Penurunan produksi ini kata Global Research analyst, Thomas Mielke, sangat mempengaruhi pasar global.  Terlebih, konsumsi dunia juga terus meningkat. Penyebabnya itu tadi, Indonesia adalah produsen  terbesar. 

Walau mengalami penurunan, industri sawit Indonesia tahun ini kata Mielke masih tetap mendominasi pasar minyak nabati global. Menguasai 32% produksi minyak nabati dan 53% ekspor di pasar global.

Analyst Glenauk econimics, Julian Conway Mcgill menyebut, program mandatori biodiesel dan moratorium perizinan kebun sawit oleh pemerintah Indonesia, lebih berdampak terhadap produksi ketimbang isu El Nino.

Nah, lantaran kondisi tadi, Mielke dan Director Godrej Internasional ltd, Dorab mistri sepakat kalau selain faktor supply kelapa sawit Indonesia di pasar yang menurun, kebijakan bioenergi dan sustainable Aviation fuel (SAF) di sejumlah negara turut memepengaruhi harga pasar di tahun ini. 

Apalagi sampai sekarang, belum kelihatan potensi peningkatan produksi minyak nabati lain dengan kuantitas total yang setara.

Dalam konferensi ke-6 itu, eskalasi geopolitik global disebut juga menjadi faktor yang memengaruhi ketidakpastian harga minya nabati global di tahun 2024. 

Belum selesainya eskalasi di laut hitam, dampak memanasnya laut merah musti diantidipasi terhadap supply dan ketersediaan akses logistik.