Siku Kata 

Bola Magic

Bola Magic
Ilustrasi. foto: net

Sekujur bola, sihir bergulung. Melampaui bola, sihir berkelebat. Ya, di kampung-kampung lecah dan becek di negeri tropis. Begitu nikmat mereka memetik dan memanen bola pada sebuah musim kompetisi.

Sihir bersilang-silang di lelangit kampung kecil. Saban tanding, ada saja kisah lengan patah, kaki patah, engsel beralih, engkel beringsut. Malah terjadi pengaturan score secara gaib lewat cuca-cuca, mantera dan black magic

Melampaui itu semua, ada kisah di sebuah kampung nan tenang tapi kuyub. Mereka hidup rukun dalam model ‘guyub’ satu suku, namun beda kawasan administrasi. Pertandingan itu, melibatkan sejumlah desakan alam yang memihak dan tak memihak.

Apa yang memihak dan apa yang tak memihak? Dua pasukan (kesebelasan) berkejaran dan berlompatan saling serbu dan bertahan, mengikut liuk dan kaidah yang mereka dapat dari tontonan bintang-bintang Liga Eropa dan Copa America. Ya, melalui saluran TV. Tapi itu hanya sesekali. 

Mereka lebih lincah dengan kaidah ‘perang suku’ atau malah ‘menyelesaikan pertikaian’ dalam gaya serba senyap dan isolatif. 

Baca juga: Bola Suci

Tiba-tiba, belahan garis lapangan rumput tempat mereka saling kejar itu mengalami ‘bencana alam’ di pihak lawan saja. 

Dalam bentuk? Ya, guyuran hujan nan lebat dan deras. Sedangkan lapangan pihak sebelah (sebagai tuan rumah/home), terang benderang, setitik pun tiada hujan. 

Tak sekedar hujan, awan gelap di satu sisi lapangan, ribut petir dalam sahutan angin kencang menyerbu lapangan lawan (pemain tandang/away).

Gol pun berjujai bak terjunan bom tanpa henti. Alhasil? Score pertandingan 10:0 bagi kemenangan pihak tuan rumah. Berkat alam yang mengalami rekonstruksi dan rekayasa kuasa gaib (dalam senyap, isolatif dan terfragmentasi). Mungkin di Kampung Ampalu Sijunjung? Mungkin saja.

Ihwal setara, juga berlangsung di kampung kecil tepian Selat Melaka. Ya kampung Burukbakul. Juga pada sebuah zaman, sebelum segala “gadget magic” menggelinding.

Dalam satu pertandingan (hanya melawan) sekumpulan anak-anak Pramuka tingkat Sekolah Menengah, tuan rumah itu memasang cadangan kuasa gaib bak berdepan dengan kekuatan pasukan Romawi yang menyerbu Falestine era Pontius Pilatus berkuasa di Romawi Timur.

Derai pertandingan ini menyisa kisah anak-anak Pramuka yang mengalami patah kaki dan lengan sebanyak 3 (tiga) orang. Mereka menelan kekalahan. 

Skuad “penolong” ini (Pramuka) seakan tak hanya kehilangan muka, tapi kehilangan kelincahan kaki dan lengan.

Yang mereka hadapi adalah sejumlah pemain berotot kawat dan berurat rotan. Kawat dan rotan hasil dari konstruksi cadangan tirai lapis kedua (magic).

“Seorang wanita tidak akan mencari sosok lelaki tampan, tetapi dia akan mencari lelaki yang menyimpan perempuan cantik”, ujar Milan Kundera. Perempuan cantik itu menyimpan ‘magic”. Karena dia punya kekuatan ekstra untuk menawan (hati) sang lelaki. 

Dalam kilasan pertandingan bola (sejatinya hanya sebuah permainan); magic diposisikan sebagai gudang senjata (arsenal) yang sekali-sekali boleh digunakan untuk menyembur ‘musuh’ atau sesuatu yang berada di luar ‘tubuh’ kita. 

Sebab, manusia dalam fenomenologi Marleau-Ponty tidaklah berada dalam ruang, akan tetapi tubuh kita itu sendiri adalah ruang.

Manusia yang memiliki tubuh bermakna berada dalam dunia tertentu. Dunia tertentu ini sebagai ‘dividu’ yang pembawaannya bisa dibelah (bukan in-dividu; yang tak bisa dibelah, dipecah, dipisah-pisah dan dipilah). 

Ketika sesuatu bisa dibelah, dipilah dan dipisah, magic pun berfungsi dan menari-nari girang. Magic dalam status (kadar) energi rendah, akan mengepung dan mengandang sesuatu yang menjadi sasarannya, yang telah mengalami penurunan energi, yaitu sosok tubuh-tubuh yang sebelumnya berstatus energi tinggi, turun menyesuaikan diri dengan frekuensi energi rendah. 

Energi yang sama frekuensinyalah yang mampu membangun komunikasi aktif-negatif.

Magic dalam status kembaran “perempuan cantik” itu, beroperasi dengan gaya mengisolasi sasarannya, dikucil dalam bidang ruang tubuhnya sendiri, lalu diajak berbincang dan berkomunikasi, diberi mainan mengasyikkan dalam ‘bilah dunia’ sebelah sana. 

Sebuah permainan serba lemak, kesibukan yang tak mentertawai diri sendiri, dia menggelung diri bak dunia trenggiling. Istana indah dalam gulungan terbatas. Sejatinya, di luar ‘tubuh’ terjadi perserakan realitas (patah, kalah, geser, ingsut, durjana, degradatif).

Magic hanya berlangsung cergas ketika kondisi-kondisi sosial belum terbentuk. Alias, pribadi, sosok personal ditarik mendahului kondisi-kondisi sosial. Diajak membangun persemendaan yang terisolasi dan fragmentatif. 

Maka, secara bercanda Sigmund Freud sekali lagi berujar bahwa “masyarakat didirikan di atas setumpuk kejahatan awam (umum)”.

Tumpukan kejahatan itu datang bertubi-tubi demi menghapus kesan kejahatan sebelumnya, maka terlahirlah lupa dan kelupaan yang membunuh sejarah peradaban. 

Magic pun datang silih berganti dan bersalin rupa. Tak semata dalam maujud senyap dan isolatif, menyendiri dan fragmentatif, lalu dia dijadikan semacam arsenal bagi ‘orang-orang lemah’ (weapon of the weak).

Mengkirau, sebuah nama kampung yang menggerunkan pada sebuah masa. Ya, masih dalam ranah pertandingan bola dan magic sekitaran bola dalam mitos manusia tropika.

Jangan coba-coba mendekati garis sekitar tiang gawang. Pemain akan diserbu kegelapan dan kebutaan temporer. Hanya legam-gelap area sekitaran gawang. Bola melesat dalam ‘gaya tenggelam bubu’, tanpa ada akhir menyudah dalam sorak-sorai kemenangan. 

Dan, Mengkirau menghulukan cerita magic pangkal tiang gawang baik selaku pemain ‘tuan kandang’(home) juga sekaligus ‘tandang’ (away)

Magic yang telah mengalami isolasi itu, bisa ditenteng ke mana pergi (portable). Ya, sejenis barang tentengan bak rantang bekalan makanan ketika riyadah dan bersenang-senang menikmati matahari tralala dan trilili...

Selejang tralala-trilili itu, bersilang siulan dan suitan... lalu kita terkenang Voodoo di Benin (Afrika), juga di Haiti dan sekotah wilayah Karibia...



 

Editor: Abdul Aziz