayat oleh sang Bunda lewat radio dan pengkisahan gelombang (media) elektronik lainnya. 

Obama mengakui, hasil dari rajut cerita yang berjalin-jalin itulah yang membuat dirinya didesak untuk mendaki arasy kehidupan yang tinggi dan bermakna bagi dunia dan umat manusia. Terlebih dari semua itu: membentuk diri lebih bijaksana.

Para humanis memikat dunia; Dalai Lama, Nelson Mandela, Ghandi (dan sederet nama lagi) meneguhkan diri sebagai abdi bagi kemanusiaan. Jauh sebelum itu, nama besar Uwaisy al Qarni, dikerumuni oleh lipatan-lipatan kisah mengenai pengabdian ‘tanpa kuitansi’ kepada sang Bunda, juga meniupkan (ekspirasi) ilham bagi kehidupan. 

Baca juga: Perempuan Olympics

Humanisme berbeda dengan seorang humanis. Humanisme memiliki “cor doctrine” yang beku: bahwa setiap manusia diinayahkan sifat yang baik semata. Jika ada keburukan, maka keburukan itu berasal dari luar diri. 

Sang humanis, malah melihat bahwa kebaikan dan keburukan ada dalam setiap diri insan. Untuk itu, kelolalah dengan benar dan cermat inayah ini. 

Di belahan Timur, saya pernah mendalami Psikologi Oriental dengan tekanan pada sosok ulung dalam tradisi Oriental Wisdom; ya Morita. Lanjutannya? Dikemas dalam kebatan “psikiatri modern” dengan sapaan “Morita Teraphy”. Sebuah gaya terapi bersandar pada tiang agung kebijaksanaan Zen.

Selongsong kehidupan manusia diawali dengan sentimen keperkasaan individu. Inilah tahap berburu; pada tahap ini manusia didesak untuk mengumpul makanan sebanyak mungkin demi bertahan hidup. Siapa yang kuat, macho, tangkas, cergas, dialah penguasa medan laga perburuan. 

Simbol-simbol machoism melekat kepada sejumlah kecil individu yang mampu menakluk medan banal, binal dan liar sekaligus memberi daya hidup bagi kelompok atau komunitasnya. Kesannya? Individualistik, walau bisa berbagi lewat hibah sosial dalam model pemencaran kesejahteraan gaya ‘bejana berhubungan’. Hidup dalam tekanan demi tekanan… (namun berbahagia)

Selongsong berikutnya, disemai dalam era agrikultur, bertani: Tumpuannya adalah tanah atau lahan. Setiap orang berupaya menakluk lahan dan bermukim (bertempat tinggal), tidak lagi menjadi kaum nomade sebagaimana era berburu. 

Tuhan juga dihadir dalam selera ‘tuhan agrikultur’; persembahan kepada Yang Maha Tinggi, dimajeliskan dalam bentuk hasil panen termulia dan terwangi harumannya (aroma). Kehidupan sosial, amat berbahagia…

Kedua jenis selonsong tadi, ditamatkan oleh era industri pada abad ke-18. Di sini, yang berperan adalah segala jenis “kekuatan pengganti” (mesin uap, mesin pintal, roda, gerigi). Orang-orang lemah dan pemalas akan terpental dari permainan industrialis ini.

Akar kemanusiaan tercerabut (sebagai fondasi), ditandai ketiadaan “keharmonisan sosial” (social harmony). Diperparah lagi dengan kehadiran abad informasi, yang setiap orang diarak untuk berpacu dalam gelembung-gelembung “imajinal” tentang kemajuan, progresivitas dan ultra modern. 

Setiap orang dipintas oleh peristiwa “mengkota” (menjadi serba kota). Kampung dan nilai kampung dilempar ke sudut peradaban ledah. 

Abad ini mendorong orang menjadi ‘insan kusut’; kehilangan garis start (tampan), sekaligus kekaburan garis finish (tamat) dalam sebuah perjalanan melelahkan.

Tekanan-tekanan hidup yang demikian tinggi, kerumunan jejaring (karena internet adalah sebuah keniscayaan); menjungkal mereka yang kukuh berdiri dengan ideologi kaku dan beku, sekaligus mengukuhkan kehidupan para selebritas narsisme modern dalam hentakan-hentakan ingin jadi serba nomor satu (dalam hal perolehan informasi, menebar informasi, menelaah info, menangkap info dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai materialis). 

Mereka yang punya pabrik dan bekerja di sebuah pabrik, penghasilannya lebih rendah dengan mereka yang mempromosi produk dengan sejumlah detail suku cadang melalui media-media narsis itu pula. Tahap ini, orang kian menjadi kaya, pemupukan harta berlimpah, namun tak pernah bahagia.

Charles Fourier berujar lunak; “We want to build a world where everyone should be happy” (kami ingin membangun sebuah dunia, yang setiap insan merasa bahagia). Wah, impian muluk? Ohhh tidak sama sekali. Inilah impian yang tengah disusun manusia ultra modern.

Lampiasannya? Berkacalah pada kebeningan figur humanis layaknya Milarepa, Buddha, Ghandi, Rumi, Lao Tze, Nasruddin Hoja (Hoxha, Khwaje) dan lainnya. Figur-figur agung ini menghidang dan merangkai kisah, cerita tentang kebijaksaan. Inilah yang disapa sebagai model terapi yang dirindu-rindui (folklore teraphy atau pun biblio-teraphy). 

Bacaan-bacaan yang menghidang cerita, kayat, hikayat, tak saja mencerah, meniup ekspirasi, namun juga menabur serum-serum kuratif (penyembuhan) kepada makhluk ultra modern yang terperangkap oleh kerumunan kemajuan yang diciptakannya sendiri. Saat inilah terapi kebijaksanaan itu “merecup” hebat… demi membunuh ego narsis berbalut modernitas.

Narsisme seorang pastor di puncak atap sebuah gereja, kala banjir bandang menerpa sebuah kota Eropa. Sang pastor memanjat atap terpuncak demi mengelak banjir dan berdoa kepada Tuhan agar Tuhan datang menyelamatkannya. 

Seorang sukarelawan menghampiri dengan perahu karet, dia tolak. Sejumlah orang datang ingin membantu, dia tolak jua. Sejurus kemudian datang helicopter SAR ingin memberi bantuan, pun ditolak. Selang beberapa waktu, pastor ini mati, ji’un. 

Di alam keabadian, dia menuntut Tuhan dan berkata: “Aku telah berdoa …., namun Engkau tiada jua datang”. Tuhan berujar: “Duhaiii hamba Ku nan bahlul bin bungol, Aku telah mengutus seseorang dengan perahu karet, Aku telah mengirim sebuah helicopter, semua kau hiraukan. Apa lagi yang mesti Ku lakukan?”

Haiyyyyaaa… Mulai saat ini, kumpul dan jahitlah sejumlah cerita. Ha ha ha…


 

Editor: Abdul Aziz