Siku Kata 

Bencana Ceria

  • Reporter Aziz
  • 15 Agustus 2021
Bencana Ceria
Anak-anak sedang bermain hujan. foto: gambar.pro

Kanak-kanak berenang di laman rumah. Mereka beterjunan ke sungai. Banjir? Ini area lara, duka dan nestapa bagi orang dewasa. Tidak bagi kanak-kanak; banjir adalah playground, laman bermain, wadah bersenginjak, lecutan penglipur-lara, mekar kuncup mengembang. 

Hujan yang turun dari langit adalah persetubuhan alam kepada bumi. Sekian lama bumi kerontang, tiada kehidupan, seakan terinterupsi. 

Kala bumi disetubuhi langit dalam apitan hujan, menusuk rahim bumi, maka segala kehidupan pun menyeruak, merecup dan merimbun. 

Musim penghujan itu datang dan jatuh di bulan-bulan yang kian dekat. Bulan-bulan romantis, karena berada di ujung semenanjung tahun, jazirah waktu.

Baca juga: Awan Bijaksana

September-Desember dalam setiap zaman memproduk lagu dan nyanyiannya sendiri. Desember menjadi penanda beragam deraan dan bencana di tanah ini. 

Dulu, 17 tahun silam, negeri di ujung jazirah Sumatera dilanda tsunami maha dahsyat. Pulau ini seakan berhenti “kerja”, lalu menjalani fase-fase ‘kerja bayangan’ (shadow work) lewat sejumlah produksi bencana yang diundang maupun bencana yang datang secara alami. 

Bencana, di satu sisi adalah bagian dari upaya ‘self-mechanism’ alami yang diperlukan bumi untuk memasuki fase penyeimbangan (equilibrium)

Saban bencana, lahir sejumlah keceriaan, terutama bagi kanak-kanak, apatah lagi bagi partai politik yang mengintip dan menggulai bencana menjadi panggung “pertandingan” kesalehan dan kebajikan, lewat bantuan “makanan segera” (instant foods); mie instan, kue kering, juga selimut. 

Apatah lagi jelang tahun politik, bencana alam seperti banjir menjadi berkah dan amat dinanti oleh para badut politik. 

Dalam bencana ada dulangan suara untuk sebuah kemenangan semu. Mesin politik pun berputar kencang di atas panggung bencana. Tak terkecuali masa pandemik yang melelahkan ini.
 
Kanak-kanak berendam sedagu. Berhanyut dalam keriangan. Bagi orang dewasa adalah keraguan tak 
bertepi: Ada keliaran dalam air bah, ada terjangan dalam arus mengganas. 

Baca juga: Imago Dei: Mencinta

Banjir bukanlah keriangan, tapi bencana yang harus dihindar. Seberat apapun bencana yang dihadapi, ubahlah dia menjadi kencana di mata hati. Relasikanlah segala ihwal yang menakut dan memuakkan menjadi rembulan di ladang sukma. 

Maka, kanak-kanak pun beterjunan riang dan menyelam dari hari ke hari dan dari minggu ke minggu. 

Kita tak bisa menepis hujan. Dia datang membawa hikmah dan berkah bagi sekalian makhluk. Dia harus disambut dengan bahagia. Bahwa ibu kita bernama bumi tengah menjalani persetubuhan alami. 

Kita bakal menjadi cerdas mengeja daun-daun, reranting, cecabang dan pepohonan. Kita bakal petah dalam ihwal imla nama-nama haiwan yang ceria dan jenaka saban hari bercengkerama di laman rumah, di kebun, di ladang dan parak. Semuanya tersebab hujan yang mendenyutkan kembali segala perkakas untuk diimla dan dieja.

Ketika banjir, jangan mengadu. Hentikan hasrat adu-aduan itu ke pemerintah. Nikmati saja. Sebab, kita sudah puas mengadu di musim kering nan berasap. Hasilnya? Tetap saja asap (jerebu) datang berkunjung ke negeri ini dalam geram dan seringai berparas serigala. 

Kita telah terperangkap pada kenyataan dua musim itu. Maka, belajarlah dari kanak-kanak yang penuh ceria. 

Bagi mereka, kehidupan itu adalah medan permainan. Beradu, berlaga atau pun berantuk, tetap terhubung sebagai medan permainan. Bukan jenayah, bukan pula sesuatu yang mustahil dan niskala. 

Setelah lebih satu dekade dikepung asap, maka jalani selonsong hidup yang menggembira dan serba ceria. Jauhi heboh serba narsis yang menyembur gelak tawa dalam pawai kehidupan semu, lalu 
dijembar ke media massa dan media sosial: Mengumbar aib, malu dan maksiat di depan kanak-kanak yang tak berhasrat.

Berendam air sedagu bagi kanak-kanak, festival yang dinanti. Sebuah permainan bayangan yang diimpikan saban tahun. Sebab, sosialisasi “permainan bayangan” (shadow playing) ini telah berlangsung apik lewat penceritaan sesama mereka, baik garis ke samping (teman sebaya), maupun garis lurus ke bawah, kepada adik-adik yang lebih muda. 

Dari tahun ke tahun penceritaan tentang “permainan bayangan” yang bakal datang dan hadir, kerap mengambil panggung di penghujung tahun. Berantai dan romantis. 

Bencana bagi orang dewasa, dunia gurauan dan canda bagi kanak-kanak. Logika alam seakan seturut dengan logika kanak-kanak. Banyak deraian cerita dan kayat yang berkisah tentang alam kanak-kanak dan “kanak-kanak alam” yang bergumul dalam kaidah spiritual, tak terengkuh akal sehat orang dewasa. 

Sebuah kisah, seorang anak berusia tiga tahun memiliki adik berusia dua bulan. Saban hari dia menatap wajah dan menciuminya. Dia menatap si adik bak sri gunung, sayang, lembut kepada sang adik yang terlentang bak papan catur itu; tak bisa bicara, hanya reaksi-reaksi natural dan instinktif spontan menggemas. Adik comel nan lucu. 

Suatu hari si abang (usia 3 tahun) ini bermohon kepada Ibu dan Ayahnya, agar meninggalkan mereka berdua saja di dalam kamar. 

Permintaan ini tak dikabul. Maklum, anak seusia itu belum tentu tingkah polah dan perlakuannya terhadap sang adik ketika ditinggalkan. Tau-tau usil dan mencekik sang adik. Begitu kira-kira alasan orang tua mereka.

Selang beberapa hari, si abang masih mengajukan permohonan yang sama; “mohon tinggalkan kami 
berdua saja di kamar ini dalam beberapa jam”. 
Begitu seterusnya... dan sampailah permintaan kali yang ke lima. Kali ini kedua orang tuanya mengabulkan permintaan itu. Tak ayal Ayah dan Ibu, penuh waspada untuk meninggalkan sang bayi. 

Alat perekam percakapan pun dipasang di sudut plafon kamar untuk sekedar merekam jenis dan wacana percakapan selama dua makhluk ini ditinggalkan. 

Selang beberapa jam, Ayah dan Ibu ini pun pulang ke rumah. Betapa terkejut mereka mendengar hasil rekaman percakapan si abang kepada adik bayi itu: “Dik dik.. dik... ceritakan kepada abang tentang Tuhan. Abang sudah lupa. Abang sudah lupa bayangan Tuhan, ketika abang sudah pandai berbicara”. 

Usia tua? Cerialah dengan cara tua. Tak perlu meminjam semangat para muda apatah lagi belia. 

Tempatilah ruang mengikuti alam, menuruti adat-resamnya, melunjuri hukumnya. Belajar kepada kanak-kanak, bukanlah sebuah aib dan tabu. Negeri ini sudah penuh dengan segala coreng moreng ke-aib-an, tak pernah melahirkan ke-ajaib-an. 

Orang-orang dengan bangga mempertontonkan aib orang lain dan aib diri sendiri. Malah lebih selekeh, ketika aib diri dieksploitasi untuk dan demi kepentingan kapitalisasi. 

Ceria September bukan kisah ceria dalam ihwal mengumbar aib dan rasa malu. Dua ihwal ini adalah wilayah domestik yang harus disimpan dalam -dalam, dipendam dan dieram dalam diam. Karena aib diri berdampak terhadap keluarga dan suku. 

Tak semata diri mu. Tapi menyeret-nyeret sejumlah kehadiran yang tak semestinya diabsensi saban 
pagi. 

Maka, berhentilah meringis dan menyeringai dalam perih. Perah perih itu jadi madu. Di sebuah negeri yang tak bertebu.


 

Editor: Abdul Aziz